KOMPAS.com - Sungai Cisadane tercemar bahan kimia pestisida jenis cypermethrin dan profenofos usai insiden kebakaran gudang pestisida di Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin (9/2/2026).
Dosen kimia analisis dan kimia lingkungan dari Universitas Airlangga (Unair), Ganden Supriyanto mengatakan, pestisida jenis cypermethrin tergolong piretrin atau insektisida alami dari tumbuhan.
"Profenofos yaitu pestisida golongan organofosfat yang biasa digunakan untuk membasmi hama secara umum," kata Ganden kepada Kompas.com, Senin (16/2/2026).
Baca juga:
Terdapat beberapa jenis pestisida berdasarkan fungsinya dalam membasmi organisme pengganggu, antara lain insektisida untuk membasmi serangga, herbisida untuk membasmi gulma, fungisida untuk membasmi jamur, dan rodentisida untuk membasmi tikus.
Sementara itu, berdasarkan kandungan senyawa di dalamnya, pestisida terbagi menjadi organofosfat, karbamat, piretrin, dan neonikotinoid.
Pestisida yang mencemari Sungai Cisadane akan mengalami beberapa peristiwa. Mulanya, akan mengalami pengenceran jika pestisida tersebut larut dalam air.
Namun, jika kelarutannya sangat kecil atau tidak larut dalam air, pestisida tersebut akan mengendap di dalam sedimen.
Ada sejumlah mekanisme untuk menghilangkan pestisida yang sudah mencemari air Sungai Cisadane.
Pertama, mekanisme bioremediasi atau penguraian pestisida dengan menggunakan makhluk hidup. Bioremediasi memungkinkan penguraian pestisida yang dilakukan oleh bakteri-bakteri yang ada di alam.
Secara teori, pestisida juga bisa merupakan suatu substrat atau nutrien bagi bakteri pengurai.
Kedua, pestisida yang mencemari air Sungai Cisadane dapat diuraikan oleh tumbuhan air. Peristiwa degradasi pestisida oleh tumbuhan ini disebut sebagai fitoremediasi.
Selanjutnya, peristiwa yang terjadi merujuk pada proses adsorpsi atau penyerapan. Dengan demikian, pestisida yang mencemari air Sungai Cisadane dapat mengalami penyerapan atau diserap oleh material-material yang ada di lingkungan.
Kondisi tersebut bisa terjadi pada fase berada di air atau sudah mengendap dalam sedimen.
"Jadi nanti pestisidanya akan diadsorpsi oleh material-material padat yang terlarut di dalam air dalam bentuk suspensi atau koloid, tetapi bisa juga diadsorpsi ke dalam sedimen," ujar Ganden.
Baca juga:
Ilustrasi eceng gondok. Sungai Cisadane tercemar pestisida cypermethrin dan profenofos. Ahli jelaskan beberapa cara untuk membantu menguraikannya.Jika melebihi ambang batas yang diizinkan, keberadaan pestisida di Sungai Cisadane tentu berbahaya.
Bila tumbuhan air, seperti enceng gondok, bermunculan di sepanjang Sungai Cisadane, akan menjadi sarana yang baik untuk mengurangi kandungan pestisida.
Bermunculannya tumbuhan-tumbuhan lain di tepi atau pinggir Sungai Cisadane juga akan menjadi sarana yang baik untuk mengurangi kandungan pestisida.
"Juga adanya bakteri-bakteri pengurai itu nantinya akan bekerja untuk menguraikan pestisida ini," tutur Ganden.
Baca juga:
Sungai Cisadane yang masih terlihat ikan mati dan mengapung terbawa arus pada Rabu (11/2/2026). Telanjur Makan Ikan Mati di Sungai Cisadane, Apa yang Harus Dilakukan?Di sisi lain, tindakan cepat untuk menghilangkan cemaran pestisida di Sungai Cisadane juga tetap harus dilakukan.
Contohnya, mengoptimalkan proses adsorpsi menggunakan adsorben tertentu atau material yang berfungsi menyerap dan menahan bahan lain dalam bentuk cairan dan gas ke dalam strukturnya.
Zeolit dan karbon aktif dalam bentuk granul dapat menjadi adsorben. Caranya, menyebarkan zeolit dengan ukuran partikel tertentu atau karbon aktif dalam bentuk granul ke permukaan air Sungai Cisadane.
Harapannya, pestisida yang berada pada fase air di Sungai Cisadane bisa diadsorpsi oleh adsorben tersebut dan kemudian dibawa turun ke bawah ke dalam sedimen.
"Karena adsorben tersebut umumnya mempunyai berat jenis yang lebih besar dari air sehingga begitu disebarkan maka adsorben itu bisa kontak dengan pestisida dan mengadsorpsi pestisida tersebut, kemudian bersama-sama akan turun ke bawah ke bagian sedimen sungai," jelas Ganden.
Sementara itu, Guru Besar dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, Indah Rachmatiah Siti Salami mengatakan, tidak mudah membersihkan air Sungai Cisadane dalam waktu relatif pendek atau sekitar dua minggu saja. Pestisida yang mencemari air Sungai Cisadane juga dapat terbawa ke air tanah dan terakumulasi pada organisme, termasuk ikan.
Oleh karena itu, manusia yang mengonsumsi ikan dari Sungai Cisadane akan terpapar pestisida melalui makanan.
"Seberapa bahayanya, tergantung besarnya konsentrasi pada makanan atau sumber-sumber lain tersebut, yang dikonsumsi manusia dan seberapa banyak manusia menggunakannya," tutur Indah.
Ia menggarisbawahi pentingnya mengetahui seberapa besar dispersi dan konsentrasi pestisida di Sungai Cisadane. Ia juga menegaskan pentingnya memperkirakan risiko yang kemungkinan sudah terjadi dalam masyarakat dengan mempertimbangkan paparan terhadap korban.
"Apabila sudah melebihi nilai ambang batas, pengendalian, termasuk pengolahan dan penurunan pestisida akan diperlukan. Untuk teknologi penurunan konsentrasi pestisida tersedia beberapa alternatif. Namun, saya bukan ahlinya untuk pengolahan ini," ucapnya.
Gudang pestisida di Taman Tekno, Serpong, Tangsel, yang sempat terbakar, kini dipasangi segel pada Jumat (13/2/2026).Sementara itu, pakar pencemaran dan ekotoksikologi IPB University, Etty Riani menilai, sangat tidak mungkin bisa "membersihkan" seluruh dampak pestisida di Sungai Cisadane hanya dalam waktu dua minggu.
Sebab, pestisida yang tumpah sangat banyak, khususnya pestisida jenis cypermethrin yang bersifat mudah terikat pada partikel tanah meski sulit larut dalam air.
"Ya (pestisida) bisa mengendap dan berakumulasi dalam sedimen. Waktu (pestisida yang tumpah) hilang hanya dalam air, begitu air berganti langsung hilang dua minggu (itu) cukup, tetapi yang di dasar dan pinggir sungai enggak mungkin bisa cepat. Butuh waktu panjang, bisa tahunan baru benar-benar hilang dari ekosistem sungai," ucap Etty kepada Kompas.com, Sabtu (14/2/2026).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya