Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?

Kompas.com, 17 Februari 2026, 08:15 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sungai Cisadane tercemar bahan kimia pestisida jenis cypermethrin dan profenofos usai insiden kebakaran gudang pestisida di Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin (9/2/2026).

Dosen kimia analisis dan kimia lingkungan dari Universitas Airlangga (Unair), Ganden Supriyanto mengatakan, pestisida jenis cypermethrin tergolong piretrin atau insektisida alami dari tumbuhan.

"Profenofos yaitu pestisida golongan organofosfat yang biasa digunakan untuk membasmi hama secara umum," kata Ganden kepada Kompas.com, Senin (16/2/2026). 

Baca juga:

Terdapat beberapa jenis pestisida berdasarkan fungsinya dalam membasmi organisme pengganggu, antara lain insektisida untuk membasmi serangga, herbisida untuk membasmi gulma, fungisida untuk membasmi jamur, dan rodentisida untuk membasmi tikus.

Sementara itu, berdasarkan kandungan senyawa di dalamnya, pestisida terbagi menjadi organofosfat, karbamat, piretrin, dan neonikotinoid.

Pestisida yang mencemari Sungai Cisadane akan mengalami beberapa peristiwa. Mulanya, akan mengalami pengenceran jika pestisida tersebut larut dalam air.

Namun, jika kelarutannya sangat kecil atau tidak larut dalam air, pestisida tersebut akan mengendap di dalam sedimen.

Bagaimana mengurai pestisida yang cemari Sungai Cisadane?

Ada beberapa mekanisme yang harus diperhatikan

Sungai Cisadane tercemar limbah gudang bahan kimia, Selasa (10/2/2026). Sungai Cisadane tercemar pestisida cypermethrin dan profenofos. Ahli jelaskan beberapa cara untuk membantu menguraikannya.Kompas.com/Intan Afrida Rafni Sungai Cisadane tercemar limbah gudang bahan kimia, Selasa (10/2/2026). Sungai Cisadane tercemar pestisida cypermethrin dan profenofos. Ahli jelaskan beberapa cara untuk membantu menguraikannya.

Ada sejumlah mekanisme untuk menghilangkan pestisida yang sudah mencemari air Sungai Cisadane.

Pertama, mekanisme bioremediasi atau penguraian pestisida dengan menggunakan makhluk hidup. Bioremediasi memungkinkan penguraian pestisida yang dilakukan oleh bakteri-bakteri yang ada di alam.

Secara teori, pestisida juga bisa merupakan suatu substrat atau nutrien bagi bakteri pengurai.

Kedua, pestisida yang mencemari air Sungai Cisadane dapat diuraikan oleh tumbuhan air. Peristiwa degradasi pestisida oleh tumbuhan ini disebut sebagai fitoremediasi.

Selanjutnya, peristiwa yang terjadi merujuk pada proses adsorpsi atau penyerapan. Dengan demikian, pestisida yang mencemari air Sungai Cisadane dapat mengalami penyerapan atau diserap oleh material-material yang ada di lingkungan.

Kondisi tersebut bisa terjadi pada fase berada di air atau sudah mengendap dalam sedimen.

"Jadi nanti pestisidanya akan diadsorpsi oleh material-material padat yang terlarut di dalam air dalam bentuk suspensi atau koloid, tetapi bisa juga diadsorpsi ke dalam sedimen," ujar Ganden. 

Baca juga:

Bisakah eceng gondok mengurangi kandungan pestisida?

Ilustrasi eceng gondok. Sungai Cisadane tercemar pestisida cypermethrin dan profenofos. Ahli jelaskan beberapa cara untuk membantu menguraikannya.WIKIMEDIA COMMONS/ADOSCAM Ilustrasi eceng gondok. Sungai Cisadane tercemar pestisida cypermethrin dan profenofos. Ahli jelaskan beberapa cara untuk membantu menguraikannya.

Jika melebihi ambang batas yang diizinkan, keberadaan pestisida di Sungai Cisadane tentu berbahaya.

Bila tumbuhan air, seperti enceng gondok, bermunculan di sepanjang Sungai Cisadane, akan menjadi sarana yang baik untuk mengurangi kandungan pestisida.

Bermunculannya tumbuhan-tumbuhan lain di tepi atau pinggir Sungai Cisadane juga akan menjadi sarana yang baik untuk mengurangi kandungan pestisida.

"Juga adanya bakteri-bakteri pengurai itu nantinya akan bekerja untuk menguraikan pestisida ini," tutur Ganden.

Baca juga:

Harus cepat bertindak

Sungai Cisadane yang masih terlihat ikan mati dan mengapung terbawa arus pada Rabu (11/2/2026). Telanjur Makan Ikan Mati di Sungai Cisadane, Apa yang Harus Dilakukan?KOMPAS.com/INTAN AFRIDA RAFNI Sungai Cisadane yang masih terlihat ikan mati dan mengapung terbawa arus pada Rabu (11/2/2026). Telanjur Makan Ikan Mati di Sungai Cisadane, Apa yang Harus Dilakukan?

Di sisi lain, tindakan cepat untuk menghilangkan cemaran pestisida di Sungai Cisadane juga tetap harus dilakukan.

Contohnya, mengoptimalkan proses adsorpsi menggunakan adsorben tertentu atau material yang berfungsi menyerap dan menahan bahan lain dalam bentuk cairan dan gas ke dalam strukturnya.

Zeolit dan karbon aktif dalam bentuk granul dapat menjadi adsorben. Caranya, menyebarkan zeolit dengan ukuran partikel tertentu atau karbon aktif dalam bentuk granul ke permukaan air Sungai Cisadane.

Harapannya, pestisida yang berada pada fase air di Sungai Cisadane bisa diadsorpsi oleh adsorben tersebut dan kemudian dibawa turun ke bawah ke dalam sedimen.

"Karena adsorben tersebut umumnya mempunyai berat jenis yang lebih besar dari air sehingga begitu disebarkan maka adsorben itu bisa kontak dengan pestisida dan mengadsorpsi pestisida tersebut, kemudian bersama-sama akan turun ke bawah ke bagian sedimen sungai," jelas Ganden.

Sementara itu, Guru Besar dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, Indah Rachmatiah Siti Salami mengatakan, tidak mudah membersihkan air Sungai Cisadane dalam waktu relatif pendek atau sekitar dua minggu saja. Pestisida yang mencemari air Sungai Cisadane juga dapat terbawa ke air tanah dan terakumulasi pada organisme, termasuk ikan.

Oleh karena itu, manusia yang mengonsumsi ikan dari Sungai Cisadane akan terpapar pestisida melalui makanan.

"Seberapa bahayanya, tergantung besarnya konsentrasi pada makanan atau sumber-sumber lain tersebut, yang dikonsumsi manusia dan seberapa banyak manusia menggunakannya," tutur Indah.

Ia menggarisbawahi pentingnya mengetahui seberapa besar dispersi dan konsentrasi pestisida di Sungai Cisadane. Ia juga menegaskan pentingnya memperkirakan risiko yang kemungkinan sudah terjadi dalam masyarakat dengan mempertimbangkan paparan terhadap korban.

"Apabila sudah melebihi nilai ambang batas, pengendalian, termasuk pengolahan dan penurunan pestisida akan diperlukan. Untuk teknologi penurunan konsentrasi pestisida tersedia beberapa alternatif. Namun, saya bukan ahlinya untuk pengolahan ini," ucapnya.

Gudang pestisida di Taman Tekno, Serpong, Tangsel, yang sempat terbakar, kini dipasangi segel pada Jumat (13/2/2026).KOMPAS.com/INTAN AFRIDA RAFNI Gudang pestisida di Taman Tekno, Serpong, Tangsel, yang sempat terbakar, kini dipasangi segel pada Jumat (13/2/2026).

Sementara itu, pakar pencemaran dan ekotoksikologi IPB University, Etty Riani menilai, sangat tidak mungkin bisa "membersihkan" seluruh dampak pestisida di Sungai Cisadane hanya dalam waktu dua minggu.

Sebab, pestisida yang tumpah sangat banyak, khususnya pestisida jenis cypermethrin yang bersifat mudah terikat pada partikel tanah meski sulit larut dalam air.

"Ya (pestisida) bisa mengendap dan berakumulasi dalam sedimen. Waktu (pestisida yang tumpah) hilang hanya dalam air, begitu air berganti langsung hilang dua minggu (itu) cukup, tetapi yang di dasar dan pinggir sungai enggak mungkin bisa cepat. Butuh waktu panjang, bisa tahunan baru benar-benar hilang dari ekosistem sungai," ucap Etty kepada Kompas.com, Sabtu (14/2/2026).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
1.500 Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane, Ahli Jelaskan Efektivitasnya
1.500 Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane, Ahli Jelaskan Efektivitasnya
LSM/Figur
Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja
Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja
LSM/Figur
Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal
Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal
LSM/Figur
BKSDA Sumbar Pasang Kandang Jebak, Tangani Serangan Beruang di Talamau
BKSDA Sumbar Pasang Kandang Jebak, Tangani Serangan Beruang di Talamau
Pemerintah
Sampah Organik MBG Jadi Sumber Ekonomi Tambahan Pemulung di Duren Sawit
Sampah Organik MBG Jadi Sumber Ekonomi Tambahan Pemulung di Duren Sawit
Swasta
Program Hidroponik Berbasis PLTS Dukung Inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong
Program Hidroponik Berbasis PLTS Dukung Inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong
BUMN
Sukabumi Resmikan Fasilitas Biogas dan Solar Dryer House
Sukabumi Resmikan Fasilitas Biogas dan Solar Dryer House
LSM/Figur
Sinar Matahari Bisa Turunkan Keanekaragaman dan Biomassa Padang Rumput
Sinar Matahari Bisa Turunkan Keanekaragaman dan Biomassa Padang Rumput
LSM/Figur
450 Spesies Ular Terancam Punah, Studi Soroti Peran Orangtua Bentuk Persepsi Anak
450 Spesies Ular Terancam Punah, Studi Soroti Peran Orangtua Bentuk Persepsi Anak
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau