Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Selain pembiayaan fiskal, Indonesia memiliki peluang besar melalui penguatan pasar karbon domestik. Kehadiran IDX Carbon menjadi langkah awal untuk membangun mekanisme perdagangan karbon yang lebih terstruktur dan transparan.
Jika komitmen global menjadi lebih beragam akibat perubahan arah kebijakan negara besar, maka pasar domestik yang kuat akan menjadi pelindung.
Indonesia dapat mendorong kewajiban bertahap bagi sektor energi dan industri, memperluas proyek berbasis alam seperti mangrove dan hutan tropis, serta mengurangi ketergantungan pada pasar karbon sukarela internasional yang volatil.
Dengan potensi cadangan karbon berbasis alam terbesar di kawasan, Indonesia bahkan bisa memosisikan diri sebagai pusat kredit karbon regional—asal tata kelola dan integritas lingkungan dijaga secara ketat.
Indonesia juga terlibat dalam skema Just Energy Transition Partnership (JETP) yang melibatkan berbagai negara maju.
Jika salah satu mitra mengubah prioritasnya, maka strategi yang rasional adalah diversifikasi dan pendalaman kerja sama dengan mitra lain seperti Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.
Namun lebih dari itu, Indonesia perlu menggeser paradigma dari “menunggu komitmen donor” menjadi “menyiapkan proyek bankable”.
Proyek energi terbarukan, efisiensi energi industri, serta sistem ketahanan pesisir harus disiapkan secara matang teknis dan finansial agar menarik bagi investor global mana pun.
Di tengah perubahan arah kebijakan iklim AS, Indonesia memiliki ruang untuk memperkuat peran diplomatiknya di forum seperti G20 dan ASEAN.
Indonesia dapat mendorong konsistensi komitmen negara berkembang sekaligus memperjuangkan keadilan transisi energi.
Jika negara maju mengalami fluktuasi politik domestik, negara berkembang yang stabil dan konsisten justru dapat memperoleh legitimasi moral dan diplomatik yang lebih besar.
Keputusan politik di Washington tidak serta-merta mengguncang proyek iklim di Indonesia. Tidak ada dana yang otomatis terhenti, tidak ada kontrak yang langsung batal. Namun ketidakpastian global adalah kenyataan yang harus diantisipasi.
Alih-alih melihatnya sebagai ancaman, Indonesia dapat menjadikannya momentum untuk memperkuat pembiayaan domestik, mengoptimalkan pasar karbon nasional, mendiversifikasi mitra transisi energi, meningkatkan kesiapan proyek yang layak investasi.
Transisi energi dan adaptasi iklim bukanlah agenda yang bisa ditunda mengikuti siklus politik negara lain.
Ketika satu kekuatan besar mundur, negara lain—termasuk Indonesia—punya kesempatan untuk berdiri lebih mandiri. Dan mungkin, justru dari situ, kepemimpinan baru akan lahir.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya