KOMPAS.com – Upaya reklamasi lahan pascatambang yang dimulai hampir dua dekade lalu oleh PT Vale Indonesia Tbk di kawasan Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel), kini menunjukkan hasil nyata.
Di kawasan konsesi pertambangan nikel tersebut, PT Vale mereklamasi lahan pascatambang lewat pendekatan keberlanjutan yang mencakup pemulihan hutan, konservasi spesies endemik, rehabilitasi pesisir, hingga pengelolaan limbah.
Salah satu jejaknya terlihat di Arboretum Bukit Himalaya, area pascatambang seluas sekitar 30 ha yang mulai direklamasi sejak 2005-2006.
Head of Sorowako Process Operations PT Vale Indonesia Tbk Iqbal Alfarobi mengatakan, kawasan tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Arboretum Bukit Himalaya memang area pascatambang. Kami mulai reklamasi itu kira-kira di tahun sekitar 2005-2006,” ujar Iqbal sebagaimana dikutip dari program “Menjadi Indonesia” di YouTube Kompas.com, Senin (16/2/2026).
Ia menjelaskan, reklamasi dilakukan bekerja sama dengan dinas kehutanan serta akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Hasanuddin (Unhas). Kawasan tersebut juga diresmikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang kala itu dijabat Purnomo Yusgiantoro pada 2006.
Ragam flola dan fauna kini menjadikan Arboretum Bukit Himalaya sebagai habitat sebagai cermin keberhasilan terwujudnya suksesi alami. Setelah hampir 19 tahun, arboretum itu menunjukkan perkembangan signifikan. Tumbuhan dasar, seperti rumput-rumputan tumbuh, anakan pohon mulai muncul, dan pohon-pohon utama, telah menjulang tinggi.
Sejumlah flora khas Sulawesi juga mulai terlihat, seperti buah dengen (Dillenia serrata) dan belimbing bajo (Sarcotheca celebica) yang tumbuh di antara vegetasi reklamasi.
Fauna pun perlahan bermigrasi kembali ke kawasan tersebut. Beberapa satwa endemik yang terpantau antara lain adalah julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix), kuskus Sulawesi (Ailurops ursinus), serta nuri Sulawesi (Tanygnathus sumatranus) yang memanfaatkan kanopi hutan sebagai habitat dan sumber pakan.
Pohon beringin di Arboretum Bukit Himalaya menjadi salah satu tanaman utama yang memadati ekosistem Arboretum Bukit Himalaya di Sorowako. “Salah satu parameter keberhasilan reklamasi itu adalah kemunculan tumbuhan-tumbuhan dasar seperti rumput-rumputan, kemudian ditemukan juga ada anakan-anakan dan pohon-pohon utama yang tinggi. Dan, kemudian juga kami sudah mulai menemukan adanya fauna yang sudah bermigrasi kembali ke area reklamasi tersebut,” kata Iqbal.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara ekologis, area reklamasi mulai berfungsi mendekati rona awalnya.
Perkembangan vegetasi dan fauna yang mulai kembali di Arboretum Himalaya menjadi penanda bahwa proses reklamasi tidak berhenti pada tahap penanaman awal. Seiring waktu, kawasan tersebut mulai menunjukkan dinamika ekosistem yang tumbuh secara alami.
Spv Reclamation & Rehabilitation PT Vale Indonesia Tbk Charles Andrianto menjelaskan, Arboretum Himalaya kini menjadi contoh suksesi alami bisa terjadi di lahan pascatambang.
Menurut dia, kehadiran rotan serta betao kuning yang tumbuh tanpa ditanam langsung menjadi indikator bahwa ekosistem mulai pulih.
“Kalau Arboretum Himalaya belum siap secara ekosistem, tentunya suksesi ini tidak akan terjadi. Maka dari itulah, kami yakin bahwa di area Arboretum Himalaya sudah siap dan sudah terjadi suksesi alami,” ujarnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya