
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
TIMUR Tengah sepertinya masih ditakdirkan sebagai wilayah yang selalu terguncang. Praktik genosida yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina tidaklah cukup.
Israel kembali mengajak sekutu abadinya Amerika Serikat (AS) untuk menyerang Iran, negara yang kokoh membela bangsa Palestina.
Berbagai alasan kemudian dikonstruksi oleh AS dan akhirnya serangan udara terhadap fasilitas militer dan instalasi strategis Iran dilakukan.
Bukan hanya itu, fasilitas sipil seperti rumah sakit dan sekolah tak luput dari serangan tersebut. Dalam waktu singkat ribuan jiwa menjadi korban dan dipastikan angkanya akan terus bertambah.
Iran tak tinggal diam, balasan serangan misil dan drone menandai eskalasi yang berpotensi meluas.
Dalam diskursus publik, konflik ini umumnya dibaca melalui kacamata geopolitik, kemanusiaan, dan dampak ekonomi global yang ditimbulkannya.
Namun, ada satu dimensi yang hampir selalu luput dari perhatian, yaitu dampak perang terhadap lingkungan dan perubahan iklim.
Baca juga: Skenario Menghentikan Perang Iran
Paris Agreement (2015) yang menjadi kesepakatan komunitas internasional menargetkan pembatasan pemanasan global di bawah 2 derajat Celsius.
Di saat yang sama, konflik bersenjata modern justru menjadi salah satu aktivitas paling intensif dan efektif menghamburkan energi di planet ini.
Operasi militer, mobilisasi pasukan, serta penghancuran infrastruktur industri menghasilkan emisi karbon dalam skala besar.
Ironisnya, emisi tersebut sering kali tidak tercatat secara transparan dalam laporan perubahan iklim internasional.
Dengan kata lain, perang bukan hanya tragedi kemanusiaan dan politik, tetapi juga bagian dari dinamika yang mempercepat krisis ekologis global.
Perang modern tidak bisa dipisahkan dari ekonomi energi. Teknologi militer modern—pesawat tempur, pembom strategis, kapal induk, kendaraan lapis baja, hingga sistem logistik global—bergantung pada konsumsi bahan bakar fosil dalam jumlah sangat besar.
Setiap operasi militer memerlukan jaringan transportasi dan distribusi energi yang luas, dari pangkalan militer hingga jalur pasokan lintas benua.
Penelitian mengenai jejak karbon militer menunjukkan bahwa aktivitas militer global menyumbang sekitar 5–6 persen emisi gas rumah kaca dunia (Parkinson & Cottrell, 2022).
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya