Pada tahun 2025, investasi pada sisi hulu 295 miliar dollar AS (sekitar sekitar Rp 5.000 triliun), sedikit lebih tinggi dibandingkan sisi hilir yang sebesar 288 miliar dollar AS (sekitar Rp 4.880 triliun).
Meski begitu, investasi di sisi penggunaan energi tumbuh jauh lebih cepat, rata-rata 21 persen per tahun sejak 2020, hampir dua kali lipat kecepatan pertumbuhan sisi penyediaan.
Lonjakan ini didorong oleh sektor transportasi listrik yang naik 23 persen menjadi 242 miliar dollar AS (sekitar Rp 4.100 triliun), serta pemanas listrik yang naik 22 persen menjadi sekitar 36 miliar dollar AS (sekitar Rp 610 triliun).
Tren inilah yang menjadi kunci utama berkurangnya ketergantungan Eropa pada impor bahan bakar fosil.
Investasi jaringan listrik melonjak 23 persen menjadi 105 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.778 triliun), mempertahankan rasio 60 sen untuk setiap dolar yang dihabiskan untuk pembangkitan energi terbarukan sejak tahun 2020.
Manufaktur baterai mencakup 80 persen dari investasi pabrik ini. Namun, wilayah tersebut masih sangat bergantung pada rantai pasokan dari China.
Sektor-sektor baru seperti pelayaran bersih dan penangkapan karbon mencatatkan pertumbuhan, sementara investasi di sektor hidrogen dan industri bersih mengalami penurunan.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya