KOMPAS.com - Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ecoenzym (ekoenzim) bisa digunakan untuk mengurai pestisida. Namun, masih perlu dilakukan kajian lebih mendalam agar ecoenzym benar-benar terbukti dapat dipakai untuk menghilangkan pestisida.
Hal tersebut disampaikan oleh dosen kimia analisis dan kimia lingkungan dari Universitas Airlangga (Unair), Ganden Supriyanto.
Baca juga:
Ia menambahkan, ecoenzym bukanlah solusi utama untuk mengatasi air Sungai Cisadane yang tercemar bahan kimia pestisida.
"Karena ecoenzym adalah senyawa organik yang kinerjanya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, khususnya pH air sungai," ucap Ganden kepada Kompas.com, Senin (16/2/2026).
Ikan berukuran besar dan kura-kura berukuran sedang terlihat mengambang dan tak bergerak akibat pencemaran zat Pestisida pasca kebakaran. 1.500 liter ecoenzym dituang ke Sungai Cisadane untuk uraikan pestisida. Ahli jelaskan efektivitasnya.Ganden menjelaskan, ecoenzym dapat bekerja efektif jika daam kondisi terkontrol. Salah satu contohnya adalah pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
"Benar (dalam konteks Sungai Cisadaen, ecoenzym sulit untuk disebut bisa efektif karena karena ekosistem yang bebas)," ujar Ganden.
Sebelumnya, pakar pencemaran dan ekotoksikologi IPB University, Etty Riani menilai, ecoenzym tidak bisa menjadi solusi untuk penanganan pencemaran pestisida jenis Cypermethrin dan Profenofos.
Kedua jenis pestisida ini disebut mengalir ke Sungai Cisadane usai peristiwa kebakaran gudang bahan kimia di kawasan pergudangan di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, pada Senin (9/2/2026).
"Ecoenzym tidak bisa menjadi solusi karena ecoenzym hanya mampu menguraikan bahan organik mudah urai, sedangkan bahan organik sulit hingga sangat sulit urai (pesistent organic pollutants/POPs) tidak bisa diuraikan oleh ecoenzym," tutur Etty kepada Kompas.com, Sabtu (14/2/2026).
Menurut Etty, penuangan ecoenzym bagus untuk mengurai limbah domestik, bukan bahan berbahaya dan beracun (B3), seperti pestisida.
Baca juga:
Gudang pestisida di Taman Tekno, Serpong, Tangsel, yang sempat terbakar, kini dipasangi segel pada Jumat (13/2/2026). 1.500 liter ecoenzym dituang ke Sungai Cisadane untuk uraikan pestisida. Ahli jelaskan efektivitasnya.Sebagai informasi, Pemerintah Kota Tangerang menuang sebanyak 1.500 liter ecoenzym ke Sungai Cisadane untuk membantu proses pemulihan kualitas air secara alami, serta mengurangi bau tidak sedap dan dampak pencemaran pestisida.
Selain menuangkan secara langsung, penyemprotan ecoenzym dilakukan untuk memastikan cairan itu tersebar merata di sejumlah titik terdampak.
Petugas juga mengangkat bangkai hewan dan sampah yang ditemukan di sekitar lokasi sebagai dampak dari pencemaran yang terjadi.
"Ecoenzym yang digunakan merupakan larutan hasil fermentasi bahan organik yang ramah lingkungan dan kerap dimanfaatkan untuk membantu mengurai zat pencemar di perairan,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang, Mahdia, dilansir dari Antara.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya