
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Jika militer dunia diperlakukan sebagai satu negara, tingkat emisinya akan menempatkannya di antara penghasil emisi terbesar secara global.
Sebagai contoh, United States Department of Defense menghasilkan sekitar 59 juta ton emisi karbon pada tahun 2017, angka yang lebih besar dibandingkan total emisi tahunan banyak negara berkembang (Crawford, 2019).
Dalam konflik seperti yang kini melibatkan AS, Israel, dan Iran, mobilisasi kekuatan udara dan laut meningkatkan konsumsi energi secara drastis.
Baca juga: Matematika Perang Atrisi Iran yang Akan Menghantui Amerika dan Israel
Ratusan pesawat tempur, patroli militer di kawasan Teluk Persia, serta operasi armada laut membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar.
Dengan demikian, perang modern tidak hanya menghasilkan kehancuran di medan tempur, tetapi juga memperluas jejak karbon global melalui konsumsi energi yang intensif.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perang sebenarnya merupakan bagian dari apa yang disebut oleh para peneliti sebagai “carbon bootprint” militer—jejak karbon yang dihasilkan oleh sistem pertahanan global (Belcher et al., 2019).
Dalam perspektif ini, konflik bersenjata tidak bisa dipisahkan dari struktur ekonomi karbon yang menopang sistem geopolitik modern.
Dampak iklim dari perang tidak hanya berasal dari operasi militer itu sendiri, tetapi juga dari kehancuran infrastruktur energi.
Serangan terhadap kilang minyak, depot bahan bakar, atau fasilitas gas dapat memicu kebakaran besar yang melepaskan karbon dioksida, sulfur dioksida, serta berbagai partikel beracun ke atmosfer.
Sejarah konflik di Timur Tengah menunjukkan bagaimana perang dapat menghasilkan bencana ekologis berskala besar.
Dalam Gulf War tahun 1991, lebih dari 600 ladang minyak Kuwait dibakar, menghasilkan sekitar 1-1,5 miliar barel minyak yang terbakar dan melepaskan jutaan ton karbon ke atmosfer (Mitchell, 2011; Greenpeace, 1991).
Asap dari kebakaran tersebut membentuk awan hitam tebal yang menutupi langit kawasan Teluk selama berbulan-bulan.
Timur Tengah sendiri merupakan salah satu pusat produksi energi dunia yang menyumbang sekitar 30 persen produksi minyak global (International Energy Agency, 2023).
Baca juga: Belasungkawa Wafatnya Khamenei: Pelajaran dari Keheningan Indonesia
Oleh karena itu, konflik yang melibatkan negara-negara di kawasan ini selalu membawa risiko kerusakan ekologis yang besar.
Jika fasilitas energi menjadi target serangan, kebakaran dan tumpahan minyak dapat mencemari udara, tanah, dan laut sekaligus menghasilkan emisi karbon tambahan dalam jumlah besar.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya