Sebelumnya, Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung menyampaikan kekhawatirannya tentang harga pembalut di Korea yang relatif mahal dibandingkan di luar negeri.
Hal ini mendorong pihak industri untuk menurunkan harga dan memperkenalkan produk seperti "pembalut 100-won" atau pembalut seharga Rp 1.180.
Dalam pertemuan tersebut, Lee juga menyampaikan kekhawatirannya mengenai keamanan produk.
Sebagai tanggapan, Oh Yu-kyung, komisaris Kementerian Keamanan Pangan dan Obat-obatan, mengatakan bahwa semua pembalut dievaluasi berdasarkan standar keamanan yang sama tanpa memandang harga.
“Ketika harga rendah, masyarakat cenderung khawatir tentang keamanan, padahal semua pembalut dinilai berdasarkan kriteria keamanan yang identik,” kata Oh.
Ia menambahkan, permintaan tinjauan untuk tujuh produk pembalut anggaran rendah sudah diajukan sejak akhir Januari dan saat ini sedang menjalani proses pemeriksaan yang dipercepat.
Baca juga:
Pada tahun 2021, Korea Selatan diterpa isu terkait penggunaan pembalut. Dilansir dari Quartz, saat itu perempuan miskin di Negeri Gingseng disebut menggunakan sol sepatu sebagai pengganti pembalut.
Hal itu terjadi setelah Yuhan-Kimberly, produsen produk kebersihan perempuan terbesar menaikkan harga pembalut, yang tidak mampu dibeli oleh banyak keluarga berpenghasilan rendah. Harga-harga tersebut sudah termasuk yang tertinggi di Asia.
Momen itu kemudian membuat pemerintah Korea Selatan memutuskan membagikan pembalut gratis untuk membantu mengatasi kemiskinan "menstruasi".
Sebelum Korea Selatan, Skotlandia menjadi negara pertama di dunia yang menjamin produk sanitasi gratis bagi semua siswa di sekolah dan universitas.
Negara-negara lain, seperti Australia dan India, juga menghapuskan pajak untuk produk sanitasi.
Tidak hanya itu, New York di Amerika Serikat mewajibkan sekolah untuk menyediakan produk menstruasi gratis bagi siswi kelas 6 hingga 12.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya