Perjalanan karir Hasib bermula dari mengikuti pelatihan Digital Talent Scholarship yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada 2019 lalu. Kala itu, ia masih tercatat sebagai mahasiswa ilmu sejarah.
Berawal dari iseng dan nostalgia masa SMK, ia tertantang untuk belajar apa pun di bidang teknologi, tanpa mempertimbangkan kelayakan menjadi karirnya pada masa depan.
Ia mengikuti pelatihan web development, data science, sampai QA yang saat itu dipandang sebelah mata dan hanya sedikit orang yang paham.
Setelah melewati tahap eksplorasi diri, Hasib menganggap QA sebagai pekerjaan yang cocok dengannya. Ia bahkan mengikuti pelatihan bootcamp selama beberapa bulan pada 2022-2023 untuk memperdalam QA.
Ia menjadi peserta magang di salah satu startup di Bandung, Jawa Barat, sebelum akhirnya bekerja di perusahannya saat ini.
"Enggak menyesal kuliah saja dan balik lagi ke teknologi karena kuliah itu sebenarnya bukan mencari pekerjaan. Kecuali, kalau institusi khusus seperti SMK atau LPK (lembaga pelatihan kerja). Belajar soshum (sosial humaniora) membuatku memahami isu teknologi dari sisi itu," ucapnya.
Baca juga:
Simak cerita Hasib yang beradaptasi dengan AI. Bekerja sebagai QA, Hasib memperlakukan AI sebagai asisten, bukan ancaman.Sebelumnya, Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eisha Maghfiruha Rachbini mengatakan, perkembangan adopsi teknologi AI yang cepat tidak dapat dihindari.
Ke depannya, adopsi AI di Indonesia akan semakin meluas ke berbagai sektor, khususnya adopsi AI untuk peningkatan produktivitas.
Di sisi lain, perkembangan adopsi AI di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, termasuk dari aspek ketenagakerjaan.
"Akan ada pergeseran struktur tenaga kerja, seperti yang disampaikan, ada jenis-jenis pekerjaan yang bisa digantikan (AI). Misalnya, yang bersifat administratif, (ada pula) yang lebih cepat dikerjakan dengan adopsi AI," ujar Eisha kepada Kompas.com, Kamis (5/3/2026).
Menurut Eisha, nantinya pekerja di Indonesia tetap membutuhkan keterampilan dalam mengoperasikan teknologi dan mengadopsi AI.
Indonesia juga perlu mengadakan pelatihan AI bagi pekerjanya untuk penambahan keterampilan baru dalam peran berbeda (reskilling) dan peningkatan keahlian agar lebih mahir (upskilling).
Pengadaan pelatihan AI diperlukan supaya pekerja Indonesia mampu beradaptasi dan mengadopsi AI.
"Indonesia perlu melihat kebutuhan tenaga kerja industri ke depan serta memfasilitasi training peningkatan kapasitas agar dapat memenuhi kebutuhan industri ke depan yang akan lebih luas mengadopsi AI," tutur Eisha.
Perkembangan teknologi dan adopsi AI disebut akan memicu "gelombang" pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia pada berbagai sektor yang bisa digantikan.
Sebaliknya, AI juga membuka lapangan pekerjaan di Indonesia untuk berbagai sektor ekonomi yang bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya