Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Di Balik Asap Pembakaran Sampah, Ada Masalah Sosial yang Tak Sederhana

Kompas.com, 6 Februari 2026, 18:08 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Setiap sore menjelang Maghrib, asap tipis kerap membubung dari sudut-sudut permukiman. Bagi sebagian orang, itu hanyalah sisa aktivitas membersihkan halaman.

Namun di balik kepulan asap pembakaran sampah, tersimpan persoalan lingkungan, kesehatan, dan sosial yang jauh lebih kompleks dan tak bisa diselesaikan dengan satu solusi instan.

Darurat sampah yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia mencerminkan ketimpangan antara pertumbuhan populasi dan intensitas konsumsi dengan kapasitas infrastruktur pengelolaan sampah.

Baca juga: Enggan Jadi Tempat Pembuangan Sampah, Malaysia Larang Impor Limbah Elektronik

Di tingkat rumah tangga, peningkatan penggunaan plastik sekali pakai menjadi wajah baru krisis ini. Plastik yang sulit terurai itu kerap berakhir di tungku pembakaran, menambah beban pencemaran udara di kawasan permukiman.

Tenaga Ahli Antropologi program FIREFLIES dari Universitas Indonesia, Sofyan Ansori, mengatakan perilaku membakar sampah tidak bisa dilepaskan dari konstruksi sosial yang sudah terbentuk sejak lama.

“Dulu, waktu saya tinggal di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, membakar sampah justru dianggap sebagai tanda kerajinan dan kepedulian lingkungan,” ujar Sofyan di Jakarta, Rabu (4/2/2026). Menurutnya, pada masa itu, warga yang rajin menyapu dan membakar sampah sebelum berangkat shalat Maghrib dipersepsikan sebagai warga yang bertanggung jawab.

Perubahan makna

Namun seiring berubahnya jenis sampah, dari organik menjadi plastik dan bahan sintetis, makna sosial dari pembakaran sampah ikut bergeser. Kini, praktik tersebut semakin dipandang sebagai sumber pencemaran.

Meski demikian, sebagian masyarakat masih mempertahankannya sebagai bentuk “kepedulian” terhadap kebersihan lingkungan sekitar.

Sofyan menekankan, upaya mengubah perilaku ini harus berangkat dari konteks lokal. Di Srengseng Sawah, misalnya, kondisi topografi berbukit dan jalan yang menyerupai labirin menyulitkan akses pengangkutan sampah.

Baca juga: Persoalan Sampah di Jakarta Tak Selesai Hanya dengan RDF Rorotan

Armada terbatas, pengelolaan tidak merata, serta persoalan iuran sampah yang kerap memicu konflik antarwarga menjadi faktor pemicu pembakaran.

“Dalam riset kami, ditemukan lebih dari 10 titik pembakaran sampah aktif. Itu bukan semata karena warga bandel, tapi karena sistemnya memang tidak mendukung,” kata Sofyan.

Beragam alasan

Penelitian di Jakarta, Depok, dan sejumlah daerah lain menunjukkan alasan warga membakar sampah relatif seragam: menjaga kebersihan, menghilangkan sampah yang sulit terurai, dan kondisi tempat penampungan yang penuh.

Bahkan di kawasan perumahan klaster dengan iuran sampah tinggi, kesadaran lingkungan tidak selalu lebih baik.

Ada pula dimensi emosional dan sensorial yang kerap luput dibahas. Bau menyengat, pandangan yang terganggu, hingga rasa jengkel terhadap perilaku tetangga memicu tindakan membakar sampah.

Frustrasi sosial ini kadang diekspresikan melalui pesan-pesan bernada moral, bahkan religius, yang dipasang di sekitar lokasi pembuangan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau