KOMPAS.com - FinDev Canada, lembaga pembiayaan pembangunan bilateral asal Kanada, menyalurkan pinjaman sebesar 30 juta dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 504,4 miliar kepada PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF).
Melalui penadantanganan pinjaman dalam acara Canada-in-Asia Conference (CIAC) di Singapura, dari Selasa (10/2/2026) sampai Rabu (12/2/2026), FinDev Canada secara resmi memasuki pasar Indonesia, menandai investasi pertamanya di Tanah Air.
Baca juga:
“Indonesia, sebagai pasar ekspor terbesar Kanada di kawasan ASEAN, merupakan peluang strategis bagi pembangunan berkelanjutan. Melalui kemitraan kami dengan Indonesia Infrastructure Finance, salah satu pelaku utama infrastruktur berkelanjutan, kami dapat memperkuat pengembangan energi terbarukan dan mendukung kemakmuran bersama di kawasan Indo-Pasifik,” kata Vice President dan Chief Investment Officer FinDev Canada, Paulo Martelli dalam keterangan tertulis, Jumat (13/2/2026).
Sementara itu, Presiden Direktur atau CEO IIF, Rizki Pribadi Hasan mengapresiasi kepercayaan yang diberikan lewat kerja sama tersebut.
"Kami mengapresiasi kepercayaan yang diberikan dan berharap dapat terus memperdalam kolaborasi ini guna menghadirkan dampak sosial dan lingkungan yang nyata," tutur Rizki.
Baca juga:
Pinjaman FinDev Canada kepada PT IIF bertujuan memperkuat pertumbuhan ekonomi rendah karbon di Indonesia.Pinjaman FinDev Canada bertujuan memperkuat pertumbuhan ekonomi rendah karbon di Indonesia melalui pembiayaan proyek-proyek infrastruktur berkelanjutan.
Fasilitas pinjaman tersebut akan memperluas akses pembiayaan bagi proyek-proyek energi terbarukan yang berkontribusi terhadap upaya mitigasi krisis iklim. Termasuk, menguatkan kapasitas dan ketahanan infrastruktur di Indonesia.
Indonesia saat ini berada dalam proses transisi untuk menyeimbangkan peningkatan kebutuhan energi dengan target iklim nasional. Indonesia telah menetapkan target bauran energi terbarukan sebesar 31 persen tahun 2050 sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan ekonomi jangka panjang.
Peningkatan berbagai risiko iklim juga terjadi di Indonesia, seperti banjir, kekeringan, dan kenaikan permukaan air laut.
Indonesia menanggapinya dengan mendiversifikasi bauran energi dan mencapai target net-zero emission tahun 2060. Hal tersebut menekankan pentingnya investasi pada infrastruktur rendah karbon dan tangguh terhadap krisis iklim.
IIF berperan strategis dalam pengembangan sektor infrastruktur Indonesia melalui layanan pembiayaan dan advisory.
Dengan memanfaatkan keahlian dan pemahaman mendalam terhadap kondisi domestik, IIF melanjutkan nota kesepahaman yang telah ditandatanganinya dengan FinDev Canada pada 2025 lalu.
Kerja sama ini turut memperkuat agenda bilateral antara Kanada dan Indonesia melalui dukungan terhadap proyek-proyek infrastruktur prioritas.
Hal itu mengingat proyek-proyek infrastruktur prioritas tersebut dapat mendorong perdagangan, menciptakan peluang ekonomi, serta memajukan pembangunan berkelanjutan.
Diketahui, acara CIAC yang digelar Asia Pacific Foundation of Canada menghadirkan lebih dari 700 pembuat kebijakan senior, pemimpin bisnis, investor, serta sejumlah pakar dari Kanada dan wilayah Asia Pasifik.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya