Beberapa industri mungkin mencoba menggunakan aluminium atau plastik sebagai pengganti tembaga.
Namun, bahan-bahan tersebut sering kali memiliki biaya tersembunyi di mana bahan-bahan tersebut dapat menciptakan lebih banyak polusi selama proses manufaktur.
Dengan demikian, meski ada daur ulang serta teknologi yang lebih baik, manusia tetap tidak akan memiliki cukup tembaga.
Masalah sebenarnya adalah seberapa cepat manusia bisa mendapatkannya. Saat ini, dibutuhkan waktu bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun untuk mendapatkan persetujuan untuk tambang baru.
Studi Universitas Michigan berpendapat bahwa pemerintah perlu membuat proses perizinan untuk memulai penambangan jauh lebih cepat dan sederhana.
“Kebijakan yang akan mendorong pertambangan meliputi penyederhanaan dan perampingan proses perizinan, peningkatan transparansi pasar global, likuiditas, tata kelola, penentuan harga, dan perjanjian pembelian terjamin untuk membuat proyek pertambangan jangka panjang yang padat modal menjadi layak secara ekonomi,” kata Simon.
Baca juga: Pemerintah Diwanti-wanti Tak Buka Lagi Izin Ekspor Konsentrat Tembaga
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya