Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi

Kompas.com, 17 Februari 2026, 12:12 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Faris Budiman Annas, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, aktif mengampanyekan kesehatan anak melalui karya visual dan animasi. Menurutnya, karya tersebut efektif untuk menyampaikan isu kesehatan pada anak-anak.

"Kami berikan literasi kesehatan dan gizi dalam format-format yang menarik seperti video animasi. Jadi anak-anak tidak merasa membosankan karena kami kemas dan desain programnya sesuai usia mereka," kata Faris dalam keterangannya, Selasa (17/2/2026).

Dia menjelaskan, metode ini bukan hanya menarik minat anak-anak. Orangtua juga bisa lebih memahami isu kesehatan melalui penyampaian yang atraktif dan tak membosankan.

Baca juga: UNICEF: Kasus Cyberbullying hingga Kekerasan Seksual Anak Terus Meningkat

Strategi komunikasi melalui karya visual dan animasi diharapkan mampu meningkatkan literasi kesehatan seperti perbaikan gizi hingga pencegahan stunting.

Di samping mengajar di universitas, Faris ikut terlibat sebagai relawan di Foundation for Mother and Child Health (FMCH) Indonesia atau Yayasan Balita Sehat, lembaga nirlaba yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup serta kesehatan ibu dan anak.

"Kami punya beberapa project di daerah-daerah tertinggal seperti di Nusa Tenggara Timur. Supaya anak-anak di sana melek terkait kesehatan dan gizi, pertumbuhan mereka bagus, dan mencegah stunting," ucap dia.

NTT tercatat memiliki kasus stunting tertinggi yakni 37 persen selama 2023-2025 akibat gizi buruk, kemiskinan, dan sulitnya akses air bersih. Faris lantas menggelar aksi sosial dengan memanfaatkan kemampuannya di bidang komunikasi.

Baca juga: Duta UNICEF Soroti Pernikahan Dini hingga Kekerasan Anak di Indonesia

Dia bertugas sebagai fotografer dan videografer yang merekam dokumentasi ataupun menyiapkan materi kampanye. Lainnya, mengarahkan, menggelar brainstorming dan monitoring terhadap kampanye kesehatan yang dikembangkan FMCH Indonesia.

Faris turut mengembangkan perpustakaan keliling, pertunjukan boneka, permainan interaktif, hingga seri animasi ‘Aku Bisa Hadapi Ini’ yang disebarkan via media sosial. Tujuannya, memperbaiki gizi serta kualitas hidup anak-anak di daerah rentan.

"Kalau anak-anak ini dan orangtua mereka literasi gizinya bagus, ujung-ujungnya adalah tingkat stuntingnya menurun," jelas Faris.

Lanjutkan Misi Kemanusiaan

Kariernya dimulai saat menempuh studi S1 Ilmu Komunkasi di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2009. Setelah menjadi sarjana, pemuda asal Gorontalo, Sulawesi Utara ini terjun sebagai jurnalis. Faris lalu mengembangkan sejumlah usaha dan start-up, termasuk kafe Secangkir Kopi dan agensi media Qonten Indonesia.

Berjalannya waktu, Faris memutuskan melanjutkan studi S2 di Universitas Indonesia (UI) tahun 2015. Saat itulah dia mengetahui adanya dukungan pendidikan lewat beasiswa yang diberikan lembaga filantropi Tanoto Foundation.

Tak hanya menjadi penerima beasiswa, sosoknya yang aktif membuatnya terlibat di berbagai program Tanoto Foundation yang bertujuan untuk mengasah kepemimpinan para Tanoto Scholar (penerima beasiswa).

“Kami bikin beberapa kali kegiatan, seperti menjadikan taman sebagai ruang dan program sosial di Museum Batik, Jakarta, dengan memberikan edukasi soal batik," ungkap dia.

Faris berpandangan, Tanoto Foundation memberikan dukungan pendanaan pendidikan kepada mahasiswa sekaligus memperluas wawasan dan jejaring penerimanya dengan banyak pihak termasuk para alumni.

"Kepekaan terhadap isu-isu sosial itu terpantik gara-gara aktif waktu dulu dapat beasiswa. Makanya sampai sekarang, saat sudah jadi alumni pun, saya masih aktif di kegiatan-kegiatan sosial dan kemanusiaan," ungkap Faris.

"Kalau saya flashback, salah satu momentum yang membangkitkan insting saya untuk punya kepekaan sosial ya di program Tanoto Scholar," imbuh dia.

Dengan dukungan beasiswa Tanoto Foundation, gelar master diraihnya pada 2017. Setahun kemudian, Faris mulai mengajar ilmu komunikasi di Universitas Paramadina.

Komitmen untuk menjadi pengajar dilandasi keyakinan Faris bahwa pendidikan mampu meningkatkan kualitas hidup manusia. Apalagi dari sejumlah pengalaman, ia menyaksikan sendiri perjuangan seseorang untuk mengangkat harkat hidup lewat pendidikan ketika masih mengajar di Gorontalo.

"Masuk kampus jadi salah satu medium saya buat berbagi ilmu dengan banyak orang, baik itu mahasiswa maupun kolega lainnya. Ilmu yang bermanfaat bisa dipakai buat kerja, dapat penghasilan, terus improve-lah kehidupannya. Pendidikan salah satu bentuk katalis untuk menaikkan level kehidupan seseorang," katanya.

Tak hanya di kelas, kiprah Faris menjangkau kalangan akar rumput yang lebih luas. Dari komunitas bersama alumni penerima beasiswa, Faris mendapatkan informasi kebutuhan peneliti terkait pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kepulauan Seribu.

Dia menyatakan, Indonesia masih punya banyak pekerjaan rumah dalam menghadapi tantangan kesehatan ibu dan anak. Orangtua di perkotaan maupun pelosok dinilai perlu mendapatkan edukasi yang lebih banyak soal stunting.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Pemerintah
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Pemerintah
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
BUMN
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
1.500 Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane, Ahli Jelaskan Efektivitasnya
1.500 Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane, Ahli Jelaskan Efektivitasnya
LSM/Figur
Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja
Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja
LSM/Figur
Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal
Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal
LSM/Figur
BKSDA Sumbar Pasang Kandang Jebak, Tangani Serangan Beruang di Talamau
BKSDA Sumbar Pasang Kandang Jebak, Tangani Serangan Beruang di Talamau
Pemerintah
Sampah Organik MBG Jadi Sumber Ekonomi Tambahan Pemulung di Duren Sawit
Sampah Organik MBG Jadi Sumber Ekonomi Tambahan Pemulung di Duren Sawit
Swasta
Program Hidroponik Berbasis PLTS Dukung Inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong
Program Hidroponik Berbasis PLTS Dukung Inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau