KOMPAS.com - Mayoritas wilayah Samudera Hindia bagian selatan mengalami peningkatan kadar air tawar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Studi terbaru yang diterbitkan di Nature Climate Change ini mengungkapkan, kenaikan suhu global selama 60 tahun terakhir telah mengubah pola angin dan arus laut utama. Pergeseran ini mengalirkan semakin banyak air tawar ke Samudera Hindia bagian selatan.
Baca juga:
Mayoritas wilayah Samudera Hindia bagian selatan mengalami peningkatan kadar air tawar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Para peneliti dari Universitas Colorado Boulder, Amerika Serikat (AS), memperingatkan berbagai dampak di balik tren itu.
Dampaknya, antara lain mengganggu sistem sirkulasi besar yang mengatur iklim di seluruh dunia, memberikan tekanan tambahan pada ekosistem laut, serta membentuk kembali bagaimana laut dan atmosfer berinteraksi.
Kadar garam membantu menentukan bagaimana air laut tersusun dalam lapisan-lapisan, serta membantu bagaimana arus memindahkan panas ke seluruh planet dan seberapa mudah nutrisi dapat mencapai permukaan yang terkena sinar matahari tempat sebagian besar kehidupan laut dimulai.
Itulah mengapa para ilmuwan memberikan perhatian khusus pada perubahan di lepas pantai Australia Barat, yang mana Samudera Hindia bagian selatan mengalami penurunan kadar garam dengan cepat.
“Kita sedang menyaksikan pergeseran besar-besaran dalam cara air tawar bergerak melalui lautan. Hal ini terjadi di wilayah yang memainkan peran kunci dalam sirkulasi laut global," ujar profesor di Departemen Ilmu Atmosfer dan Kelautan, Weiqing Han, dilansir dari SciTechDaily, Jumat (20/2/2026).
Baca juga:
Mayoritas wilayah Samudera Hindia bagian selatan mengalami peningkatan kadar air tawar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagian besar air tawar yang masuk dapat ditelusuri kembali kawasan tropis. Di kawasan itu, air permukaan secara alami diencerkan oleh hujan yang sering turun.
Kawasan tropis membentang dari Samudera Hindia bagian timur hingga Pasifik barat di belahan bumi utara, yang tetap tawar karena curah hujan tinggi dan penguapan relatif rendah.
Para ilmuwan kerap menyebutnya sebagai kolam air tawar Indo-Pasifik. Kolam tersebut tidak terisolasi, melainkan terhubung dengan sirkulasi termohalin, sistem arus global yang terkadang digambarkan sebagai sabuk konveyor karena memindahkan panas, garam, dan air tawar antar cekungan samudra.
Air permukaan hangat dari Indo-Pasifik mengalir ke jalur yang pada gilirannyanya memengaruhi kondisi di Atlantik.
Di Atlantik Utara, air yang diangkut itu mendingin, menjadi lebih padat, tenggelam, dan kemudian kembali ke selatan pada kedalaman tertentu sebelum akhirnya mengalir kembali ke Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Pergeseran kecil dalam salinitas dapat berpengaruh karena garam membantu menentukan kepadatan air laut yang mendorong proses tenggelam dan menyebar sehingga menjaga sistem tetap bergerak.
Perairan di lepas pantai barat daya Australia biasanya permukaannya kering, dengan penguapan melebihi curah hujan. Pola itu secara historis mendukung salinitas yang lebih tinggi dan pengamatan dalam jangka panjang menunjukkan bahwa keseimbangan tersebut sedang berubah.
Para peneliti memperkirakan bahwa yang tertutup air laut asin di Samudera Hindia bagian selatan telah menyusut sekitar 30 persen selama 60 tahun terakhir.
Mereka menggambarkannya sebagai penyusutan air tawar tercepat yang pernah terjadi di belahan bumi selatan.
“Peningkatan kadar air tawar ini setara dengan menambahkan sekitar 60 persen dari volume air tawar Danau Tahoe ke wilayah tersebut setiap tahunnya. Sebagai perbandingan, jumlah air tawar yang mengalir ke wilayah laut ini cukup untuk memasok air minum bagi seluruh penduduk AS selama lebih dari 380 tahun,” tutur penulis utama sekaligus ilmuwan senior di Institut Oseanologi Laut Cina Selatan, Akademi Ilmu Pengetahuan Cina, Gengxin Chen.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya