Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ilmuwan Paparkan Dampak Jangka Panjang Pencairan Es Antartika

Kompas.com, 21 Februari 2026, 16:38 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Para ilmuwan menyoroti seberapa besar risiko yang kita hadapi saat perubahan iklim akibat ulah manusia terus menghangatkan Antartika dengan cepat.

Sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Environmental Science menyimulasikan skenario terbaik dan terburuk dari pemanasan global di Semenanjung Antartika, wilayah paling utara dari daratan utama benua tersebut.

Melansir Euro News, Jumat (20/2/2026) peneliti memperingatkan bahwa masa depan Antartika sangat bergantung pada pilihan yang kita buat hari ini.

Mereka berpendapat bahwa memangkas emisi secara drastis dapat mencegah dampak krisis iklim yang paling parah dan merugikan.

"Meskipun Antartika letaknya sangat jauh, perubahan di sana akan berdampak pada seluruh dunia melalui perubahan permukaan laut, serta perubahan koneksi dan sirkulasi laut dan atmosfer," kata Profesor Bethan Davies dari Newcastle University di Inggris, penulis utama studi tersebut.

"Apa yang terjadi di Antartika, tidak akan menetap di Antartika saja," tambahnya.

Baca juga: Pencairan Es Antartika Ubah Sirkulasi Laut dan Pengaturan Iklim Global

Skenario terburuk Antartika

Para ilmuwan menggunakan beberapa skenario masa depan: emisi rendah di mana suhu naik 1,8 derajat C pada tahun 2100 dibandingkan zaman pra-industri, emisi menengah-tinggi di mana suhu naik 3,6 derajat C, serta emisi sangat tinggi suhu naik 4,4 derajat C.

Selanjutnya, peneliti mengamati delapan aspek berbeda dari lingkungan Semenanjung Antartika yang terdampak oleh kenaikan suhu.

Aspek-aspek ini mencakup ekosistem laut dan darat, es di daratan dan laut, lapisan es, Samudra Selatan, atmosfer, serta peristiwa ekstrem seperti gelombang panas.

Dalam skenario emisi yang lebih tinggi, para peneliti menyimpulkan bahwa Samudra Selatan akan memanas lebih cepat. Air laut yang lebih hangat akan mengikis es baik yang ada di daratan maupun di laut, sehingga meningkatkan risiko runtuhnya lapisan es dan memicu kenaikan permukaan air laut.

Kenaikan permukaan air laut telah lama dikaitkan dengan meningkatnya banjir pesisir dan percepatan pengikisan garis pantai. Untuk setiap satu sentimeter kenaikan air laut, sekitar enam juta orang di planet ini terancam terkena dampak banjir pesisir.

Di bawah skenario emisi tertinggi, luas tutupan es laut bisa berkurang sebesar 20 persen. Hal ini akan membawa dampak besar bagi spesies yang bergantung padanya, seperti krill yang merupakan mangsa penting bagi paus dan penguin.

Pemanasan samudra yang lebih tinggi juga dapat menekan ekosistem dan memicu cuaca ekstrem.

Selain itu, kemungkinan besar banyak spesies akan mencoba bermigrasi ke arah selatan yang merupakan wilayah yang lebih dingin untuk menghindari suhu yang lebih panas.

"Predator berdarah panas mungkin bisa bertahan terhadap perubahan suhu, namun jika mangsa mereka tidak bisa bertahan, maka mereka akan mati kelaparan," demikian pernyataan laporan tersebut.

Perubahan iklim juga mengancam kegiatan penelitian di Antartika. Kerusakan infrastruktur akibat kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan es yang mencair akan menyulitkan para ilmuwan untuk mengumpulkan data yang mereka butuhkan guna meramalkan dampak pemanasan suhu di masa depan.

Penelitian di Antartika terus ditingkatkan dalam beberapa tahun terakhir, bahkan para ilmuwan mencoba membangun tembok sepanjang 150 meter untuk mencegah 'Gletser Kiamat' memicu banjir global.

Baca juga: Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?

Bisakah pengurangan emisi menyelamatkan Antartika?

Menurut Davies, saat ini kita sedang berada di jalur menuju masa depan dengan tingkat emisi menengah hingga menengah-tinggi.

"Meski tren kehilangan es dan peristiwa ekstrem saat ini akan terus berlanjut, dampaknya akan bisa diredam dengan skenario emisi yang lebih rendah dibandingkan jika kita berada di bawah skenario emisi tinggi," katanya.

Lebih lanjut, Davies menyebut bahwa volume es laut di musim dingin hanya akan menyusut sedikit dibandingkan saat ini, yang artinya kenaikan permukaan laut akan terbatas hanya beberapa milimeter.

Sebagian besar gletser juga tidak hilang dan lapisan es yang menopangnya akan tetap bertahan.

Kendati demikian Davies mengkhawatirkan bahwa skenario emisi yang tinggi akan membuat beberapa perubahan yang permanen.

Ia mencontohkan akan sulit untuk menumbuhkan kembali gletser dan mengembalikan satwa liar yang membuat Antartika istimewa. Jika tidak melakukan perubahan sekarang, generasi mendatang harus menanggung konsekuensinya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
Pemerintah
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
LSM/Figur
'Blue Carbon' Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
"Blue Carbon" Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
Swasta
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
LSM/Figur
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau