Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Duta UNICEF Soroti Pernikahan Dini hingga Kekerasan Anak di Indonesia

Kompas.com, 10 Februari 2026, 17:05 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Aktris Cinta Laura Kiehl menyoroti masih maraknya kasus pernikahan dini dan kekerasan pada anak di Indonesia. Hal ini disampaikannya, usai resmi dilantik sebagai Duta Nasional UNICEF Indonesia.

Cinta mengungkapkan bahwa satu dari sembilan anak perempuan masih dipaksa menikah sebelum usia 18 tahun, menyebabkan mereka kehilangan kesempatan bersekolah dan mengejar mimpinya.

"Hampir satu dari dua anak laki-laki dan satu dari enam anak perempuan pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan sebelum usia 18 tahun. Sebuah gambaran betapa banyak suara anak yang tidak pernah terdengar," kata Cinta Laura dalam Peluncuran Duta Nasional UNICEF di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).

Baca juga: RI dan UE Gelar Kampanye Bersama Lawan Kekerasan Digital terhadap Perempuan dan Anak

Menurut dia, ketimpangan akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan dasar masih menjadi persoalan serius terutama bagi anak-anak yang tinggal di daerah pelosok. Cinta mengaku menyaksikan secara langsung betapa berat perjuangan anak-anak memperoleh hak-hak dasar di Asmat, Papua.

Padahal, Papua selalu jadi tempat yang sangat istimewa baginya, dengan kekayaan budaya, ketangguhan masyarakatnya, serta keindahan alam yang memukau.

"Tetapi di balik semua keindahan itu, ada tantangan yang sangat berat. Tantangan akses, infrastruktur, dan tantangan yang membuat anak-anak Papua harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan hak dasar yang seharusnya mudah dijangkau," jelas Cinta.

"Seperti seorang ibu yang harus menyeberang jauh menggunakan perahu hanya untuk mendapatkan akses kesehatan. Bagaimana anak-anak bergantung pada air hujan untuk bisa dapat akses air bersih. sedangkan kita di perkotaan tidak mikir dua kali saat menyalakan keran air," imbuh dia.

Baca juga: Panas Ekstrem Ganggu Perkembangan Belajar Anak Usia Dini

Pada kesempatan itu, Cinta Laura turut menyinggung peristiwa meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang diduga mengakhiri hidup karena rasa malu akibat tidak memiliki buku dan alat tulis.

Peristiwa tersebut, menurutnya, menjadi gambaran nyata bagaimana tekanan ekonomi dan kemiskinan dapat berdampak pada kesehatan mental anak.

"Kenyataan ini mengusik hati saya dan satu pertanyaan terus menghantui pikiran saya mengapa kita masih membiarkan ini terjadi? Kenapa anak-anak harus dibebani tekanan ekonomi dan mental sehingga tidak lagi merasa punya harapan dan semangat hidup?" ujar Cinta.

Angkat isu yang tabu

Sebagai Duta Nasional UNICEF Indonesia, Cinta berkomitmen mengangkat isu-isu yang selama ini kerap dianggap tabu yakni kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak kerap kali dinormalisasi atau bahkan ditutupi. Relasi kuasa dan ketidakberdayaan menjadi alasan sulitnya korban anak sering kali tak mendapatkan keadilan.

"Saya harap kita semua bisa membantu membuka ruang agar semakin banyak anak dan anak muda yang bisa bersuara atas nama dirinya sendiri. Kata kuncinya adalah kolaborasi. Perubahan sejati hanya akan terjadi jika kita semua bergerak bersama," tutur Cinta.

Dia menambahkan bahwa pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, media, akademisi, dan setiap individu di negara ini punya peran masing-masing. Dengan kondisi yang lebih baik, setiap anak bisa tumbuh dengan aman, sehat, berpendidikan, dan dipenuhi kasih sayang.

"Maka hari ini dengan peran baru ini, saya memilih untuk berdiri di barisan yang tidak hanya peduli, tetapi juga bertanggung jawab untuk terus hadir, bahkan ketika isu-isu ini tidak lagi menjadi sorotan," sebutnya.

Baca juga: Potret Pernikahan Dini di Jawa Tengah, Hamil di Luar Nikah hingga Putus Sekolah dan Kerja Serabutan

Sementara itu, Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia, Maniza Zaman menyatakan Cinta Laura bergabung dengan jajaran duta nasional UNICEF global yang menggunakan suara, pengaruh, dan platform mereka untuk memperjuangkan hak-hak anak di berbagai belahan dunia.

Aktris sekaligus penyanyi itu dinilai memiliki banyak pengalaman, akademik yang baik, hingga komitmen mendalam terhadap keadilan sosial maupun kesetaraan.

"Anda telah secara konsisten menggunakan platform Anda untuk berbicara tentang isu-isu yang penting, mulai dari pemberdayaan perempuan hingga kesehatan mental, dan untuk mendengarkan realitas kehidupan anak-anak dan keluarga," jelas Maniza.

Sebagai Duta Nasional, Cinta Laura akan mendukung upaya advokasi UNICEF Indonesia dengan meningkatkan kesadaran tentang isu-isu utama hak anak, termasuk pendidikan, perlindungan anak, pemberdayaan perempuan, dan aksi iklim. Suaranya dinilai berperan penting dalam mendorong aksi kolektif untuk menciptakan masa depan yang lebih inklusif dan adil bagi setiap anak.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Akselerasi Hijau, Dompet Dhuafa Luncurkan Kebun Pangan Madaya di PTGL Sukabumi
Dorong Akselerasi Hijau, Dompet Dhuafa Luncurkan Kebun Pangan Madaya di PTGL Sukabumi
LSM/Figur
Mayoritas Negara Gagal Pangkas Subsidi yang Merusak Alam
Mayoritas Negara Gagal Pangkas Subsidi yang Merusak Alam
Pemerintah
Inisiatif Bioenergy Lestari Diakui Dunia, Pertamina Raih Outstanding SDG Innovator 2026
Inisiatif Bioenergy Lestari Diakui Dunia, Pertamina Raih Outstanding SDG Innovator 2026
BUMN
Deloitte Ungkap Mayoritas Dewan Direksi Belum Punya Aturan Penggunaan AI
Deloitte Ungkap Mayoritas Dewan Direksi Belum Punya Aturan Penggunaan AI
Pemerintah
Sistem 'All Indonesia' Diterapkan di PLBN Entikong, Perkuat Tata Kelola dan Pengawasan Perbatasan
Sistem "All Indonesia" Diterapkan di PLBN Entikong, Perkuat Tata Kelola dan Pengawasan Perbatasan
Pemerintah
ESI: Indonesia Tak Lagi Punya Pilihan Selain Percepat Transisi Energi
ESI: Indonesia Tak Lagi Punya Pilihan Selain Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
PGN Bangun Rantai Nilai Ekonomi Sirkular hingga Hilirisasi di Cilegon
PGN Bangun Rantai Nilai Ekonomi Sirkular hingga Hilirisasi di Cilegon
BUMN
Perkuat Ekonomi Inklusif Papua, 1.700 Rumah Tangga Dapat Pendampingan Literasi Keuangan
Perkuat Ekonomi Inklusif Papua, 1.700 Rumah Tangga Dapat Pendampingan Literasi Keuangan
Pemerintah
FPCI Desak Indonesia Percepat Target Net Zero Emission Jadi 2050
FPCI Desak Indonesia Percepat Target Net Zero Emission Jadi 2050
LSM/Figur
Peneliti Petakan Titik Rawan Kekeringan Global, Mana Saja yang Berisiko?
Peneliti Petakan Titik Rawan Kekeringan Global, Mana Saja yang Berisiko?
LSM/Figur
Kerentanan Sumber Daya Air Musim Kemarau 2026
Kerentanan Sumber Daya Air Musim Kemarau 2026
Pemerintah
Pertamina Perkuat Pemulihan Ekonomi dan Ketangguhan Masyarakat Pascabencana Sumatera
Pertamina Perkuat Pemulihan Ekonomi dan Ketangguhan Masyarakat Pascabencana Sumatera
BrandzView
Daur Ulang Fasilitas Produksi Energi Fosil Bisa Tekan Biaya Kerusakan Alam
Daur Ulang Fasilitas Produksi Energi Fosil Bisa Tekan Biaya Kerusakan Alam
LSM/Figur
'Me Time' Ramah Lingkungan, Kini Ada Alat yang Ukur Emisi Khusus Spa
"Me Time" Ramah Lingkungan, Kini Ada Alat yang Ukur Emisi Khusus Spa
Pemerintah
Saatnya Manfaat Hilirisasi Nikel di Morowali Dibagi Lebih Adil bagi Daerah
Saatnya Manfaat Hilirisasi Nikel di Morowali Dibagi Lebih Adil bagi Daerah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau