SURABAYA, KOMPAS.com - AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) bisa memicu pekerja di Indonesia untuk turut berkembang guna mengimbangi kemampuan mereka. Pekerja bernama Hasib Rozi Pramana termasuk yang mengalaminya.
Hasib bekerja sebagai quality assurance (QA) di salah satu perusahaan bidang teknologi pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Beberapa bulan lalu, perusahaan tersebut meminta para pekerjanya untuk terus mengikuti perkembangan teknologi terbaru.
Baca juga:
Ke depannya, ada kemungkinan perusahaan tersebut mengadopsi AI guna mengoptimalisasi operasional bisnisnya.
Saat ini, Hasib aktif mengikuti sertifikasi untuk kompetensi AI. Ia telah mengantongi Microsoft Certified: Azure AI Fundamentals (AI-900) melalui salah satu program yang bekerja sama dengan perusahaan teknologi multinasional Amerika Serikat (AS) itu, yang mana pesertanya berhak atas vocher gratis untuk mengikuti ujian sertifikasi.
"Jadi kami bebas untuk mengeksplorasi sendiri teknologi terbaru. Bebas menggunakan AI untuk asalkan itu support (mendukung) pekerjaan kami. (Ke depannya), teknologi yang sedang dipakai (perusahaan) itu juga akan diarahkan ke sana, mengadopsi AI," ujar Hasib kepada Kompas.com di Surabaya, Minggu (15/3/2026).
Hasib Rozi Pramana, seorang pekerja Quality Assurace di perusahaan edutech di Daerah Istimewa Yogyakarta saat membahas adopsi AI di lingkungan kerjanya di Surabaya, Minggu (15/3/2026).Sejauh ini, rekan-rekan kerja Hasib sudah mengadopsi AI. Hasib kerap berdiskusi dengan mereka mengenai pemanfaatan platform AI, salah satunya ChatGPT.
Menurut dia, penggunaan AI lumayan membantunya menyelesaikan berbagai tugas dalam menjamin kualitas produk yang dikembangkan perusahannya. AI dapat membantu pekerjaannya dari aspek teknis dan non-teknis.
Hasib kerap bertanya pada beragam platform, seperti ChatGPT, Google Gemini, dan Claude AI, tentang product knowledge atau pemahaman mendalam tentang fitur, manfaat, harga, penggunaan, serta keunggulan produk atau layanan dibanding kompetitor.
Ia memperlakukan AI sebagai asisten yang membantunya mencari referensi.
"Memang jawaban dari AI itu tidak sepenuhnya benar. Masih ada kemungkinan halu dan tidak sesuai dengan di aplikasi di perusahaanku, karena aku konteks pertanyaan ketika menyakan product knowledge ke ChatGPT itu konteksnya secara umum, jadi enggak spesifik ke aplikasi sendiri," jelas laki-laki asal Tulungagung, Jawa Timur, ini.
Selain itu, Hasib memanfaatkan AI untuk mengecek apakah ada kesalahan dari hasil pekerjaannya. Bahkan, AI bisa memeriksa kesalahan secara mendetail dan menyodorkan solusi perbaikannya.
Simak cerita Hasib yang beradaptasi dengan AI. Bekerja sebagai QA, Hasib memperlakukan AI sebagai asisten, bukan ancaman.Sebagai QA, Hasib tidak hanya melakukan testing (pengujian) produk secara manual, tapi juga mengerjakan testing secara otomatis. Ia menyusun script coding yang nantinya akan dijalankan oleh mesin.
"Kasusnya mirip teman-teman developer. Aku pernah terbantu ketika bikin script. Saat aku running itu ada yang eror. Aku tanyakan ke ChatGPT, 'Ini kodeku potongan kodenya seperti ini, pesan erornya begini, solving-nya gimana?. Lalu, AI memberi tahu perbaikannya harusnya begini. Saat aku coba perbaiki kodenya, jalan. Itu aku benar-benar terbantu di situ," ucapnya.
Ia mengaku tidak merasa terancam dengan perkembangan AI. Saat ini, kata dia, belum ada tanda-tanda AI akan menggantikan pekerjaannya sebagai QA.
"Aku belum ada bayangan bagaimana mesin AI itu bisa testing desain secara mandiri," ujar Hasib.
Untuk bagian coding, AI sekarang sudah dapat meng-generate kode sendiri asalkan diberi instruksi yang detail dan jelas.
Hasib menduga peran developer ke depannya akan berubah menjadi verifikator. Artinya, developer akan me-review kodenya, mulai dari kesesuaian dengan prompt yang diminta, sampai celah keamanan sibernya.
"Pernah ada kejadian orang yang mengandalkan AI untuk coding, tapi dia enggak verifikasi, ternyata kredensial API (Application Programming Interface) key-nya bocor atau tagihan Google Cloud-nya membengkak. Jadi untuk bisa mengecek itu jelas harus punya fundamental yaitu pernah coding dan paham konsepnya. Jadi, developer enggak bisa cuma nyuruh AI terus ditinggal gitu aja, harus dicek dulu dan diverifikasi," terang Hasib.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya