Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cuaca Terik Landa RI Sepekan Terakhir, Suhu Tertinggi Capai 37,5 Derajat

Kompas.com, 17 Maret 2026, 17:44 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan cuaca panas terik melanda wilayah Indonesia dalam sepekan terakhir.

Menurut Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, berdasarkan pengamatan suhu maksimum di sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir tercatat cukup tinggi. Di Papua Selatan suhunya mencapai 37,5 derajat celsius pada Sabtu (7/3/2026).

Lalu, 35,8 derajat celsius di Kalimantan Tengah pada Senin (9/3/2026), 37 derajat celsius di Papua Selatan, Selasa (10/3/2026), 35,4 derajat celsius di Jawa Timur pada Rabu (11/3/2026), 35,6 derajat celsius di Kalimantan Tengah, Kamis (12/3/2026.

Baca juga: El Nino Diprediksi Terjadi Lagi Tahun 2026, Dunia Bisa Makin Panas

Di Jawa Barat suhu tertinggi mencapai 37,2 derajat celsius, Jumat (13/3/2026), 35,6 derajat celsius di DKI Jakarta pada Sabtu (14/3/2026), 35 derajat celsius di Jawa Timur, Sabtu (15/3/2026), serta 34,8 derajat celsiusndi Jawa Timur dan Banten pada Minggu (16/3/2026).

"Namun nilai ini masih berada dalam kisaran yang pernah terjadi sebelumnya.
Kondisi panas pada siang hari diprakirakan masih dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan, terutama saat tutupan awan berkurang," ujar Andri saat dihubungi Kompas.com, Selasa (17/3/2026).

Tercatat indeks ultraviolet (UV) berada pada kategori ungu atau tingkat bahaya ekstrem. Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan, terutama pada pukul 10.00 hingga 14.00 WIB, saat paparan sinar matahari berada pada titik tertinggi.

BMKG meminta masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh dengan cukup minum, mengurangi aktivitas di bawah sinar matahari pada siang hari, dan memantau informasi resmi.

Baca juga: Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Masuk Daftar Negara Paling Terdampak

BMKG secara khusus mengingatkan adanya kelompok masyarakat yang lebih berisiko terdampak cuaca panas ekstrem, seperti:

  • Anak-anak, terutama usia di bawah lima tahun
  • Lansia
  • Penderita penyakit kronis seperti jantung, paru, atau diabetes Individu dengan aktivitas tinggi di luar ruangan

Bukan Gelombang Panas

Andri menjelaskan bahwa cuaca terik di Indonesia akhir-akhir ini bukanlah gelombang panas atau heatwave, melainkan peningkatan suhu udara yang masih dalam karakteristik normal wilayah tropis seperti Indonesia.

"Heatwave umumnya terjadi di wilayah subtropis dengan suhu sangat tinggi yang berlangsung beberapa hari berturut-turut. Sementara di Indonesia variasi suhu relatif kecil dan pembentukan awan serta hujan masih cukup sering terjadi," ucap dia.

Andri menambahkan, selama periode Maret hingga Mei suhu udara cenderung terasa lebih panas. Hal ini dipengaruhi oleh posisi matahari yang berada di sekitar ekuator, berkurangnya tutupan awan pada siang hari, serta angin yang relatif lemah sehingga pemanasan permukaan menjadi lebih optimal.

"Di wilayah perkotaan, suhu panas juga terasa lebih intens akibat fenomena urban heat island, yang menyebabkan kawasan terbangun menyimpan panas lebih lama dan membuat udara terasa lebih gerah, terutama pada siang hingga sore hari," tutur Andri.

Di sisi lain, potensi hujan lokal masih dapat terjadi pada siang hingga sore hari.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Swasta
Lestari Forum 2026: 'Sustainability' Bagian dari Inti Bisnis
Lestari Forum 2026: "Sustainability" Bagian dari Inti Bisnis
Swasta
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
BUMN
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Pemerintah
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau