JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan cuaca panas terik melanda wilayah Indonesia dalam sepekan terakhir.
Menurut Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, berdasarkan pengamatan suhu maksimum di sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir tercatat cukup tinggi. Di Papua Selatan suhunya mencapai 37,5 derajat celsius pada Sabtu (7/3/2026).
Lalu, 35,8 derajat celsius di Kalimantan Tengah pada Senin (9/3/2026), 37 derajat celsius di Papua Selatan, Selasa (10/3/2026), 35,4 derajat celsius di Jawa Timur pada Rabu (11/3/2026), 35,6 derajat celsius di Kalimantan Tengah, Kamis (12/3/2026.
Baca juga: El Nino Diprediksi Terjadi Lagi Tahun 2026, Dunia Bisa Makin Panas
Di Jawa Barat suhu tertinggi mencapai 37,2 derajat celsius, Jumat (13/3/2026), 35,6 derajat celsius di DKI Jakarta pada Sabtu (14/3/2026), 35 derajat celsius di Jawa Timur, Sabtu (15/3/2026), serta 34,8 derajat celsiusndi Jawa Timur dan Banten pada Minggu (16/3/2026).
"Namun nilai ini masih berada dalam kisaran yang pernah terjadi sebelumnya.
Kondisi panas pada siang hari diprakirakan masih dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan, terutama saat tutupan awan berkurang," ujar Andri saat dihubungi Kompas.com, Selasa (17/3/2026).
Tercatat indeks ultraviolet (UV) berada pada kategori ungu atau tingkat bahaya ekstrem. Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan, terutama pada pukul 10.00 hingga 14.00 WIB, saat paparan sinar matahari berada pada titik tertinggi.
BMKG meminta masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh dengan cukup minum, mengurangi aktivitas di bawah sinar matahari pada siang hari, dan memantau informasi resmi.
Baca juga: Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Masuk Daftar Negara Paling Terdampak
BMKG secara khusus mengingatkan adanya kelompok masyarakat yang lebih berisiko terdampak cuaca panas ekstrem, seperti:
Andri menjelaskan bahwa cuaca terik di Indonesia akhir-akhir ini bukanlah gelombang panas atau heatwave, melainkan peningkatan suhu udara yang masih dalam karakteristik normal wilayah tropis seperti Indonesia.
"Heatwave umumnya terjadi di wilayah subtropis dengan suhu sangat tinggi yang berlangsung beberapa hari berturut-turut. Sementara di Indonesia variasi suhu relatif kecil dan pembentukan awan serta hujan masih cukup sering terjadi," ucap dia.
Andri menambahkan, selama periode Maret hingga Mei suhu udara cenderung terasa lebih panas. Hal ini dipengaruhi oleh posisi matahari yang berada di sekitar ekuator, berkurangnya tutupan awan pada siang hari, serta angin yang relatif lemah sehingga pemanasan permukaan menjadi lebih optimal.
"Di wilayah perkotaan, suhu panas juga terasa lebih intens akibat fenomena urban heat island, yang menyebabkan kawasan terbangun menyimpan panas lebih lama dan membuat udara terasa lebih gerah, terutama pada siang hingga sore hari," tutur Andri.
Di sisi lain, potensi hujan lokal masih dapat terjadi pada siang hingga sore hari.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya