Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Prof. Dr. Prudensius Maring
Dosen Tetap Universitas Budi Luhur

Guru Besar bidang Antropologi dengan fokus kajian tentang konflik dan kolaborasi pengusaaan sumber daya ekologi, perubahan iklim, dan hubungan kekuasaan

Agroforestri: Jembatan Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan

Kompas.com, 13 Maret 2026, 13:02 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

PERUBAHAN iklim sering dibicarakan melalui angka dan grafik: kenaikan suhu global, peningkatan emisi karbon, atau proyeksi cuaca ekstrem di masa depan. Namun bagi masyarakat pedesaan yang kehidupannya bergantung pada tanah dan hutan, perubahan itu tidak hadir sebagai statistik, melainkan sebagai pengalaman sehari-hari yang langsung dirasakan di ladang dan kebun mereka.

Hujan datang tidak menentu, angin kencang merusak tanaman, dan kemarau yang semakin panjang menggerus cadangan air serta pangan keluarga.

Pada banyak wilayah di Indonesia Timur, seperti di Flores, perubahan iklim tersebut sudah lama dirasakan oleh masyarakat desa. Sistem penghidupan mereka seperti ladang, kebun, ternak, dan hutan menghadapi tekanan yang semakin berat.

Variabilitas curah hujan, degradasi lahan, serta meningkatnya serangan hama telah mengganggu stabilitas produksi pangan dan pendapatan rumah tangga.

Dalam situasi seperti ini, perubahan iklim tidak hanya menjadi persoalan ekologis, tetapi juga persoalan sosial-ekonomi yang mempengaruhi ketahanan komunitas dalam jangka panjang.

Namun masyarakat tidak sepenuhnya pasif menghadapi tekanan tersebut. Berbagai praktik adaptasi berkembang melalui pengalaman panjang dalam mengelola lahan dan lingkungan. Salah satu praktik yang menonjol adalah agroforestri.

Baca juga: Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri

Sistem Pengelolaan

Agroforestri merupakan sistem pengelolaan lahan yang menggabungkan tanaman pangan, tanaman tahunan, dan unsur pohon dalam satu bentang kebun. Dalam praktik masyarakat di Flores, sistem ini berkembang secara bertahap melalui perubahan pola pengelolaan lahan dari waktu ke waktu.

Pada masa lalu, sistem ladang berpindah menjadi pola dominan dalam produksi pangan. Padi ladang, jagung, sorgum, dan kacang menjadi basis pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Seiring meningkatnya tekanan terhadap lahan dan kebutuhan ekonomi, masyarakat mulai menanam tanaman tahunan seperti kelapa, kemiri, dan mete. Ladang lama perlahan berubah menjadi kebun campuran yang lebih permanen.

Dalam beberapa dekade terakhir, kebun campuran tersebut berkembang menjadi sistem agroforestri yang menggabungkan berbagai tanaman dalam satu lanskap produksi. Perubahan ini bukan sekadar perubahan teknis dalam praktik pertanian. Ia merupakan respons sosial-ekologis masyarakat terhadap keterbatasan lahan, tekanan pasar, serta ketidakpastian iklim.

Dalam sistem agroforestri, petani tidak lagi menggantungkan hidup pada satu jenis tanaman. Mereka mengombinasikan tanaman tahunan yang menghasilkan pendapatan tunai dengan tanaman pangan yang menopang konsumsi keluarga.

Kekuatan agroforestri terlihat dari bagaimana sistem ini menopang kehidupan rumah tangga petani. Ketika produksi padi ladang menurun akibat cuaca yang tidak menentu, kebun campuran menjadi sumber pangan alternatif.

Seorang informan dalam penelitian lapangan menggambarkan situasi ini dengan sederhana: agroforestri menjadi cara keluarga bertahan ketika panen padi gagal di ladang. Dari kebun mereka masih dapat memanen pisang, berbagai umbi sebagai tanaman sela, serta daun kelor yang dapat dikonsumsi tanpa harus membeli ke pasar.

Pada saat yang sama, hasil tanaman tahunan seperti kelapa, kemiri, atau mete dapat dijual untuk memperoleh uang tunai guna membeli beras dan kebutuhan pangan lainnya.

Dalam pengertian ini, agroforestri tidak hanya berfungsi sebagai sistem produksi pertanian, tetapi juga menjadi mekanisme perlindungan ekonomi dan pangan bagi rumah tangga desa.

Temuan-temuan tersebut muncul dari penelitian kolaboratif yang dilakukan di beberapa kabupaten di Flores oleh peneliti dari Australian National University, Universitas Indonesia, Universitas Budi Luhur, AKATIGA, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Universitas Nusa Nipah Maumere dengan dukungan Program KONEKSI.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Korea Selatan Uji Coba Proyek Pembalut Gratis
Korea Selatan Uji Coba Proyek Pembalut Gratis
Pemerintah
BRIN-Agrinas Palma Perkuat Riset Inovasi Industri Sawit Berkelanjutan
BRIN-Agrinas Palma Perkuat Riset Inovasi Industri Sawit Berkelanjutan
Pemerintah
Ini Modus Perusahaan Hindari Bayar THR Karyawan Jelang Lebaran 2026
Ini Modus Perusahaan Hindari Bayar THR Karyawan Jelang Lebaran 2026
LSM/Figur
Panas Ekstrem di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37 Derajat
Panas Ekstrem di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37 Derajat
Pemerintah
Fakta Proyek Waste to Energy di Indonesia, Waktu hingga Lokasi
Fakta Proyek Waste to Energy di Indonesia, Waktu hingga Lokasi
Pemerintah
Agroforestri: Jembatan Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan
Agroforestri: Jembatan Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan
Pemerintah
Prabowo Susun 2 Kebijakan Perlindungan Gajah dan Taman Nasional
Prabowo Susun 2 Kebijakan Perlindungan Gajah dan Taman Nasional
Pemerintah
Hujan Masih Turun di Indonesia, Diprediksi hingga Sepekan ke Depan
Hujan Masih Turun di Indonesia, Diprediksi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Konflik AS-Israel Vs Iran Jadi Momentum Indonesia Percepat Penggunaan BBM Bersih
Konflik AS-Israel Vs Iran Jadi Momentum Indonesia Percepat Penggunaan BBM Bersih
Pemerintah
Hutan Mangrove Bisa Kekurangan Oksigen akibat Pemanasan Global
Hutan Mangrove Bisa Kekurangan Oksigen akibat Pemanasan Global
LSM/Figur
Apa Peran AI dalam Hadapi Tantangan Sistem Pangan Global?
Apa Peran AI dalam Hadapi Tantangan Sistem Pangan Global?
LSM/Figur
GEF Kucurkan Rp 74,6 Miliar untuk Lindungi Biodiversitas dari Spesies Invasif
GEF Kucurkan Rp 74,6 Miliar untuk Lindungi Biodiversitas dari Spesies Invasif
Pemerintah
Peringatan Hari Air Sedunia, Akses Air Minum Aman di Indonesia Masih Jadi Tantangan
Peringatan Hari Air Sedunia, Akses Air Minum Aman di Indonesia Masih Jadi Tantangan
Swasta
Menambang Nikel di Kota, Ini Keuntungan Daur Ulang Baterai Bekas
Menambang Nikel di Kota, Ini Keuntungan Daur Ulang Baterai Bekas
Pemerintah
Kolaborasi Beorganik dan Anteraja Hadirkan Ruang Berbagi untuk Anak-anak Rumah Yatim
Kolaborasi Beorganik dan Anteraja Hadirkan Ruang Berbagi untuk Anak-anak Rumah Yatim
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau