KOMPAS.com — Upaya menjaga ketersediaan air bersih di kawasan tambang menjadi tantangan yang tak terelakkan, terutama di wilayah terpencil, seperti Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Di tengah aktivitas pertambangan nikel yang intensif, praktik pengelolaan air di wilayah ini dinilai menunjukkan sejumlah pendekatan yang patut dicermati.
Desa Kawasi memiliki luas sekitar 133 kilometer (km) persegi dan dihuni 1.281 jiwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023. Kebutuhan air bersih di wilayah tersebut cukup besar, mencakup keperluan rumah tangga, sanitasi, hingga aktivitas ekonomi.
Pada saat yang sama, kawasan ini berdampingan dengan wilayah operasional PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) yang memiliki izin usaha pertambangan seluas 4.247 hektare (ha).
Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (UI), Tri Edhi Budhi Soesilo, mengatakan, keberlanjutan sumber air di kawasan tambang sangat bergantung pada cara pengelolaan lingkungan.
Baca juga: Hari Air Sedunia 2026, Arab Saudi Siap Pimpin Solusi Krisis Air Dunia
“Menjaga sumber air tentu dapat diupayakan, bergantung pada bagaimana manusia memperlakukan alam,” ucap Tri Edhi Budhi Soesilo sebagaimana dilansir dari KOMPAS.id, Senin (2/3/2026).
Menurut dia, pengelolaan air di sektor industri harus didasarkan pada prinsip neraca air, yakni keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan.
Ketersediaan air ditopang oleh berbagai sumber, seperti sungai, danau, curah hujan, mata air, serta kemampuan ekosistem dalam menyimpan air melalui tutupan vegetasi.
“Boleh jadi, recharge (ketersediaan air) sebenarnya cukup, tetapi karena perilaku manusia yang merusak lingkungan sekitar sumber air. Jadi, airnya berkurang,” ungkap Budhi.
Mata air Kawasi menjadi salah satu sumber utama air bersih bagi masyarakat. Secara hidrogeologis, mata air ini berasal dari akuifer dangkal yang berada di kawasan hutan dan dataran tinggi Pulau Obi bagian timur.
Baca juga: Peringatan Hari Air Sedunia, Akses Air Minum Aman di Indonesia Masih Jadi Tantangan
Dalam observasi lapangan pada Juni 2025, Budhi mencatat adanya upaya pelestarian yang dilakukan, seperti menjaga daerah tangkapan air, membangun jaringan pipa distribusi ke permukiman, serta melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sumber air.
Pengujian kualitas air dilakukan secara berkala melalui laboratorium independen.
Hasil pengujian yang dirilis pada April 2025 menunjukkan sejumlah indikator berada dalam batas aman, antara lain pH sebesar 7,87, kadar Chromium Hexavalent (Cr-VI) yang sangat rendah (<0,005 mg/L), serta kandungan oksigen yang masih sesuai standar.
“Berbagai upaya pengelolaan air oleh perusahaan itu, menurut saya, sudah memadai,” ucap Budhi.
Ia juga menilai jalur mata air Kawasi tidak beririsan dengan sistem pengelolaan sedimentasi tambang, sehingga sumber air masyarakat relatif terlindungi dari dampak operasional.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya