“Spanduknya bukan sekadar larangan, tapi sudah menyentuh aspek dosa dan etika. Itu menunjukkan betapa kuatnya emosi dalam persoalan sampah,” ujar Sofyan.
Situasi ini menunjukkan bahwa kebijakan dan teknologi saja tidak cukup. Dibutuhkan keterlibatan aktif warga, pendekatan berbasis konteks lokal, serta sistem pendukung yang memungkinkan perubahan perilaku berlangsung berkelanjutan.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Dietplastik Indonesia dengan dukungan Yayasan Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB) meluncurkan program FIREFLIES (Fostering Innovation, Research, and Engagement for Fire-Free Living through Inclusive Education and Solutions).
Program ini bertujuan membangun sistem pengawasan dan pelaporan berbasis warga, memperkuat kapasitas pengelolaan sampah dari sumbernya, serta mendorong perubahan norma sosial menuju praktik hidup tanpa pembakaran sampah.
Dari sisi kesehatan, Tenaga Ahli Kesehatan Lingkungan FIREFLIES dari Universitas Indonesia, Budi Haryanto, mengingatkan bahwa dampak pembakaran sampah tidak berhenti pada iritasi ringan.
“Partikel polusi dari pembakaran sampah bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, paru-paru, kulit, darah, hingga tulang. Jika dibiarkan, polusi udara menjadi silent killer,” kata Budi.
Baca juga: RDF Rorotan, Pakar Sarankan Tata Kelola Pemilahan Sampah Diperbaiki
Ia menekankan pengelolaan sampah yang tepat berperan langsung dalam menurunkan risiko penyakit akibat polusi udara.
Dari perspektif iklim, Tenaga Ahli Kualitas Udara FIREFLIES dari Institut Teknologi Nasional Bandung, Didin Agustian Permadi, menyoroti peran pembakaran sampah dalam meningkatkan emisi super pollutants seperti black carbon.
“Pembakaran sampah di permukiman meningkatkan PM2,5 yang berdampak langsung pada kesehatan dan pemanasan global. Jika sumber emisi ini bisa ditekan, kualitas udara dan iklim bisa membaik secara signifikan,” ujar Didin.
Pada akhirnya, cerita tentang pembakaran sampah bukan hanya soal asap dan bau. Ia adalah potret hubungan manusia dengan lingkungannya, tentang sistem yang timpang, emosi yang terpendam, dan kebutuhan akan solusi yang berpihak pada realitas sehari-hari warga.
Mengubahnya bukan perkara mudah, tetapi seperti api kecil yang padam, perubahan bisa dimulai dari lingkungan terdekat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya