KOMPAS.com - Volume sampah global diproyeksikan akan meningkat lebih dari 80 persen pada tahun 2050 dibandingkan dengan tingkat tahun 2020, menurut laporan WRAP.
Lembaga amal lingkungan tersebut menyatakan bahwa upaya mengatasi masalah ini memerlukan tindakan terpadu dari pemerintah untuk beralih ke ekonomi yang lebih sirkular.
Laporan WRAP menyatakan bahwa model pertumbuhan dan konsumsi linier tradisional merupakan pendorong utama meluasnya volume sampah dan kerusakan lingkungan.
Artinya, sistem ekonomi yang saat ini memang dirancang untuk terus memproduksi barang sekali pakai yang akhirnya membuat volume sampah terus membengkak.
Melansir Edie, Jumat (6/2/2026) di seluruh negara-negara OECD, produksi sampah telah meningkat lebih dari 100 juta ton sejak tahun 2000, dan aktivitas pengelolaan sampah diperkirakan menyumbang hingga 5 persen dari emisi gas rumah kaca (GRK) global.
Negara OECD merujuk pada kelompok negara-negara maju seperti AS, negara-negara Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.
Baca juga: Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Laporan WRAP pun kemudian menyebut alih-alih hanya berfokus pada pembuangan, pendekatan ekonomi sirkular bisa menjadi opsi untuk mengatasi permasalahan sampah. Dengan sistem ini, produk pun bisa digunakan lebih lama dan sampah diminimalkan sejak dari sumbernya.
Namun WRAP menyatakan pula target Zero Waste secara absolut sangat sulit dicapai karena tidak dapat sepenuhnya menghilangkan sampah sisa. Hal ini terjadi lantara adanya batasan teknis, kesalahan manusia dalam memilah, penggunaan produk untuk keperluan medis dan keamanan, serta inefisiensi dalam proses daur ulang.
"Menghilangkan sampah sejak tahap perancangan sistem harus tetap menjadi prioritas, namun tidak akan ada sistem sirkular yang bisa 100 persen bebas sampah," kata Direktur wawasan dan inovasi WRAP, Claire Shrewsbury.
Lebih lanjut, laporan tersebut juga mengkaji bagaimana sampah yang tidak dapat didaur ulang ditempatkan dalam sistem sirkular.
“Laporan ini menunjukkan bagaimana limbah sisa dapat dikelola dengan cara yang mendukung aktivitas sirkular bernilai lebih tinggi, untuk mengurangi kerusakan lingkungan dan membantu mengekstrak nilai dari bahan yang tidak dapat didaur ulang,” tambah Shrewsbury.
Baca juga: Di Balik Asap Pembakaran Sampah, Ada Masalah Sosial yang Tak Sederhana
Laporan mengungkapkan sampah sisa yang tidak dapat didaur ulang harus dikelola dengan cara yang memulihkan nilai, seperti menghasilkan listrik dan panas dari pengolahan termal, atau menghasilkan gas dan pupuk yang bermanfaat melalui pencernaan anaerobik dan pengomposan.
Misalnya saja, abu sisa insinerator masih bisa digunakan dalam sektor konstruksi.
Tanpa pengolahan lebih lanjut, tempat pembuangan akhir tetap menjadi sumber utama dampak iklim melalui emisi metana.
Laporan menyoroti desain kebijakan sebagai faktor kunci dalam performa mengatasi permasalahan sampah. Perilaku masyarakat sangat bergantung pada bagaimana aturan pemerintah dibuat.
Contohnya yang bisa diterapkan, pemerintah mengurangi frekuensi pengambilan sampah yang tidak dipilah, tetapi mengambil sampah daur ulang setiap hari. Hasilnya, masyarakat terpaksa memilah sampah mereka agar tempat sampah mereka tidak penuh dan berbau.
Namun, jika kebijakan terlalu rumit atau justru merugikan masyarakat atau industri, orang akan kembali ke cara lama sehingga kemajuan jadi melambat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya