Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Bikin Industri Asuransi Asia Pasifik Cemas

Kompas.com, 4 Maret 2026, 15:29 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Cuaca ekstrem akibat perubahan iklim bukan lagi sekadar masalah klaim asuransi biasa, melainkan sudah menjadi ancaman nyata bagi kestabilan seluruh sistem keuangan.

Menurut studi terbaru dari MSCI Institute, kecemasan ini dirasakan sangat mendalam di wilayah Asia-Pasifik.

Baca juga: 

Perusahaan asuransi dan cuaca ekstrem akibat krisis iklim

Studi tersebut menyurvei 50 perusahaan asuransi properti dan kerugian serta perusahaan reasuransi besar, yang mana hampir seperempatnya berasal dari wilayah tersebut. 

Mayoritas perusahaan asuransi di Asia Pasifik menyampaikan, meskipun mereka merasa siap secara mandiri dalam menghadapi bahaya fisik yang kian meningkat, mereka menilai industri asuransi secara keseluruhan belum cukup siap, dilansir dari Eco Business, Senin (2/3/2026).

Separuh dari responden di Asia Pasifik menyatakan bahwa sektor asuransi belum siap menghadapi tantangan iklim.

Angka ini mencerminkan kekhawatiran yang serupa di Amerika Utara (62 persen) dan Eropa (46 persen).

Kesenjangan kesiapan ini menunjukkan kekhawatiran yang semakin besar bahwa cuaca ekstrem yang terus memburuk dapat mengguncang sistem keuangan secara luas, bukan sekadar memengaruhi neraca keuangan perusahaan asuransi.

Baca juga:

Kecemasan di Asia Pasifik

Studi ungkap separuh perusahaan asuransi di Asia Pasifik menilai sektor ini belum siap menghadapi risiko cuaca ekstrem dan krisis iklim.Marti Bug Catcher/ Shutterstock Studi ungkap separuh perusahaan asuransi di Asia Pasifik menilai sektor ini belum siap menghadapi risiko cuaca ekstrem dan krisis iklim.

Kecemasan tersebut hampir merata di seluruh kawasan Asia Pasifik. Setiap perusahaan asuransi yang disurvei di kawasan ini melaporkan tingkat kekhawatiran dari moderat hingga sangat tinggi bahwa risiko fisik terkait iklim dapat memicu kerugian finansial yang bersifat sistemik.

Selain itu, mereka semua menyatakan kekhawatiran tinggi mengenai apakah infrastruktur di lokasi-lokasi rentan masih bisa diasuransikan di masa depan.

Mengingat Asia merupakan tempat bagi banyak megapolitan, aset pesisir, dan pusat manufaktur yang paling terpapar dampak iklim di dunia, perusahaan asuransi di kawasan ini semakin menghadapi kemungkinan bahwa sebagian dari bangunan dan infrastruktur yang ada menjadi terlalu berisiko atau terlalu mahal untuk diasuransikan.

Namun, meski sudah sadar akan risikonya, kawasan Asia Pasifik memiliki celah terbesar antara niat dan tindakan.

Sebanyak 64 persen perusahaan asuransi di kawasan ini sangat khawatir dengan ancaman sistemik, tapi 63 persen di antaranya mengakui bahwa mereka masih berada di tahap awal atau menengah dalam menyusun strategi untuk menanganinya.

"Cuaca ekstrem dan berbagai risiko fisik lainnya telah membuat cara lama industri asuransi dalam memprediksi masa depan menjadi tidak berguna. Data dari masa lalu tidak lagi bisa dijadikan acuan untuk memprediksi risiko di masa depan," kata Alex Koukoudis dari Lloyd’s Market Association dalam laporan tersebut.

Koukoudis menggambarkan temuan ini sebagai sebuah paradoks kesiapan ketika perusahaan asuransi merasa diri mereka mampu, tapi di saat yang sama, mereka sangat khawatir akan ketahanan industri mereka secara keseluruhan.

Baca juga: Bencana Alam Terus Memberikan Tekanan pada Pasar Asuransi Global

Tata kelola perusahaan asuransi

Studi ungkap separuh perusahaan asuransi di Asia Pasifik menilai sektor ini belum siap menghadapi risiko cuaca ekstrem dan krisis iklim.Pexels/Guilherme Christmann Studi ungkap separuh perusahaan asuransi di Asia Pasifik menilai sektor ini belum siap menghadapi risiko cuaca ekstrem dan krisis iklim.

Lebih lanjut, praktik tata kelola perusahaan masih menjadi titik lemah di sektor asuransi. Hampir 70 persen perusahaan asuransi di dunia tidak memasukkan target iklim ke dalam penilaian kinerja atau bonus eksekutif mereka.

Masalah ini terjadi di semua wilayah, termasuk 67 persen di Asia Pasifik.

Laporan tersebut memperingatkan bahwa tanpa adanya sistem pertanggungjawaban yang jelas, perusahaan berisiko tertinggal jauh dari kecepatan ancaman iklim yang terus berkembang.

Sementara itu, kerugian akibat iklim meningkat dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

Menurut perusahaan reasuransi Swiss Re, kerugian bencana alam yang ditanggung asuransi pada tahun 2025 telah melampaui Rp Rp1.691 triliun untuk tahun keenam berturut-turut.

MSCI memperkirakan bahwa kerugian akibat bahaya fisik bisa naik hampir empat kali lipat pada tahun 2050 dibandingkan dengan tahun 2024.

Laporan tersebut mencatat bahwa kombinasi antara pertumbuhan aset yang terpapar, pemusatan infrastruktur yang padat, dan bahaya iklim yang berubah cepat membuat kawasan Asia menjadi sangat rentan.

Baca juga: OJK dan Inggris Luncurkan Kelompok Kerja Pembiayaan Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau