KOMPAS.com – Sebuah studi mengungkapkan lebih dari 7.000 penguin Magellan dewasa (Spheniscus magellanicus) mati akibat serangan puma (Puma concolor) di sepanjang pantai Patagonia, Argentina, selama periode 2007–2010.
Temuan ini berasal dari penelitian di Taman Nasional Monte León, salah satu koloni penguin terbesar di kawasan tersebut.
Jumlah penguin yang terbunuh itu setara dengan sekitar 7,6 persen dari total populasi penguin dewasa di Monte León, yang diperkirakan mencapai 93.000 individu.
Menariknya, banyak bangkai penguin ditemukan hanya dimakan sebagian atau bahkan ditinggalkan utuh, menandakan bahwa tidak semua penguin dibunuh untuk kebutuhan makan.
Baca juga: Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
Penulis utama studi sekaligus mahasiswa pascasarjana di WildCRU, Universitas Oxford, Melisa Lera, menyebut fenomena ini sebagai surplus killing atau pembunuhan berlebih, yakni kondisi ketika predator membunuh mangsa lebih banyak dari yang mereka konsumsi.
“Ini mirip dengan perilaku kucing domestik ketika mangsa berlimpah atau mudah ditangkap. Predator dapat membunuh lebih banyak burung meski tidak benar-benar memakannya,” ujar Lera, dikutip dari SciTechDaily, Jumat (6/2/2026).
Penelitian ini dilakukan oleh Centro de Investigaciones de Puerto Deseado dari Universidad Nacional de la Patagonia Austral, yang telah memantau koloni penguin di Monte León sejak kawasan itu ditetapkan sebagai taman nasional pada 2004.
Tim peneliti kemudian bekerja sama dengan WildCRU Universitas Oxford untuk menganalisis dampak jangka panjang predasi puma terhadap populasi penguin. Studi tersebut diterbitkan dalam Journal for Nature Conservation pada Kamis (5/2/2026).
Hasil pemodelan populasi menunjukkan bahwa predasi puma saja tidak cukup untuk menyebabkan kepunahan koloni penguin Magellan di Monte León.
Faktor penentu utama keberlanjutan populasi justru terletak pada tingkat keberhasilan perkembangbiakan dan kelangsungan hidup penguin muda.
Skenario kepunahan baru muncul ketika tingkat kelangsungan hidup penguin muda sangat rendah, yakni sekitar 20 persen gagal mencapai usia dewasa, ditambah dengan tingkat reproduksi yang buruk, hanya satu anak per pasangan. Dalam kondisi tersebut, predasi puma yang tinggi dapat memperburuk penurunan populasi.
Penulis pendamping studi dari WildCRU, Universitas Oxford, Jorgelina Marino, mengatakan temuan ini mencerminkan tantangan konservasi yang muncul seiring pemulihan predator puncak di suatu ekosistem.
“Memahami bagaimana perubahan pola makan predator memengaruhi predator dan mangsanya sangat penting untuk merancang strategi konservasi yang tepat,” ujar Marino.
Studi ini juga menekankan pentingnya kondisi lingkungan dalam menentukan masa depan koloni penguin.
Ketersediaan pakan, kecukupan nutrisi, serta suhu lingkungan yang dipengaruhi perubahan iklim menjadi faktor krusial bagi keberhasilan reproduksi dan kelangsungan hidup penguin muda.
Baca juga: Penguin Afrika Kelaparan Massal, Ahli Khawatir Kepunahan Tinggal Menghitung Waktu
Fenomena meluasnya predator darat ke wilayah pesisir bukan hanya terjadi di Patagonia. Di berbagai belahan dunia, koloni burung laut menghadapi ancaman serupa.
Di Amerika Serikat, misalnya, babi hutan liar non-pribumi menjadi predator utama telur penyu tempayan di pantai Georgia, sementara coyote di Amerika Utara bagian timur semakin sering menghuni pulau-pulau pesisir dan mengubah keseimbangan ekosistem.
Para peneliti merekomendasikan pemantauan jangka panjang terhadap populasi penguin dan puma di Taman Nasional Monte León untuk mendeteksi lebih dini potensi penurunan populasi.
Pemantauan ini diharapkan dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi di tengah dinamika pemulihan ekosistem.
Puma mulai kembali ke sebagian wilayah jelajah historisnya di Argentina selatan sejak aktivitas peternakan sapi berakhir pada 1990-an.
Di saat yang sama, penguin Magellan yang sebelumnya bersarang di pulau-pulau lepas pantai mulai berpindah ke daratan utama ketika predator darat menghilang.
Baca juga: Konflik Sengit Penguin Afrika Berburu di Lokasi yang Sama dengan Kapal Ikan
Namun, kembalinya puma menciptakan dilema konservasi. Penguin, yang tidak memiliki mekanisme pertahanan kuat terhadap predator darat, menjadi mangsa yang rentan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar dalam konservasi: apakah perlindungan satu spesies ikonik dapat dibenarkan jika berpotensi mengancam spesies lain, terutama di ekosistem yang sedang pulih dari tekanan aktivitas manusia di masa lalu.
Kasus di Patagonia menunjukkan bahwa pemulihan predator puncak, meski penting bagi keseimbangan ekosistem, dapat membawa konsekuensi tak terduga bagi spesies mangsa yang lebih rentan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya