Presiden dan CEO Alliance to End Plastic Waste, Jacob Duer menekankan bahwa sektor swasta tidak dapat menyelesaikan tantangan ini sendirian.
“Mewujudkan sirkularitas material untuk plastik fleksibel itu kompleks tetapi dapat dicapai. Solusi untuk meningkatkan pengelolaan akhir masa pakai produk plastik sudah ada. Dikombinasikan dengan tindakan industri dan momentum regulasi, ada peluang nyata untuk meningkatkan tingkat dan kualitas daur ulang film fleksibel dalam jangka waktu yang dipercepat,” jelas Duer.
Di sisi lain, organisasi tersebut tengah menyusun program tematik plastik fleksibel yang mencakup wilayah Eropa dan Amerika Utara.
Baca juga:
Program ini akan melibatkan pemetaan pasar untuk memahami rantai nilai pengelolaan limbah yang ada dan potensi jalan ke depan, serta menampilkan proyek-proyek demonstrasi kepada para pemangku kepentingan, termasuk pembuat kebijakan dan investor.
Saran untuk bertindak juga akan dibagikan kepada pembuat kebijakan, merek, dan pendaur ulang.
Organisasi ini juga sedang mengembangkan Program Khusus Negara di Brasil, India, Afrika Selatan, dan di negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk.
Pasar-pasar tersebut dianggap memiliki sistem pengelolaan limbah dasar yang kurang matang dibandingkan Eropa dan Amerika Utara.
Untuk diketahui, Alliance to End Plastic Waste didirikan pada tahun 2019, dan perusahaan anggotanya mewakili berbagai bagian dari rantai nilai plastik, termasuk bahan bakar fosil dan bahan kimia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya