Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
PERUBAHAN iklim sering dibicarakan melalui angka dan grafik: kenaikan suhu global, peningkatan emisi karbon, atau proyeksi cuaca ekstrem di masa depan. Namun bagi masyarakat pedesaan yang kehidupannya bergantung pada tanah dan hutan, perubahan itu tidak hadir sebagai statistik, melainkan sebagai pengalaman sehari-hari yang langsung dirasakan di ladang dan kebun mereka.
Hujan datang tidak menentu, angin kencang merusak tanaman, dan kemarau yang semakin panjang menggerus cadangan air serta pangan keluarga.
Pada banyak wilayah di Indonesia Timur, seperti di Flores, perubahan iklim tersebut sudah lama dirasakan oleh masyarakat desa. Sistem penghidupan mereka seperti ladang, kebun, ternak, dan hutan menghadapi tekanan yang semakin berat.
Variabilitas curah hujan, degradasi lahan, serta meningkatnya serangan hama telah mengganggu stabilitas produksi pangan dan pendapatan rumah tangga.
Dalam situasi seperti ini, perubahan iklim tidak hanya menjadi persoalan ekologis, tetapi juga persoalan sosial-ekonomi yang mempengaruhi ketahanan komunitas dalam jangka panjang.
Namun masyarakat tidak sepenuhnya pasif menghadapi tekanan tersebut. Berbagai praktik adaptasi berkembang melalui pengalaman panjang dalam mengelola lahan dan lingkungan. Salah satu praktik yang menonjol adalah agroforestri.
Baca juga: Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Agroforestri merupakan sistem pengelolaan lahan yang menggabungkan tanaman pangan, tanaman tahunan, dan unsur pohon dalam satu bentang kebun. Dalam praktik masyarakat di Flores, sistem ini berkembang secara bertahap melalui perubahan pola pengelolaan lahan dari waktu ke waktu.
Pada masa lalu, sistem ladang berpindah menjadi pola dominan dalam produksi pangan. Padi ladang, jagung, sorgum, dan kacang menjadi basis pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Seiring meningkatnya tekanan terhadap lahan dan kebutuhan ekonomi, masyarakat mulai menanam tanaman tahunan seperti kelapa, kemiri, dan mete. Ladang lama perlahan berubah menjadi kebun campuran yang lebih permanen.
Dalam beberapa dekade terakhir, kebun campuran tersebut berkembang menjadi sistem agroforestri yang menggabungkan berbagai tanaman dalam satu lanskap produksi. Perubahan ini bukan sekadar perubahan teknis dalam praktik pertanian. Ia merupakan respons sosial-ekologis masyarakat terhadap keterbatasan lahan, tekanan pasar, serta ketidakpastian iklim.
Dalam sistem agroforestri, petani tidak lagi menggantungkan hidup pada satu jenis tanaman. Mereka mengombinasikan tanaman tahunan yang menghasilkan pendapatan tunai dengan tanaman pangan yang menopang konsumsi keluarga.
Kekuatan agroforestri terlihat dari bagaimana sistem ini menopang kehidupan rumah tangga petani. Ketika produksi padi ladang menurun akibat cuaca yang tidak menentu, kebun campuran menjadi sumber pangan alternatif.
Seorang informan dalam penelitian lapangan menggambarkan situasi ini dengan sederhana: agroforestri menjadi cara keluarga bertahan ketika panen padi gagal di ladang. Dari kebun mereka masih dapat memanen pisang, berbagai umbi sebagai tanaman sela, serta daun kelor yang dapat dikonsumsi tanpa harus membeli ke pasar.
Pada saat yang sama, hasil tanaman tahunan seperti kelapa, kemiri, atau mete dapat dijual untuk memperoleh uang tunai guna membeli beras dan kebutuhan pangan lainnya.
Dalam pengertian ini, agroforestri tidak hanya berfungsi sebagai sistem produksi pertanian, tetapi juga menjadi mekanisme perlindungan ekonomi dan pangan bagi rumah tangga desa.
Temuan-temuan tersebut muncul dari penelitian kolaboratif yang dilakukan di beberapa kabupaten di Flores oleh peneliti dari Australian National University, Universitas Indonesia, Universitas Budi Luhur, AKATIGA, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Universitas Nusa Nipah Maumere dengan dukungan Program KONEKSI.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya