Penulis
KOMPAS.com - Pernah merasa pekerjaan seperti tiada habisnya? Baru ingin pulang, tapi atasan tiba-tiba datang membawa pekerjaan tambahan. Anehnya, rekan kerjamu yang lain justru bisa pulang tepat waktu.
Bila merasa sering "ditumbalkan" untuk pekerjaan tambahan hanya karena dianggap rajin dan bermotivasi tinggi, kamu tidak sendirian.
Baca juga:
Sebuah penelitian menunjukkan, karyawan yang punya motivasi tinggi cenderung dibebani pekerjaan ekstra.
Ironisnya, beban ini tetap diberikan meskipun bisa merugikan bonus atau kesejahteraan karyawan tersebut.
Merasa beban kerja makin berat karena dianggap rajin? Simak hasil riset soal nasib pekerja bermotivasi tinggi selengkapnya.Profesor manajemen di Northeastern University, Amerika Serikat, bernama Sangah Bae melakukan penelitian mendalam soal pekerja bermotivasi tinggi dan pekerjaan tambahan. Penelitian itu diterbitkan dalam jurnal Organizational Science.
Bersama timnya, Bae melibatkan lebih dari 4.300 peserta dari berbagai industri. Hasilnya, atasan dinilai cenderung memberikan tugas di luar deskripsi pekerjaan kepada karyawan yang terlihat menikmati pekerjaannya.
Atasan juga menganggap karyawan seperti ini menemukan makna dan kesenangan dalam setiap tugas.
"(Para atasan) mungkin beranggapan bahwa karyawan yang menikmati pekerjaan utama mereka juga akan menikmati tugas-tugas tambahan, dan bahwa rasa senang tersebut akan melindungi mereka dari kelelahan kerja," tulis para peneliti, dikutip dari Phys.org, Senin (23/3/2026).
Dampak dari pola manajemen ini tidak main-main. Dalam salah satu eksperimen, peneliti membagi peserta menjadi manajer dan karyawan. Mereka diberi tugas dengan iming-iming bonus lima dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 85.000) bagi yang tercepat.
Namun, para atasan diwajibkan memberikan tugas tambahan di tengah jalan kepada salah satu karyawan. Tugas ini otomatis akan menghambat kecepatan kerja dan peluang mendapat bonus.
Hasilnya? Sebanyak 74 persen manajer memilih memberikan tugas penghambat itu kepada karyawan yang paling termotivasi, meskipun mereka tahu hal itu akan menghambat karyawan mereka untuk mendapat bonus.
Akibatnya, hanya 30 persen karyawan rajin yang berhasil mendapatkan bonus.
Bae menyebut hal ini sebagai "motive oversimplifying" atau "penyederhanaan motif". Manajer hanya melihat permukaan saja, mereka lupa bahwa karyawan yang mencintai pekerjaannya tetap bisa merasa lelah dan butuh penghargaan materi.
Baca juga:
Merasa beban kerja makin berat karena dianggap rajin? Simak hasil riset soal nasib pekerja bermotivasi tinggi selengkapnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya