Ketua Yayasan Mahija Parahita Nusantara, Ardhina Zaiza mengatakan, para pemulung membutuhkan sumber penghasilan lebih beragam dan berkelanjutan.
Para pemulung yang selama ini mengumpulkan botol plastik PET, perlu dibekali keterampilan untuk mengelola berbagai jenis aliran sampah.
Langkah ini supaya para pemulung dapat bertransformasi dari pengumpul satu jenis material, menjadi wirausahawan lingkungan berbasis komunitas.
Baca juga:
Proyek percontohan ini memanfaatkan pendanaan dari Program Recycle Me untuk memberikan pelatihan intensif dan aplikatif dalam pengolahan sampah organik.
Melalui inisiatif ini, para pemulung peserta pelatihan bisa memperoleh kemampuan untuk mengurangi sampah, sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi, seperti kompos dan pakan ternak lokal.
Yayasan Mahija Parahita Nusantara, kata dia, mempunyai visi untuk memperkuat posisi dan kapasitas para pekerja informal dalam rantai pasok daur ulang.
“Dengan mempelajari cara mengolah sampah organik menjadi kompos serta pakan ternak alternatif yang diproduksi secara lokal dari limbah organik, mereka tidak hanya berkontribusi pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi rumah tangga dan penghidupan mereka," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya