KOMPAS.com - Faris Budiman Annas, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, aktif mengampanyekan kesehatan anak melalui karya visual dan animasi. Menurutnya, karya tersebut efektif untuk menyampaikan isu kesehatan pada anak-anak.
"Kami berikan literasi kesehatan dan gizi dalam format-format yang menarik seperti video animasi. Jadi anak-anak tidak merasa membosankan karena kami kemas dan desain programnya sesuai usia mereka," kata Faris dalam keterangannya, Selasa (17/2/2026).
Dia menjelaskan, metode ini bukan hanya menarik minat anak-anak. Orangtua juga bisa lebih memahami isu kesehatan melalui penyampaian yang atraktif dan tak membosankan.
Baca juga: UNICEF: Kasus Cyberbullying hingga Kekerasan Seksual Anak Terus Meningkat
Strategi komunikasi melalui karya visual dan animasi diharapkan mampu meningkatkan literasi kesehatan seperti perbaikan gizi hingga pencegahan stunting.
Di samping mengajar di universitas, Faris ikut terlibat sebagai relawan di Foundation for Mother and Child Health (FMCH) Indonesia atau Yayasan Balita Sehat, lembaga nirlaba yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup serta kesehatan ibu dan anak.
"Kami punya beberapa project di daerah-daerah tertinggal seperti di Nusa Tenggara Timur. Supaya anak-anak di sana melek terkait kesehatan dan gizi, pertumbuhan mereka bagus, dan mencegah stunting," ucap dia.
NTT tercatat memiliki kasus stunting tertinggi yakni 37 persen selama 2023-2025 akibat gizi buruk, kemiskinan, dan sulitnya akses air bersih. Faris lantas menggelar aksi sosial dengan memanfaatkan kemampuannya di bidang komunikasi.
Baca juga: Duta UNICEF Soroti Pernikahan Dini hingga Kekerasan Anak di Indonesia
Dia bertugas sebagai fotografer dan videografer yang merekam dokumentasi ataupun menyiapkan materi kampanye. Lainnya, mengarahkan, menggelar brainstorming dan monitoring terhadap kampanye kesehatan yang dikembangkan FMCH Indonesia.
Faris turut mengembangkan perpustakaan keliling, pertunjukan boneka, permainan interaktif, hingga seri animasi ‘Aku Bisa Hadapi Ini’ yang disebarkan via media sosial. Tujuannya, memperbaiki gizi serta kualitas hidup anak-anak di daerah rentan.
"Kalau anak-anak ini dan orangtua mereka literasi gizinya bagus, ujung-ujungnya adalah tingkat stuntingnya menurun," jelas Faris.
Kariernya dimulai saat menempuh studi S1 Ilmu Komunkasi di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2009. Setelah menjadi sarjana, pemuda asal Gorontalo, Sulawesi Utara ini terjun sebagai jurnalis. Faris lalu mengembangkan sejumlah usaha dan start-up, termasuk kafe Secangkir Kopi dan agensi media Qonten Indonesia.
Berjalannya waktu, Faris memutuskan melanjutkan studi S2 di Universitas Indonesia (UI) tahun 2015. Saat itulah dia mengetahui adanya dukungan pendidikan lewat beasiswa yang diberikan lembaga filantropi Tanoto Foundation.
Tak hanya menjadi penerima beasiswa, sosoknya yang aktif membuatnya terlibat di berbagai program Tanoto Foundation yang bertujuan untuk mengasah kepemimpinan para Tanoto Scholar (penerima beasiswa).
“Kami bikin beberapa kali kegiatan, seperti menjadikan taman sebagai ruang dan program sosial di Museum Batik, Jakarta, dengan memberikan edukasi soal batik," ungkap dia.
Faris berpandangan, Tanoto Foundation memberikan dukungan pendanaan pendidikan kepada mahasiswa sekaligus memperluas wawasan dan jejaring penerimanya dengan banyak pihak termasuk para alumni.
"Kepekaan terhadap isu-isu sosial itu terpantik gara-gara aktif waktu dulu dapat beasiswa. Makanya sampai sekarang, saat sudah jadi alumni pun, saya masih aktif di kegiatan-kegiatan sosial dan kemanusiaan," ungkap Faris.
"Kalau saya flashback, salah satu momentum yang membangkitkan insting saya untuk punya kepekaan sosial ya di program Tanoto Scholar," imbuh dia.
Dengan dukungan beasiswa Tanoto Foundation, gelar master diraihnya pada 2017. Setahun kemudian, Faris mulai mengajar ilmu komunikasi di Universitas Paramadina.
Komitmen untuk menjadi pengajar dilandasi keyakinan Faris bahwa pendidikan mampu meningkatkan kualitas hidup manusia. Apalagi dari sejumlah pengalaman, ia menyaksikan sendiri perjuangan seseorang untuk mengangkat harkat hidup lewat pendidikan ketika masih mengajar di Gorontalo.
"Masuk kampus jadi salah satu medium saya buat berbagi ilmu dengan banyak orang, baik itu mahasiswa maupun kolega lainnya. Ilmu yang bermanfaat bisa dipakai buat kerja, dapat penghasilan, terus improve-lah kehidupannya. Pendidikan salah satu bentuk katalis untuk menaikkan level kehidupan seseorang," katanya.
Tak hanya di kelas, kiprah Faris menjangkau kalangan akar rumput yang lebih luas. Dari komunitas bersama alumni penerima beasiswa, Faris mendapatkan informasi kebutuhan peneliti terkait pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kepulauan Seribu.
Dia menyatakan, Indonesia masih punya banyak pekerjaan rumah dalam menghadapi tantangan kesehatan ibu dan anak. Orangtua di perkotaan maupun pelosok dinilai perlu mendapatkan edukasi yang lebih banyak soal stunting.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya