Sementara itu, investasi rantai pasokan energi bersih naik enam persen menjadi 127 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.136,3 triliun). Angka ini mencerminkan pengeluaran untuk pabrik panel surya, baterai, alat elektrolisis, dan peralatan angin, serta investasi pada pertambangan dan fasilitas pengolahan logam baterai.
Pertumbuhan ini dipimpin oleh manufaktur dan bahan baku baterai, meskipun BloombergNEF memperingatkan bahwa kelebihan kapasitas terus membebani semua sektor rantai pasok energi bersih.
Dengan demikian, meskipun investasi secara keseluruhan masih naik, tekanan penurunan harga produk teknologi bersih diperkirakan akan terus berlanjut.
BloombergNEF menyatakan bahwa dominasi China dalam manufaktur teknologi bersih mulai berkurang secara bertahap seiring Amerika Serikat, Uni Eropa, dan India memperluas rantai pasokan domestik mereka, meskipun China diperkirakan akan tetap menjadi investor terbesar selama bertahun-tahun ke depan.
Lembaga tersebut juga memperingatkan adanya risiko bahwa investasi manufaktur energi angin tertinggal dari apa yang dibutuhkan untuk mencapai target emisi nol bersih, sedangkan pasokan logam baterai masa depan bisa menjadi langka jika penambahan proyek baru melambat.
Baca juga: AI Bisa Bantu Transisi Energi Negara Berkembang
Asia-Pasifik tetap menjadi wilayah terbesar untuk investasi transisi energi, mencakup 47 persen dari total global pada tahun 2025.
China memimpin pengeluaran secara keseluruhan sebesar 800 miliar dollar AS (sekitar Rp 15.459 triliun), meskipun negara tersebut mencatat penurunan pertama dalam investasi energi terbarukan sejak tahun 2013.
Sementara itu, investasi di India naik 15 persen menjadi 68 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.143,3 triliun).
Eropa memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan global, dengan investasi Uni Eropa melonjak 18 persen hingga mencapai 455 miliar dollar AS (sekitar Rp 7.650 triliun), meskipun terdapat hambatan kebijakan dan biaya.
Investasi Amerika Serikat meningkat 3,5 persen menjadi 378 miliar dollar AS (sekitar Rp 6.358 triliun), meskipun pemerintahan Trump bergerak untuk memperlambat aspek-aspek agenda transisi energi dengan menarik pendanaan subsidi dan memblokir beberapa proyek energi angin.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya