Laporan Work Trend Index dari Microsoft mengungkapkan, 80 persen pemimpin perusahaan mengharapkan agen AI, jenis program perangkat lunak yang mampu membuat keputusan dan menyelesaikan tugas tanpa banyak arahan manusia, akan terintegrasi secara luas ke dalam strategi AI mereka dalam 12-18 bulan ke depan.
Bahkan, mitra pengelola global McKinsey & Company, Bob Sternfels mencatat, perusahaan-perusahaan saat ini sudah memperkerjakan 20.000 agen AI bersama dengan 40.000 karyawan.
Padahal, setahun sebelumnya, perusahaan-perusahaan hanya memiliki 3.000 agen AI dan Sternfels memperkirakan bahwa jumlah agen AI di perusahaan-perusahaan akan sama dengan karyawan dalam 18 bulan ke depan.
Kekhawatiran tentang AI menggantikan pekerja telah menguat dalam setahun terakhir seiring dengan perusahaan-perusahaan raksasa, seperti Amazon, Salesforce, Accenture, Heineken, dan Lufthansa, telah menyatakan bahwa teknologi itu sebagai salah satu alasan menghapus ribuan posisi.
"AI menghantam sebagian besar negara dan sebagian besar bisnis tidak siap menghadapinya," ujar direktur pelaksana di Dana Moneter Internasional, Kristalina Georgieva.
Merujuk data dari perusahaan konsultan Challenger, Gray & Christmas, AI menyebabkan hampir 55.000 pemutusan hubungan kerja (PHK) di AS pada tahun 2025. Namun, beberapa pemimpin perusahaan terkemuka justru menangapinya secara berbeda.
CEO Nvidia, Jensen Huang memprediksi, ledakan AI malah akan menciptakan gaji enam digit bagi para pekerja yang membangun pabrik AI dan chip.
Menurut Huang, AI akan mendorong pekerjaan di bidang keahlian tertentu, seperti tukang ledeng, teknisi listrik, pekerja konstruksi, sampai pekerja baja.
Robot AI diperkirakan akan meningkat menjadi 1,3 miliar pada 2035, serta menggantikan pekerja manusia.Sebelumnya, alih-alih memicu gelombang PHK, European Central Bank (ECB) justru menyebut, tren peningkatan penggunaan AI oleh perusahaan kemungkinan justru menciptakan lapangan pekerjaan.
Berdasarkan survei ECB tentang akses pembiayaan perusahaan, investasi dan penggunaan intensif AI saat ini belum menggantikan pekerja.
Bahkan, beberapa perusahaan justru merekrut karyawan tambahan, kemungkinan karena ingin mengembangkan dan menerapkan teknologi AI sembari mempertahankan proses produksi yang ada.
Kondisi mengingat AI diperlakukan sebagai alat untuk membantu perusahaan meningkatkan skala produksi dengan lebih cepat.
Dalam satu tahun ke depan, perusahaan yang berencana berinvestasi dalam AI, masih akan merekrut lebih banyak orang daripada yang tidak ada arah ke tersebut.
Beberapa perusahaan kemungkinan memang menggunakan AI untuk menggantikan pekerja, tapi perusahaan umumnya lebih cenderung merekrut staf tambahan untuk memungkinkan mereka menggunakan dan berinvestasi dalam AI.
"Perusahaan yang banyak menggunakan AI sekitar empat persen lebih mungkin untuk merekrut staf tambahan. Dengan kata lain, perusahaan yang banyak menggunakan AI cenderung, rata-rata, lebih banyak merekrut daripada memecat," demikian keterangan dalam laman resminya, yang ditulis oleh dua ekonom staf ECB, Laura Lebastard dan David Sondermann.
Diketahui, survei ECB melibatkan 5.000 responden perusahaan di Eropa, dengan dua pertiganya melaporkan bahwa karyawan mereka menggunakan AI.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya