KOMPAS.com - Konflik antara gajah dengan manusia semakin parah dalam 10 tahun terakhir, yang dipicu oleh banyaknya habitat gajah banyak beralih fungsi untuk hutan produksi dan lahan pertanian, terutama perkebunan kelapa sawit.
Yang awalnya habitat gajah di Sumatera sebenarnya bukan sekadar kawasan hutan. Ada pula area penggunaan lain (APL) yang dulunya tutupannya memang hutan.
“Tinggi banget, di Sumatra terutama. Ya betul semakin parah memang 10 tahun terakhir, saya perhatikan ya," ujar Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna kepada Kompas.com, Senin (23/2/2026).
Baca juga: Gajah Mati Terlilit Kawat Listrik di Aceh, Ahli Soroti Penggunaan Pagar Listrik
Selain itu, konflik antara manusia dengan gajah masih erat kaitannya dengan pertumbuhan penduduk di Sumatera yang cukup signifikan dalam 10 tahun terakhir.
Ekspansi perkebunan melalui alih fungsi lahan untuk berbagai kepentingan, menyusutkan wilayah yang dihuni gajah.
Secara naluriah, gajah sebenarnya enggan berinteraksi dengan manusia. Gajah akan melintasi wilayah yang dulunya pernah dijelajahinya. Ketika lanskap wilayah jelajahnya berubah menjadi perkebunan atau permukiman, gajah tetap akan memasukinya dengan keterpaksaan.
Secara teori, ketersediaan makanan di dalam hutan atau manusia menyiapkannya, otomatis gajah akan mencari tempat lainnya.
"Nah, kebetulan umbut sawit (bagian ujung titik tumbuh batang kelapa sawit yang lunak dan berwarna putih) disukai gajah. Jadi, dimakan gajah yang masih bisa menjangkaunya, kecuali tanamannya sudah besar dan satwa itu ti mungkin lagi memakan pucuknya. Itu sudah aman sebetulnya," tutur Dolly.
Tanaman kelapa sawit berusia di bawah 5 tahun memang rentan menjadi sasaran gajah. Biasanya, perusahaan perkebunan sawit di Sumatera mencegah gajah masuk ke area tanaman muda dengan memasang electric fencing atau pagar kawat berarus listrik tegangan rendah.
Lainnya, dengan menggali parit di pinggir kawasan hutan untuk membatasi pergerakan gajah masuk ke perkebunan kelapa sawit.
Perusahaan perkebunan kelapa sawit mempunyai modal untuk membangun penghalang agar gajah tidak bisa melintas ke wilayahnya.
Pembukaan perkebunan kelapa sawit berskala besar dengan berbagai penghalangnya, mendorong gajah ke wilayah yang memang berbatasan secara langsung dengan permukiman atau kebun milik rakyat.
"(Konflik manusia dengan gajah) di Aceh tinggi betul, karena memang kondisinya populasi gajah (di Sumatera) paling besar di wilayah Aceh dan banyak desa-desa memang berbatasan langsung dengan habitat gajah. Jadi, ketika areal mereka dikembangkan (akan memicu konflik)," ucapnya.
Terbaru, gajah mati diduga tersengat kawat listrik bertegangan tinggi yang dipasang di area perkebunan warga di Kabupaten Aceh Tengah, pada Jumat (20/2/2026). Menurut Dolly, pagar kawat yang dialiri listrik tegangan tinggi memang kerap dipasang di perkebunan kelapa sawit rakyat di Sumatera.
Selain gajah, tren konflik antara manusia dan satwa liar di Sumatera juga meningkat dalam 10 tahun terakhir. Misalnya, intensitas konflik antara manusia dengan satwa liar di Sumatera Selatan semakin tinggi dalam 5 tahun terahir.
"Saya bekerja di sana itu sejak tahun 2004, saya sudah bolak-balik ke Sumsel itu dan baru 5 tahun terakhir ini intensitasnya kelihatan tinggi gajah mendekati pemukiman," ujar Dolly.
Menurut Dolly, populasi gajah di Sumatera masih viable atau bisa bertahan untuk jangka panjang. Dalam skenario tanpa kasus perburuan atau gajah bisa hidup nyaman, populasinya yang saling terhubung minimal 100 individu.
Baca juga: Warga di Aceh Tewas Diduga Terinjak Gajah Liar, Ini Penjelasan BKSDA
Saat ini, terdapat 22 kantong populasi gajah di Sumatera yang tidak semuanya viable. Kecuali, kalau dibangun koridor-koridor di antara berbagai kantong populasi kecil tadi, yang dalam ilmu biologi disebut metapopulasi.
Kantong populasi gajah yang kecil dihubungkan melalui koridor agar jumlahnya dapat mencapai minimal 100 individu atau viable, dengan catatan tidak ada gajah terbunuh akibat konflik dengan manusia.
Kini, jumlah gajah di seluruh Sumatera memang masih ribuan individu, tetapi tersebar dalam 22 kantong populasi.
"Nah kantong-kantong ini sebetulnya banyak yang punya potensi untuk hidup secara jangka panjang dengan catatan tadi populasi-populasi kecil yang terpisah itu harus dihubungkan melalui koridor-koridor satwa liar, koridor-koridor yang memungkinkan gajah bisa saling bertemu tadi," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya