Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Guru MAN di Jakarta Barat Ini Buat Inovasi Kudapan Pencegah Anemia Bagi Remaja Putri

Kompas.com, 25 Februari 2026, 08:30 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Setiap pemeriksaan kesehatan rutin di sekolah selalu menyisakan temuan yang sama. Banyaknya remaja putri dengan kadar hemoglobin yang rendah.

Di MAN 16 Jakarta Barat, kondisi ini tidak lagi dipandang sebagai angka yang sekadar dicatat. Dari kegelisahan tersebut, Dwi Karuniawan, Elang Faisal Hudayabrata, dan Siti Marwiyah, guru-guru yang tergabung dalam Betapholus ini mengembangkan biskuit tinggi zat besi dan asam folat sebagai upaya sederhana untuk membantu mengatasi anemia.

Inovasi ini juga berhasil mengantarkan Betapholus menjadi pemenang kategori Physical Well-Being dalam Kompetisi ASRI 2025.

Bagi para guru tersebut, anemia pada remaja putri menjadi persoalan yang sering ditemukan. Tubuh tiba-tiba terasa cepat lelah, konsentrasi menurun, tetapi hal itu masih sering dianggap wajar. Padahal, kondisi ini sebenarnya akan berpengaruh pada tumbuh kembang, kesehatan reproduksi, hingga kualitas generasi di masa depan.

Baca juga: Stunting Bukan Urusan Kaum Ibu Saja

Fakta itu terus muncul setiap kali hasil pemeriksaan kesehatan dibagikan. Pertanyaannya kemudian bukan lagi soal seberapa sering masalah ini ditemukan, melainkan apa yang bisa dilakukan agar ia tidak terus berulang?

Aksi Nyata

Betapholus lahir menjadi solusi di tengah keprihatinan akan anemia pada remaja putri ini. Para guru di MAN 16 Jakarta Barat melihat bahwa intervensi kesehatan tidak selalu harus rumit atau mahal.

Asupan gizi yang tepat dan disampaikan lewat cara yang akrab dengan keseharian siswa, justru bisa menjadi langkah awal yang realistis. Mereka mengembangkan biskuit berbahan tepung kacang merah dan bit, dua bahan yang dikenal kaya zat besi dan asam folat.

Setiap kepingnya dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi, tanpa mengubah pola makan secara drastis. Bukan obat dan bukan suplemen medis, melainkan kudapan yang mudah diterima.

Prototipe Inovasi Biskuit Tinggi Zat Besi dan Asam Folat tim Betapholus (Dok. Tim)Dok. Tim Prototipe Inovasi Biskuit Tinggi Zat Besi dan Asam Folat tim Betapholus (Dok. Tim)

Pendekatan ini membuat perhatian terhadap kesehatan tidak hadir sebagai larangan atau kewajiban, tetapi sebagai pilihan yang lebih ramah.

Lewat Kebiasaan Sehari-hari

Proyek Betapholus tidak berdiri sebagai produk semata. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa kesehatan siswa adalah bagian dari proses pendidikan. Para guru menyadari, solusi tidak selalu harus sepenuhnya baru. Kadang, yang dibutuhkan adalah menyesuaikan ide yang sudah ada dengan kebutuhan dan konteks sekolah.

Baca juga: Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total

Hasil pengujian menunjukkan bahwa konsumsi biskuit Betapholus berkontribusi pada peningkatan kadar hemoglobin siswa. Bagi para guru, temuan ini bukan sekadar capaian angka, tetapi penanda bahwa perhatian kecil dapat membawa perubahan yang nyata.

Dampaknya pun terasa di lingkungan sekolah. Kesadaran tentang pentingnya asupan gizi mulai tumbuh. Percakapan tentang kesehatan tidak lagi terbatas pada ruang UKS atau momen pemeriksaan rutin, tetapi perlahan masuk ke keseharian siswa.

Potensi Pengembangan Produk

Kesadaran berikutnya muncul dengan sendirinya. Inisiatif ini tidak harus berhenti di satu sekolah. Dengan pendampingan yang tepat, biskuit Betapholus dapat diterapkan di sekolah lain yang menghadapi persoalan serupa.

Agar hal itu terwujud, tentu dibutuhkan dukungan lanjutan. Legalitas produk, seperti sertifikasi halal dan izin BPOM, menjadi salah satu langkah penting agar inovasi ini dapat diproduksi dan didistribusikan secara lebih luas.

Dukungan pendanaan pun juga diperlukan agar manfaatnya bisa dirasakan oleh lebih banyak lagi remaja putri.

Baca juga: Kenaikan CO2 dan Pemanasan Global Bisa Pengaruhi Ketahanan Pangan

Bagi Betapholus, tujuan akhirnya bukan hanya peningkatan kadar hemoglobin, tetapi juga membuat ini sebagai suatu kebiasaan. Mungkin, persoalan kesehatan sering terasa jauh dari perhatian kita.

Namun, kisah ini menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Jika sebuah sekolah bisa memulai dari dapurnya sendiri, pertanyaannya sekarang beralih kepada kita. Langkah kecil apa yang bisa kita lakukan hari ini untuk ikut menjaga kualitas hidup generasi berikutnya?

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
LSM/Figur
Pertama Kali, Tesla Tetapkan Target Bebas Emisi pada 2040
Pertama Kali, Tesla Tetapkan Target Bebas Emisi pada 2040
Swasta
Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...
Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...
Swasta
Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat
Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat
BrandzView
Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
LSM/Figur
Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Pemerintah
Saat Tambak Tak Lagi Harus Meluas demi Kejar Produksi...
Saat Tambak Tak Lagi Harus Meluas demi Kejar Produksi...
Swasta
EY: Perusahaan di Indonesia Mulai Beralih ke Standar Pelaporan Keberlanjutan IFRS
EY: Perusahaan di Indonesia Mulai Beralih ke Standar Pelaporan Keberlanjutan IFRS
Swasta
Pilihan Makanan Berdasarkan Usia Bisa Pengaruhi Emisi Global, Kok Bisa?
Pilihan Makanan Berdasarkan Usia Bisa Pengaruhi Emisi Global, Kok Bisa?
Pemerintah
Pulau Tropis Diintai Risiko Panas Lembap Berbahaya
Pulau Tropis Diintai Risiko Panas Lembap Berbahaya
Pemerintah
CEO KG: Jurnalisme Solusi dan Isu Keberlanjutan Jadi Peluang Baru di Tengah Tren 'News Avoidance'
CEO KG: Jurnalisme Solusi dan Isu Keberlanjutan Jadi Peluang Baru di Tengah Tren "News Avoidance"
LSM/Figur
BRIN Kembangkan Katalis Baru untuk Tingkatkan Efisiensi Produksi Bioavtur
BRIN Kembangkan Katalis Baru untuk Tingkatkan Efisiensi Produksi Bioavtur
LSM/Figur
Permintaan Listrik Dunia Naik, IEA Proyeksikan Emisi Karbon Naik 1 Persen pada 2026
Permintaan Listrik Dunia Naik, IEA Proyeksikan Emisi Karbon Naik 1 Persen pada 2026
Pemerintah
Survei: 92 Persen CFO Hadapi Tekanan untuk Buktikan Nilai Ekonomis AI
Survei: 92 Persen CFO Hadapi Tekanan untuk Buktikan Nilai Ekonomis AI
Pemerintah
Peta Global Ungkap Beban Berat Hutan dan Biodiversitas Akibat Tambang
Peta Global Ungkap Beban Berat Hutan dan Biodiversitas Akibat Tambang
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau