KKP turut melibatkan investor dalam mengembangkan Sentra Industri Garam Nasional di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, guna mempercepat peningkatan produksi dan mencapai target swasembada.
Frista menyampaikan, kemampuan pembiayaan pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya mencakup sebagian zona, sedangkan sisanya memerlukan investasi swasta.
"Kemampuan APBN kami paling hanya bisa di dua zona. Sisa delapan zonanya itu harus dilakukan oleh investor," sebut dia.
Keterlibatan investor dinilai penting untuk mempercepat pembangunan infrastruktur produksi, fasilitas pengolahan, serta penerapan teknologi yang dibutuhkan guna meningkatkan kapasitas dan kualitas garam nasional.
Adapun Rote dipilih sebagai sentra industri garam nasional karena memiliki keunggulan yakni periode panas lebih panjang, hingga kualitas air lautnya. Daerah ini diproyeksikan menjadi sentra tambak dengan 10.000-13.000 hektar untuk industri.
Pada tahap awal, kata Frista, pemerintah memulai pengembangan zona prioritas sebelum membuka peluang investasi untuk memperluas kapasitas produksi kawasan tersebut.
Target produktivitas kawasan dirancang dapat menembus 200 ton per hektar.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya