Sebelumnya, Belantara Foundation mendorong upaya mitigasi konflik manusia dan gajah sumatera melalui pendekatan koeksistensi. Mitigasi konflik tersebut diperlukan karena populasi gajah sumatra jumlahnya menurun dari tahun ke tahun.
“Selain mengoptimalkan fungsi koridor ekologis yang telah disepakati para pemangku kepentingan untuk mengakomodasi terjadinya interaksi gajah antar kelompok, diperlukan upaya jitu untuk solusi terbaik atas semakin seringnya rombongan gajah liar masuk desa dan memakan tanaman padi masyarakat,” kata Direktur Belantara Dolly Priatna dalam keterangan resmi, Selasa (21/10/2025).
Meski tidak mudah, ia percaya bahwa konsep koeksistensi atau hidup berdampingan secara harmonis bisa diterapkan dalam mitigasi konflik manusia-gajah di Lanskap Sugihan-Simpang Heran.
Hal itu bisa terwujud asalkan semua stakeholders (pemangku kepentingan) yang ada lanskap, seperti pemerintah pusat dan daerah, para pelaku usaha, lembaga konservasi, akademisi, serta media, bahu-membahu membangun strategi bersama yang saling bersinergi.
Sebagai informasi, pada tahun 1980-an populasi gajah di Sumatera diperkirakan berjumlah 2.800 sampai 4.800 individu.
Kemudian, data Departemen Kehutanan tahun 2007 menyebutkan jumlah populasi gajah sumatra menurun menjadi sekitar 2.400 sampai 2.800 individu.
Penurunan jumlah populasi gajah sumatera terus berlanjut. Selama periode 2007-2017 populasi gajah sumatera menurun 21,2 persen atau setara dengan kehilangan sekitar 700 individu, dan jumlahnya di alam menjadi sekitar 1.694 sampai 2.038 individu pada tahun 2017.
Hasil penghitungan tahun 2019, jumlah gajah sumatra di alam diperkirakan tinggal 928 sampai 1.379 individu yang kondisinya tersebar di 23 kantong populasi yang terpisah satu sama lain.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya