Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Persoalan Sampah di Jakarta Tak Selesai Hanya dengan RDF Rorotan

Kompas.com, 4 Februari 2026, 14:05 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - RDF Rorotan di Jakarta Utara dinilai tak bisa berdiri sendiri dalam mengatasi masalah sampah Jakarta. Adapun RDF merujuk pada fasilitas pengolahan sampah terpadu (TPST) untuk diubah menjadi bahan bakar alternatif, refuse derived fuel (RDF).

Masalah sampah di Jakarta disebut tidak akan dapat tuntas hanya dengan mengandalkan teknologi RDF.

Baca juga:

"Enggak 100 persen hilang. Ada residunya, ada baunya, makanya, itu solusi yang 'lompat'," ujar juru kampanye isu plastik dan perkotaan Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar kepada Kompas.com, Senin (2/2/2026).

RDF Rorotan dan tata kelola sampah di Jakarta

RDF Rorotan dinilai bukan solusi masalah sampah Jakarta. Teknologi ini dinilai lompat tahap dan menimbulkan bau menyengat.Sumber: Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta RDF Rorotan dinilai bukan solusi masalah sampah Jakarta. Teknologi ini dinilai lompat tahap dan menimbulkan bau menyengat.

Menurut Ibar, teknologi RDF membutuhkan sampah dalam kondisi kering dan sudah terpilah. Sementara itu, sampah di Jakarta tercampur aduk antara organik dan anorganik, dengan diperparah hujan semakin sering akibat cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim.

Dengan kondisi demikian, pengelolaan sampah melalui fasilitas RDF memerlukan tenaga ekstra dan bekerja dua kali. 

Kondisi tersebut mengingat, jika sampah sudah tercampur aduk di tempat pemrosesan akhir (TPA), Pemprov DKI Jakarta terpaksa bekerja secara ekstra dua kali lipat untuk memilahnya, sebelum dimasukkan ke fasilitas RDF.

Pemprov DKI Jakarta dianjurkan memperbaiki tata kelola persampahan terlebih dahulu dengan membangun infrastruktur pemilahan untuk tahap awal.

Dalam membangun infrastruktur pemilahan sampah, perlu pelibatan partisipasi masyarakat dan tanggung jawab produsen yang diperluas (extended producer responsibility/EPR).

Ibar menambahkan, perlu pula penguatan partisipasi pemulung sebagai infrastruktur informal dalam pemilahan sampah, sekaligus kelompok paling terdampak adanya teknologi RDF.

"Masalah ini sangat kompleks dan kalau dari hulunya tidak ada pemilahan, tidak ada pengurangan, sama aja sebenarnya RDF Rorotan juga tidak akan mampu menyelesaikan persoalan sampah di DKI Jakarta.

Menurutnya, pemilihan teknologi RDF atau pemerintah itu ya, itu mengejar pasokan, harus berapa ton sehari gitu kan, terus yang masuk berapa, yang keluar berapa, baru nanti harus melihat siapa yang off-taker-nya, siapa yang beli.

Artinya, masih bagaimana memenuhi pasokannya sehingga tidak akan mengurangi sampah-sampah yang ada.

Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk meminimalisasi masalah sampah.

Misalnya, pelarangan plastik sekali pakai untuk retail. Atau, pelarangan produksi, distribusi, dan penjualan air minum dalam kemasan (AMDK) plastik di bawah satu liter, seperti di Bali.

"Sebenarnya, permasalahan sampah lebih ke lintas sektor. Jangan sampai masalah sampahnya hanya bebannya di pemerintah daerah (Pemda) atau KLH (Kementerian Lingkungan Hidup)," ucapnya.

Baca juga:

Harus melibatkan kementerian/lembaga lain

RDF Rorotan dinilai bukan solusi masalah sampah Jakarta. Teknologi ini dinilai lompat tahap dan menimbulkan bau menyengat.Dok.DLH DKI JAKARTA RDF Rorotan dinilai bukan solusi masalah sampah Jakarta. Teknologi ini dinilai lompat tahap dan menimbulkan bau menyengat.

Untuk mengatasi permasalahan persampahan di Jakarta, kata dia, harus melibatkan kementerian/lembaga lain, di antaranya Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Sebagai contoh, Kemenperin membantu permasalahan persampahan dengan mendorong pelaku usaha bertanggung jawab atas produk mereka melalui skema EPR.

"Sebenarnya (permasalahan persampahan) ini sangat sistematis banget. Jangan sampai pemda (pemerintah daerah) kita memilih berbagai macam teknologi yang mahal, tapi secara sistematis, sistemnya masih belum support ke sana. Nah, ini jadi masalah juga ke depannya," ucapnya.

Pembangunan RDF Rorotan disebut menghabiskan anggaran sangat besar, termasuk beban tambahan dari penanganan efek sampingnya. Misalnya, pemasangan alat penetral bau tak sedap (deodorizer), yang dinilai  belum sepenuhnya meredam efek sampingnya.

Bau menyengat masih sering menguar ke permukiman sekitar RDF Rorotan dan menyulut protes warga yang mengeluhkan gangguan atas aktivitas sehari-hari mereka.

Ibar mendesak Pemprov DKI Jakarta membuka data pengelolaan RDF secara transparan akar penyebab bau menyengat berulang, dampak deodorizer, sampai berapa emisi yang dihasilkan.

Jika terus diabaikan, terkesan "mengorbankan" warga yang sudah tinggal di situ lebih dulu daripada pembangunan RDF.

"Mereka enggak mungkin pindah kan. Ya, tinggal bagaimana tanggung jawab si operator, pemerintah provinsi untuk mengatasi hal tersebut," ujar Ibar.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau