KOMPAS.com - Banjir menjadi pendorong terbesar polusi plastik di sungai, menurut studi dari Tokyo University of Science di Jepang.
Polusi plastik termasuk masalah lingkungan utama. Mayoritas sampah plastik berakhir di laut, dengan sungai sebagai jalur transportasi utama dari daerah perkotaan, pertanian, dan lanskap lainnya.
Baca juga:
"Sungai disebut sebagai jalur utama masuknya plastik dari daratan ke laut. Namun, peran sungai yang banjir dalam mengangkut mikroplastik dan mesoplastik (MMP) masih belum jelas," tulis peneliti, dilansir dari Science Direct, Kamis (12/2/2026).
Seiring waktu, benda-benda plastik yang lebih besar akan terurai menjadi potongan-potongan yang lebih kecil. Khususnya mikroplastik dengan ukuran kurang dari lima milimeter dan mesoplastik berukuran antara lima sampai 25 milimeter.
Partikel-partikel kecil ini dapat menyebar melalui berbagai ekosistem. Saat ini, polusi plastik memengaruhi kehidupan di laut dan ditemukan di banyak organisme hidup, termasuk manusia.
Untuk mengembangkan penanganan yang efektif, perlu upaya untuk memperkirakan secara akurat berapa banyak plastik yang terbawa sungai dan menuju ke laut.
Baca juga:
Banjir menjadi pendorong terbesar polusi plastik di sungai, menurut studi dari Tokyo University of Science di Jepang. Banyak studi sebelumnya telah mengkaji konsentrasi MMP dalam air sungai selama kondisi aliran rendah normal. Namun, sebagian besar studi tersebut mengabaikan apa yang terjadi selama banjir.
Mirip dengan sedimen tersuspensi (SS), sejumlah besar plastik diperkirakan terbawa ke laut selama kondisi aliran tinggi.
Namun, bagaimana tepatnya konsentrasi MMP bervariasi selama banjir masih belum jelas. Hanya sedikit studi yang mengkaji efek gabungan urbanisasi dan aliran tinggi.
Untuk mengatasi kesenjangan, studi yang diterbitkan jurnal Water Research ini meneliti bagaimana aliran tinggi memengaruhi konsentrasi MMP secara komprehensif.
Studi sebelumnya menunjukkan bahwa konsentrasi MMP meningkat secara signifikan di sungai yang banjir. Peningkatan itu kemungkinan akibat limpasan dari jalan perkotaan yang membawa MMP ke sungai melalui pipa saluran pembuangan dan saluran lainnya.
Banjir menjadi pendorong terbesar polusi plastik di sungai, menurut studi dari Tokyo University of Science di Jepang. "Dalam studi ini, untuk pertama kalinya di dunia, kami mengklarifikasi transportasi ini dengan mengumpulkan sampel air sungai secara langsung selama peristiwa banjir dari empat sungai di Jepang sebanyak enam kali, dan menangkap bagaimana transportasi plastik berubah seiring dengan naik dan turunnya permukaan air," ujar Asisten Profesor dari Departemen Teknik Sipil di Tokyo University of Science, Mamoru Tanaka, dilansir dari Phys.org.
Tim peneliti melakukan kampanye lapangan di empat sungai di Jepang, dengan daerah aliran sungai yang mencakup wilayah perkotaan, pertanian, dan hutan dengan kepadatan penduduk relatif tinggi.
Kampanye lapangan meliputi enam peristiwa curah hujan, dengan total curah hujan berkisar antara 8,8 hingga 117,9 milimeter.
Sampel air permukaan dikumpulkan setiap jam selama 12-25 jam, termasuk tahap naik dan turunnya aliran sungai. Selain konsentrasi MMP, studi juga mengukur kekeruhan aliran sungai.
Banjir menjadi pendorong terbesar polusi plastik di sungai, menurut studi dari Tokyo University of Science di Jepang. Hasil studi mengungkapkan bahwa konsentrasi MMP selama kondisi aliran tinggi meningkat satu hingga empat orde besaran, dibandingkan dengan kondisi aliran rendah.
Dengan menggunakan data observasi, para peneliti mengidentifikasi tren umum antara beban (L) dan debit (Q), yang dikenal sebagai hubungan LQ.
Hubungan LQ umumnya dipakai untuk memperkirakan jumlah MMP yang dibuang dari muara sungai.
Tanaka menggarisbawahi sangat sedikitnya studi yang mengkuantifikasi hubungan LQ untuk plastik.
Hubungan LQ bisa diterapkan untuk menghitung jumlah total MMP yang dikeluarkan dari muara sungai dalam setahun di bawah berbagai kondisi.
Baca juga:
Para peneliti mengidentifikasi tren yang berbeda untuk setiap sungai. Namun, mereka tidak menemukan korelasi yang jelas antara hubungan LQ spesifik sungai dan karakteristik daerah alirannya.
Analisis hubungan LQ menunjukkan bahwa transportasi plastik sangat terkonsentrasi dalam periode singkat dengan aliran tinggi.
Di satu sungai, 90 persen dari beban mesoplastik tahunan diangkut hanya selama 43 hari dalam setahun. Hal ini berarti, mengabaikan kondisi aliran tinggi dapat menyebabkan perkiraan sangat rendah tentang berapa banyak plastik yang dibawa sungai ke laut.
"Temuan ini menawarkan wawasan berharga untuk memahami transportasi puing-puing plastik di sungai selama banjir. Siapa pun dapat dengan mudah memperkirakan volume sampah plastik mereka sehingga dapat memvisualisasikan beban pada sungai secara numerik. Temuan ini akan memainkan peran utama dalam mendidik masyarakat tentang lingkungan," tutur Profesor Yasuo Nihei.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya