Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim Bikin Serangga di Daerah Tropis Sulit Beradaptasi

Kompas.com, 5 Maret 2026, 19:07 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Hampir setengah populasi serangga di wilayah Amazon, Brasil, berisiko terpapar panas akibat pemanasan global yang disebabkan aktivitas manusia. 

Hal tersebut menurut sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Universitas Würzburg dan Universitas Bremen, Jerman.

Masalahnya, serangga tidak otomatis bisa beradaptasi dengan suhu panas di tempat tinggal mereka, dilansir dari Phys.org, Kamis (5/3/2026). 

Baca juga: 

Perubahan iklim ancam kehidupan serangga

Serangga tidak semudah itu beradaptasi dengan suhu panas

Menurut penulis studi Dr. Kim Holzmann, peneliti di Bagian Ekologi Hewan dan Biologi Tropis di Julius-Maximilians-Universität Würzburg (JMU), serangga di pegunungan memang bisa menyesuaikan diri dengan suhu panas dalam jangka pendek.

Kendati demikian, banyak serangga di dataran rendah tidak punya kemampuan itu.

"Evaluasi terkini mengenai toleransi panas serangga seperti ngengat, lalat, dan kumbang memberikan gambaran yang berbeda-beda. Namun, pada saat yang sama, cukup mengkhawatirkan," ucap Holzmann. 

Konsekuensi yang mengancam seluruh ekosistem

Serangga tidak otomatis bisa beradaptasi dengan suhu panas di tempat tinggal mereka akibat pemanasan global.SHUTTERSTOCK/szefei Serangga tidak otomatis bisa beradaptasi dengan suhu panas di tempat tinggal mereka akibat pemanasan global.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature ini menegaskan bahwa serangga di daerah tropis hampir tidak bisa beradaptasi dengan perubahan iklim.

Dr. Marcell Peters, pakar ekologi hewan dari Universitas Bremen, menjelaskan, suhu yang semakin panas bisa berdampak cukup buruk bagi jumlah serangga, terutama di wilayah yang memiliki banyak sekali jenis makhluk hidup.

Sementara itu, serangga punya peran penting sebagai penyerbuk tanaman, pengurai sampah, dan pemangsa alami. Hilangnya mereka bisa mengganggu keseimbangan seluruh ekosistem alam.

Lebih lanjut, peneliti menyampaikan bahwa kemampuan alami serangga untuk menahan panas sudah tertanam dalam tubuh mereka.

Hal ini membuat mereka tidak bisa dengan cepat beradaptasi jika kondisi iklim berubah secara mendadak.

"Sifat-sifat tersebut sudah menetap lama dalam sejarah evolusi serangga dan sulit untuk diubah," tutur Peters.

Itulah mengapa jika bumi terus memanas tanpa henti, serangga bisa mengalami stres.

Baca juga:

Data adaptasi serangga terbatas

Serangga tidak otomatis bisa beradaptasi dengan suhu panas di tempat tinggal mereka akibat pemanasan global.SHUTTERSTOCK/JAROSLAV NOSKA Serangga tidak otomatis bisa beradaptasi dengan suhu panas di tempat tinggal mereka akibat pemanasan global.

Serangga mencakup sekitar 70 persen dari semua spesies hewan yang telah diketahui, dan sebagian besar tinggal di wilayah tropis.

Namun, hanya sedikit yang diketahui tentang seberapa baik serangga tropis beradaptasi dengan suhu yang terus meningkat.

Salah satu alasannya adalah minimnya data eksperimen mengenai toleransi suhu dan kurangnya penelitian yang tersedia saat ini terhadap banyak kelompok serangga. Sebuah tim peneliti internasional telah melakukan studi ini.

Untuk penelitian ini, para ilmuwan meneliti batas ketahanan suhu dari lebih dari 2.000 spesies serangga.

Data dikumpulkan selama tahun 2022 dan 2023 di berbagai ketinggian di Afrika Timur dan Amerika Selatan, dari hutan pegunungan yang sejuk hingga hutan hujan yang panas dan sabana dataran rendah.

Tim peneliti juga menganalisis genom dari banyak spesies untuk mempelajari stabilitas protein mereka guna memahami alasan mengapa beberapa kelompok serangga lebih mampu bertahan terhadap panas dibandingkan yang lain.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau