KOMPAS.com - Cuaca ekstrem akibat perubahan iklim bukan lagi sekadar masalah klaim asuransi biasa, melainkan sudah menjadi ancaman nyata bagi kestabilan seluruh sistem keuangan.
Menurut studi terbaru dari MSCI Institute, kecemasan ini dirasakan sangat mendalam di wilayah Asia-Pasifik.
Baca juga:
Studi tersebut menyurvei 50 perusahaan asuransi properti dan kerugian serta perusahaan reasuransi besar, yang mana hampir seperempatnya berasal dari wilayah tersebut.
Mayoritas perusahaan asuransi di Asia Pasifik menyampaikan, meskipun mereka merasa siap secara mandiri dalam menghadapi bahaya fisik yang kian meningkat, mereka menilai industri asuransi secara keseluruhan belum cukup siap, dilansir dari Eco Business, Senin (2/3/2026).
Separuh dari responden di Asia Pasifik menyatakan bahwa sektor asuransi belum siap menghadapi tantangan iklim.
Angka ini mencerminkan kekhawatiran yang serupa di Amerika Utara (62 persen) dan Eropa (46 persen).
Kesenjangan kesiapan ini menunjukkan kekhawatiran yang semakin besar bahwa cuaca ekstrem yang terus memburuk dapat mengguncang sistem keuangan secara luas, bukan sekadar memengaruhi neraca keuangan perusahaan asuransi.
Baca juga:
Studi ungkap separuh perusahaan asuransi di Asia Pasifik menilai sektor ini belum siap menghadapi risiko cuaca ekstrem dan krisis iklim.Kecemasan tersebut hampir merata di seluruh kawasan Asia Pasifik. Setiap perusahaan asuransi yang disurvei di kawasan ini melaporkan tingkat kekhawatiran dari moderat hingga sangat tinggi bahwa risiko fisik terkait iklim dapat memicu kerugian finansial yang bersifat sistemik.
Selain itu, mereka semua menyatakan kekhawatiran tinggi mengenai apakah infrastruktur di lokasi-lokasi rentan masih bisa diasuransikan di masa depan.
Mengingat Asia merupakan tempat bagi banyak megapolitan, aset pesisir, dan pusat manufaktur yang paling terpapar dampak iklim di dunia, perusahaan asuransi di kawasan ini semakin menghadapi kemungkinan bahwa sebagian dari bangunan dan infrastruktur yang ada menjadi terlalu berisiko atau terlalu mahal untuk diasuransikan.
Namun, meski sudah sadar akan risikonya, kawasan Asia Pasifik memiliki celah terbesar antara niat dan tindakan.
Sebanyak 64 persen perusahaan asuransi di kawasan ini sangat khawatir dengan ancaman sistemik, tapi 63 persen di antaranya mengakui bahwa mereka masih berada di tahap awal atau menengah dalam menyusun strategi untuk menanganinya.
"Cuaca ekstrem dan berbagai risiko fisik lainnya telah membuat cara lama industri asuransi dalam memprediksi masa depan menjadi tidak berguna. Data dari masa lalu tidak lagi bisa dijadikan acuan untuk memprediksi risiko di masa depan," kata Alex Koukoudis dari Lloyd’s Market Association dalam laporan tersebut.
Koukoudis menggambarkan temuan ini sebagai sebuah paradoks kesiapan ketika perusahaan asuransi merasa diri mereka mampu, tapi di saat yang sama, mereka sangat khawatir akan ketahanan industri mereka secara keseluruhan.
Baca juga: Bencana Alam Terus Memberikan Tekanan pada Pasar Asuransi Global
Studi ungkap separuh perusahaan asuransi di Asia Pasifik menilai sektor ini belum siap menghadapi risiko cuaca ekstrem dan krisis iklim.Lebih lanjut, praktik tata kelola perusahaan masih menjadi titik lemah di sektor asuransi. Hampir 70 persen perusahaan asuransi di dunia tidak memasukkan target iklim ke dalam penilaian kinerja atau bonus eksekutif mereka.
Masalah ini terjadi di semua wilayah, termasuk 67 persen di Asia Pasifik.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa tanpa adanya sistem pertanggungjawaban yang jelas, perusahaan berisiko tertinggal jauh dari kecepatan ancaman iklim yang terus berkembang.
Sementara itu, kerugian akibat iklim meningkat dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
Menurut perusahaan reasuransi Swiss Re, kerugian bencana alam yang ditanggung asuransi pada tahun 2025 telah melampaui Rp Rp1.691 triliun untuk tahun keenam berturut-turut.
MSCI memperkirakan bahwa kerugian akibat bahaya fisik bisa naik hampir empat kali lipat pada tahun 2050 dibandingkan dengan tahun 2024.
Laporan tersebut mencatat bahwa kombinasi antara pertumbuhan aset yang terpapar, pemusatan infrastruktur yang padat, dan bahaya iklim yang berubah cepat membuat kawasan Asia menjadi sangat rentan.
Baca juga: OJK dan Inggris Luncurkan Kelompok Kerja Pembiayaan Iklim
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya