Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Siswa SMA Sulap Limbah Cangkang Kepiting dan Udang Jadi Kemasan Ramah Lingkungan

Kompas.com, 19 Desember 2025, 11:35 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - EchoChemistry, kelompok siswa asal MAN 1 Kendari, Sulawesi Tenggara, menyulap limbah cangkang kepiting dan kulit udang menjadi kemasan ramah lingkungan. Inovasi tersebut memenangkan Akademi Sekolah Lestari (ASRI) Awards 2025.

Anggota EchoChemistry, Aisyah menjelaskan, inovasi itu berawal dari menumpuknya sampah di lautan yang mencapai 11 juta ton pada tahun 2023, berdasarkan catatan United Nations Environment Programme (UNEP).

Baca juga: 

"Menurut Dinas KKP (Kelautan dan Perikanan) Sulawesi Tenggara pada tahun 2024 limbah laut dari industri kemasan di kota kami yaitu Kendari meningkat setiap tahun. Yang bikin kami berpikir adalah, itu masalah yang sering terjadi tetapi jarang kita anggap serius," kata Aisyah di Jakarta Pusat, Kamis (18/12/2025).

Padahal, lanjut Aisyah, kulit udang dan cangkang kepiting bukan sampah biasa. Di dalamnya mengandung mengandung kitosan, material film komposit yang dapat diekstraksi melalui proses kimia deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi.

"Akhirnya kami sadar, masalahnya itu bukan cuma sampah tetapi karena yang pertama limbah ini dianggap tidak berguna. Kedua, teknologi pengolahannya belum sampai ke masyarakat, ketiga, edukasinya masih sangat minim," jelas dia.

Selain itu, banyak orang yang masih belum tahu potensi limbah makanan laut tersebut.

Baca juga:

Kemasan anti bakteri, non-toksik, dan aman

Anggota lainnya, Resky menuturkan, konsep utama inovasi mereka adalah mengolah kulit udang dan cangkang kepiting menjadi komposit kitosan yang dapat dimanfaatkan sebagai kemasan makanan ramah lingkungan.

Menurut dia, kemasan ini bersifat anti bakteri, non-toksik, dan aman untuk pangan. Selain itu, dapat terurai secara alami, tidak seperti plastik biasa.

"Adapun target karya kami, yaitu UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) kuliner, industri seafood, masyarakat pesisir, dan yang terakhir, sekolah yang ingin menerapkan inovasi ramah lingkungan," ucap Resky.

Terhalang bahan yang tidak konsisten

Kelompok siswa MAN 1 Kendari menyulap limbah cangkang kepiting dan kulit udang menjadi kemasan ramah lingkungan. Dok. Freepik/Freepik Kelompok siswa MAN 1 Kendari menyulap limbah cangkang kepiting dan kulit udang menjadi kemasan ramah lingkungan.

Proses pembuatannya meliputi pengumpulan limbah cangkang, ekstraksi kitosan, penguatan komposit, dan pembentukan plastik biodegradable (dapat terurai).

Kendati demikian, tim EchoChemistry menghadapi sejumlah kendala, antara lain ketersediaan limbah udang dan kepiting yang tidak konsisten karena faktor musim.

Lalu, keterbatasan fasilitas laboratorium sekolah, penggunaan bahan kimia berbahaya seperti NaOH dan NaCl, serta hasil film komposit yang rapuh.

Minimnya dukungan dari pelaku UMKM serta faktor cuaca juga menghambat produksi. Tantangan lainnya, proses pengeringan bahan yang bergantung pada cuaca.

Untuk mengatasi hal tersebut, EchoChemistry menerapkan berbagai strategi mitigasi yakni mengambil limbah dari lebih dari tiga sumber, menjalin kerja sama dengan laboratorium Universitas Halu Oleo, menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap, mengembangkan beberapa variasi formula, serta melakukan edukasi kepada UMKM terkait manfaat dan keunggulan produk mereka.

Baca juga:

Inovasi plastik ramah lingkungan mengantarkan EchoChemistry menjadi salah satu pemenang Akademi Sekolah Lestari (ASRI) Awards 2025 kategori Ideasi yang digelar KG Media dan Unilever.

ASRI Awards adalah ajang penghargaan bagi siswa, guru, dan sekolah yang berkontribusi melalui karya serta inovasi bertema keberlanjutan (sustainability).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau