Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Tembaga Diprediksi Berlipat Ganda, Ini Alasannya

Kompas.com, 20 Februari 2026, 09:17 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Kebutuhan tembaga dinilai akan terus meningkat. Namun, jika ingin terus membangun teknologi modern dan menyelamatkan bumi dengan energi hijau, ada kemungkinan harga tembaga perlu berlipat ganda dalam waktu dekat. 

Studi tersebut dari Universitas Michigan (U-M) di Amerika Serikat, yang dipublikasikan di jurnal Energy Research & Social Science.

Baca juga:

Harga tembaga bisa meningkat demi menyelamatkan bumi

Tembaga mendukung kehidupan sehari-hari

Studi menyebut harga tembaga perlu naik signifikan agar pasokan cukup untuk energi terbarukan dan kendaraan listrik hingga 2050.thikstockphotos Studi menyebut harga tembaga perlu naik signifikan agar pasokan cukup untuk energi terbarukan dan kendaraan listrik hingga 2050.

Tim peneliti yang dipimpin oleh ahli geologi U-M, Adam Simon, baru-baru ini meneliti berapa banyak tembaga yang sebenarnya dibutuhkan dunia.

Mereka menemukan bahwa tembaga bertindak seperti "arteri penghubung" untuk semua hal, mulai dari internet berkecepatan tinggi hingga jaringan listrik, dilansir dari Earth, Jumat (20/2/2026).

“Tembaga adalah tulang punggung fundamental bagi pembangunan sosial ekonomi, bertindak sebagai arteri penghubung untuk infrastruktur, kecerdasan digital, dan pembangkitan, transmisi, dan penyimpanan listrik. Tanpa peningkatan pasokan tembaga secara substansial, pembangunan global tidak akan terjadi,” kata Simon.

Saat ini, dunia menambang sekitar 23 juta ton tembaga per tahun. Jika terus hidup seperti saat ini, manusia diprediksi akan membutuhkan 37 juta ton tembaga per tahun pada tahun 2050.

Namun, bila ingin beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik dan 100 persen energi terbarukan, angka itu meroket menjadi 91,7 juta ton. Kondisi tersebut menunjukkan kesenjangan dalam yang harus diisi.

Lantas mengapa manusia tidak menggali dan menemukan lebih banyak tembaga?

Jawabannya terletak pada uang dan waktu. Para peneliti Universitas Michigan menemukan bahwa membangun tambang baru sangat mahal.

Misalnya, sebuah tambang di Mongolia membutuhkan biaya sekitar 18.916 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 319.296) untuk setiap ton tembaga yang diproduksi setiap tahunnya.

Di Amerika Serikat, harga tersebut melonjak menjadi 29.614 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 500 juta) per ton.

Baca juga:

Harga tembaga harus naik

Studi menyebut harga tembaga perlu naik signifikan agar pasokan cukup untuk energi terbarukan dan kendaraan listrik hingga 2050.Dok. Freepik/fabrikasimf Studi menyebut harga tembaga perlu naik signifikan agar pasokan cukup untuk energi terbarukan dan kendaraan listrik hingga 2050.

Saat ini, tembaga dijual sekitar 13.000 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 219,7 juta) per ton. Jika biaya untuk mengeluarkan logam dari tanah lebih tinggi daripada harga jual perusahaan, tidak akan ada yang membangun tambang baru.

Inilah mengapa tim peneliti berpendapat bahwa harga tembaga perlu berlipat ganda. Harga yang lebih tinggi memberi perusahaan pertambangan alasan untuk mengambil risiko memulai proyek baru.

“Hampir pasti harga tembaga harus naik secara substansial jika tingkat penambangan ingin memenuhi ekspektasi seperti biasa, bahkan dari harga tertinggi saat ini,” kata Simon.

Tim peneliti juga mencari cara lain untuk mendapatkan tembaga tanpa hanya membuka tambang baru. Daur ulang adalah awal yang baik, dan para ahli memperkirakan hal itu dapat menghasilkan sekitar 13,4 juta ton pada tahun 2050.

Baca juga: Kemenhut Sebut 191.790 Hektar Hutan Dibuka untuk Tambang Ilegal

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau