Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Pekerja IT di Indonesia Hadapi AI, Aktif Kejar Sertifikasi

Kompas.com, 17 Maret 2026, 10:33 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Latar belakang dari ilmu sejarah

Perjalanan karir Hasib bermula dari mengikuti pelatihan Digital Talent Scholarship yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada 2019 lalu. Kala itu, ia masih tercatat sebagai mahasiswa ilmu sejarah.

Berawal dari iseng dan nostalgia masa SMK, ia tertantang untuk belajar apa pun di bidang teknologi, tanpa mempertimbangkan kelayakan menjadi karirnya pada masa depan.

Ia mengikuti pelatihan web development, data science, sampai QA yang saat itu dipandang sebelah mata dan hanya sedikit orang yang paham.

Setelah melewati tahap eksplorasi diri, Hasib menganggap QA sebagai pekerjaan yang cocok dengannya. Ia bahkan mengikuti pelatihan bootcamp selama beberapa bulan pada 2022-2023 untuk memperdalam QA.

Ia menjadi peserta magang di salah satu startup di Bandung, Jawa Barat, sebelum akhirnya bekerja di perusahannya saat ini.

"Enggak menyesal kuliah saja dan balik lagi ke teknologi karena kuliah itu sebenarnya bukan mencari pekerjaan. Kecuali, kalau institusi khusus seperti SMK atau LPK (lembaga pelatihan kerja). Belajar soshum (sosial humaniora) membuatku memahami isu teknologi dari sisi itu," ucapnya.

Baca juga:

Perkembangan AI tidak bisa dihindari

Simak cerita Hasib yang beradaptasi dengan AI. Bekerja sebagai QA, Hasib memperlakukan AI sebagai asisten, bukan ancaman.Dok. Freepik/DC Studio Simak cerita Hasib yang beradaptasi dengan AI. Bekerja sebagai QA, Hasib memperlakukan AI sebagai asisten, bukan ancaman.

Sebelumnya, Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eisha Maghfiruha Rachbini mengatakan, perkembangan adopsi teknologi AI yang cepat tidak dapat dihindari.

Ke depannya, adopsi AI di Indonesia akan semakin meluas ke berbagai sektor, khususnya adopsi AI untuk peningkatan produktivitas.

Di sisi lain, perkembangan adopsi AI di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, termasuk dari aspek ketenagakerjaan.

"Akan ada pergeseran struktur tenaga kerja, seperti yang disampaikan, ada jenis-jenis pekerjaan yang bisa digantikan (AI). Misalnya, yang bersifat administratif, (ada pula) yang lebih cepat dikerjakan dengan adopsi AI," ujar Eisha kepada Kompas.com, Kamis (5/3/2026).

Menurut Eisha, nantinya pekerja di Indonesia tetap membutuhkan keterampilan dalam mengoperasikan teknologi dan mengadopsi AI.

Indonesia juga perlu mengadakan pelatihan AI bagi pekerjanya untuk penambahan keterampilan baru dalam peran berbeda (reskilling) dan peningkatan keahlian agar lebih mahir (upskilling).

Pengadaan pelatihan AI diperlukan supaya pekerja Indonesia mampu beradaptasi dan mengadopsi AI.

"Indonesia perlu melihat kebutuhan tenaga kerja industri ke depan serta memfasilitasi training peningkatan kapasitas agar dapat memenuhi kebutuhan industri ke depan yang akan lebih luas mengadopsi AI," tutur Eisha.

Perkembangan teknologi dan adopsi AI disebut akan memicu "gelombang" pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia pada berbagai sektor yang bisa digantikan.

Sebaliknya, AI juga membuka lapangan pekerjaan di Indonesia untuk berbagai sektor ekonomi yang bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi ini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau