KOMPAS.com - Sungai Nil di Kairo, Mesir, dahulu dikenal menjadi habitat yang sangat kaya akan keanekaragaman hayati ikan. Berkurangnya populasi ikan membuat nelayan justru mengincar tumpukan sampah botol plastik di sungai terpanjang di dunia tersebut.
Salah satunya dilakukan nelayan bernama Mohammed Ahmed Sayed Mohammed. Sayed mengerahkan perahunya dari Pulau al-Qarsaya menyusuri perairan Nil menuju klub-klub di tepi sungai ibu kota setiap pagi.
Baca juga:
Padahal, 15 tahun lalu, ia hanya mencari ikan di Sungai Nil.
“Ikan-ikan menghilang karena plastik,” ungkap Sayed dilansir dari The Guardian, Selasa (17/3/2026).
Menurunnya populasi ikan akibat polusi plastik di sungai telah memaksa sekitar 180 nelayan di al-Qarsaya beralih dari penangkap ikan tradisional menjadi pengumpul sampah. Mereka bisa menjual hasil pengumpulan botol bekas ke perusahaan melalui proyek VeryNile milik perusahaan Bassita.
Dengan begitu, nelayan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dibandingkan dijual ke pabrik daur ulang biasa.
Dulu, Sayed bisa menangkap 25 kilogram (kg) ikan per hari. Namun, saat ini dia hanya membawa empat sampai lima kg ikan yang dijual seharga 70 pound Mesir (sekitar Rp 22.500) per kg.
Sementara itu, mengumpulkan plastik menghasilkan lebih banyak uang lantaran plastik dihargai 33 pound (sekitar Rp 11.000) per kilogram. Kaleng bekas bahkan bisa dijual seharga 85 pound (sekitar Rp 28.000) per kilogram.
Pada musim panas yang sepi, Sayed menyebut mampu mengumpulkan 20 kg plastik per hari. Sementara ketika musim dingin, penghasilannya dari plastik saja bisa mencapai 2.000–3.000 pound Mesir (sekitar Rp 720.000) per bulan.
“Saya menikahkan ketiga anak saya dari hasil mengumpulkan plastik. Saya juga membangun kafe untuk anak sulung saya karena anak-anak saya tidak punya pekerjaan lain," ujar laki-laki berusia 60 tahun itu.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya