KOMPAS.com - Kebutuhan tembaga dinilai akan terus meningkat. Namun, jika ingin terus membangun teknologi modern dan menyelamatkan bumi dengan energi hijau, ada kemungkinan harga tembaga perlu berlipat ganda dalam waktu dekat.
Studi tersebut dari Universitas Michigan (U-M) di Amerika Serikat, yang dipublikasikan di jurnal Energy Research & Social Science.
Baca juga:
Studi menyebut harga tembaga perlu naik signifikan agar pasokan cukup untuk energi terbarukan dan kendaraan listrik hingga 2050.Tim peneliti yang dipimpin oleh ahli geologi U-M, Adam Simon, baru-baru ini meneliti berapa banyak tembaga yang sebenarnya dibutuhkan dunia.
Mereka menemukan bahwa tembaga bertindak seperti "arteri penghubung" untuk semua hal, mulai dari internet berkecepatan tinggi hingga jaringan listrik, dilansir dari Earth, Jumat (20/2/2026).
“Tembaga adalah tulang punggung fundamental bagi pembangunan sosial ekonomi, bertindak sebagai arteri penghubung untuk infrastruktur, kecerdasan digital, dan pembangkitan, transmisi, dan penyimpanan listrik. Tanpa peningkatan pasokan tembaga secara substansial, pembangunan global tidak akan terjadi,” kata Simon.
Saat ini, dunia menambang sekitar 23 juta ton tembaga per tahun. Jika terus hidup seperti saat ini, manusia diprediksi akan membutuhkan 37 juta ton tembaga per tahun pada tahun 2050.
Namun, bila ingin beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik dan 100 persen energi terbarukan, angka itu meroket menjadi 91,7 juta ton. Kondisi tersebut menunjukkan kesenjangan dalam yang harus diisi.
Lantas mengapa manusia tidak menggali dan menemukan lebih banyak tembaga?
Jawabannya terletak pada uang dan waktu. Para peneliti Universitas Michigan menemukan bahwa membangun tambang baru sangat mahal.
Misalnya, sebuah tambang di Mongolia membutuhkan biaya sekitar 18.916 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 319.296) untuk setiap ton tembaga yang diproduksi setiap tahunnya.
Di Amerika Serikat, harga tersebut melonjak menjadi 29.614 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 500 juta) per ton.
Baca juga:
Studi menyebut harga tembaga perlu naik signifikan agar pasokan cukup untuk energi terbarukan dan kendaraan listrik hingga 2050.Saat ini, tembaga dijual sekitar 13.000 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 219,7 juta) per ton. Jika biaya untuk mengeluarkan logam dari tanah lebih tinggi daripada harga jual perusahaan, tidak akan ada yang membangun tambang baru.
Inilah mengapa tim peneliti berpendapat bahwa harga tembaga perlu berlipat ganda. Harga yang lebih tinggi memberi perusahaan pertambangan alasan untuk mengambil risiko memulai proyek baru.
“Hampir pasti harga tembaga harus naik secara substansial jika tingkat penambangan ingin memenuhi ekspektasi seperti biasa, bahkan dari harga tertinggi saat ini,” kata Simon.
Tim peneliti juga mencari cara lain untuk mendapatkan tembaga tanpa hanya membuka tambang baru. Daur ulang adalah awal yang baik, dan para ahli memperkirakan hal itu dapat menghasilkan sekitar 13,4 juta ton pada tahun 2050.
Baca juga: Kemenhut Sebut 191.790 Hektar Hutan Dibuka untuk Tambang Ilegal
Studi menyebut harga tembaga perlu naik signifikan agar pasokan cukup untuk energi terbarukan dan kendaraan listrik hingga 2050.Beberapa industri mungkin mencoba menggunakan aluminium atau plastik sebagai pengganti tembaga.
Namun, bahan-bahan tersebut sering kali memiliki biaya tersembunyi di mana bahan-bahan tersebut dapat menciptakan lebih banyak polusi selama proses manufaktur.
Dengan demikian, meski ada daur ulang serta teknologi yang lebih baik, manusia tetap tidak akan memiliki cukup tembaga.
Masalah sebenarnya adalah seberapa cepat manusia bisa mendapatkannya. Saat ini, dibutuhkan waktu bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun untuk mendapatkan persetujuan untuk tambang baru.
Studi Universitas Michigan berpendapat bahwa pemerintah perlu membuat proses perizinan untuk memulai penambangan jauh lebih cepat dan sederhana.
“Kebijakan yang akan mendorong pertambangan meliputi penyederhanaan dan perampingan proses perizinan, peningkatan transparansi pasar global, likuiditas, tata kelola, penentuan harga, dan perjanjian pembelian terjamin untuk membuat proyek pertambangan jangka panjang yang padat modal menjadi layak secara ekonomi,” kata Simon.
Baca juga: Pemerintah Diwanti-wanti Tak Buka Lagi Izin Ekspor Konsentrat Tembaga
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya