JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Prabowo Subianto disebut memerintahkan Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mengembangkan hilirisasi tujuh komoditas. Ketujuh komoditas tersebut masih didominasi perkebunan rakyat.
"Tebu, kelapa, kopi, lada, kakao, jambu mete, dan pala yang notabene hampir 90 persen perkebunan rakyat. Nah, kalau bisa dorong pertumbuhannya menyerupai pengembangan sawit, tidak mustahil Indonesia akan menjadi negara adidaya dalam bidang agraris," kata Direktur Perlindungan Perkebunan, Kementan, Hendratmojo Bagus Hudoro di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Baca juga:
Presiden Prabowo mendorong hilirisasi tujuh komoditas, seperti tebu, kopi, dan kakao. Kementan akan meniru model sukses sawit.Indonesia berhasil mengembangkan skema kemitraan inti-plasma dalam perkebunan kelapa sawit. Bahkan, sampai saat ini, disebut masih banyak investor tertarik untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit dengan skema kemitraan inti-plasma.
Namun, di luar kelapa sawit, komoditas lain masih kurang dilirik investor.
Hilirisasi menjadi arah dan tujuan perkebunan ke depannya. Dalam dua sampai tiga tahun ke depan, Ditjen Perkebunan Kementan akan membangun pondasi untuk bagian hulu dari tujuh komoditas itu.
"Kalau sawit dibangun pondasinya pada tahun 80-an, kita sekarang membangun pondasi tujuh komoditas dalam dua-tiga tahun ini. Pasti pertanyaannya konsepnya hilirisasi, tapi kenapa kegiatannya hanya peremajaan yang luas? Kan membangun dulu kebunnya, karena mau menjamin keberlanjutan," tutur Hendratmojo.
Aspek hulu atau bagian perkebunan dari ketujuh komoditas tersebut masih "rapuh". Maka dari itu, diperlukan penguatan dari perkebunannya terlebih dahulu melalui peremajaan tanaman-tanaman yang sudah tua.
"Jadi sekarang belum ada intensifikasi, kenapa? Masih membangun kebun dari awal. Insyaallah, nanti tahun 2035 sudah kita dudukkan investasi untuk hilirisasinya. Kalau bangun pabrik saya kira tidak sulit, ada investasi, bangun, setahun jadi, tetapi siapa yang menjamin keberlanjutan bahan bakunya? Enggak," ucapnya.
Baca juga:
Presiden Prabowo mendorong hilirisasi tujuh komoditas, seperti tebu, kopi, dan kakao. Kementan akan meniru model sukses sawit.Dalam mengembangkan tujuh komoditas secara komprehensif dari hulu ke hilir, kata dia, Kementan akan menjadikan kelapa sawit sebagai contoh yang layak untuk ditiru.
Hingga saat ini, kelapa sawit masih menjadi komoditas penyumbang produk domestik bruto (PDB) terbesar pada sektor pertanian. Tanpa mempertimbangkan aspek keberlanjutan, kontribusi komoditas kelapa sawit terhadap perekonomian nasional akan menurun.
Berdasarkan data Ditjen Perkebunan, terdapat 16,83 juta hektar tutupan kelapa sawit di Indonesia, dengan estimasi produksi sebanyak 48,12 juta ton crude palm oil (CPO) pada 2025.
Namun, capaian tersebut masih jauh dari harapan karena masih sekitar 67 persen kapasitas produksi yang dioptimalisasi.
Menurut Hendratmojo, masih banyak pekerjaan rumah (PR) untuk mengoptimalkan potensi peningkatan produktivitas dari keunggulan luas lahan perkebunan kelapa sawit.
Produktivitas perkebunan kelapa sawit rata-rata 3,6 ton per hektar atau tertinggi dibandingkan minyak nabati lainnya. Untuk menghasilkan satu ton CPO per tahun, kelapa sawit hanya membutuhkan lahan seluas 0,26-0,3 hektar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri kelapa sawit menyerap 9,7 juta tenaga kerja langsung dan 6,8 juta tenaga kerja tidak langsung.
Dari situ, pemerintah Indonesia mempunyai alasan yang kuat untuk menjaga stabilitas produktivitas dan keberlanjutan tata kelola kelapa sawit.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya