Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
SOROT HILIRISASI

Merawat Sumber Air Kawasi di Pulau Obi demi Keberlanjutan Generasi Mendatang

Kompas.com, 24 Maret 2026, 12:53 WIB
Yakob Arfin T Sasongko,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com — Upaya menjaga ketersediaan air bersih di kawasan tambang menjadi tantangan yang tak terelakkan, terutama di wilayah terpencil, seperti Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. 

Di tengah aktivitas pertambangan nikel yang intensif, praktik pengelolaan air di wilayah ini dinilai menunjukkan sejumlah pendekatan yang patut dicermati.

Desa Kawasi memiliki luas sekitar 133 kilometer (km) persegi dan dihuni 1.281 jiwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023. Kebutuhan air bersih di wilayah tersebut cukup besar, mencakup keperluan rumah tangga, sanitasi, hingga aktivitas ekonomi. 

Pada saat yang sama, kawasan ini berdampingan dengan wilayah operasional PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) yang memiliki izin usaha pertambangan seluas 4.247 hektare (ha).

Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (UI), Tri Edhi Budhi Soesilo, mengatakan, keberlanjutan sumber air di kawasan tambang sangat bergantung pada cara pengelolaan lingkungan. 

Baca juga: Hari Air Sedunia 2026, Arab Saudi Siap Pimpin Solusi Krisis Air Dunia

“Menjaga sumber air tentu dapat diupayakan, bergantung pada bagaimana manusia memperlakukan alam,” ucap Tri Edhi Budhi Soesilo sebagaimana dilansir dari KOMPAS.id, Senin (2/3/2026). 

Menurut dia, pengelolaan air di sektor industri harus didasarkan pada prinsip neraca air, yakni keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan. 

Ketersediaan air ditopang oleh berbagai sumber, seperti sungai, danau, curah hujan, mata air, serta kemampuan ekosistem dalam menyimpan air melalui tutupan vegetasi.

“Boleh jadi, recharge (ketersediaan air) sebenarnya cukup, tetapi karena perilaku manusia yang merusak lingkungan sekitar sumber air. Jadi, airnya berkurang,” ungkap Budhi.

Mata air Kawasi dan pemanfaatannya

Mata air Kawasi menjadi salah satu sumber utama air bersih bagi masyarakat. Secara hidrogeologis, mata air ini berasal dari akuifer dangkal yang berada di kawasan hutan dan dataran tinggi Pulau Obi bagian timur.

Baca juga: Peringatan Hari Air Sedunia, Akses Air Minum Aman di Indonesia Masih Jadi Tantangan

Dalam observasi lapangan pada Juni 2025, Budhi mencatat adanya upaya pelestarian yang dilakukan, seperti menjaga daerah tangkapan air, membangun jaringan pipa distribusi ke permukiman, serta melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sumber air.

Pengujian kualitas air dilakukan secara berkala melalui laboratorium independen. 

Hasil pengujian yang dirilis pada April 2025 menunjukkan sejumlah indikator berada dalam batas aman, antara lain pH sebesar 7,87, kadar Chromium Hexavalent (Cr-VI) yang sangat rendah (<0,005 mg/L), serta kandungan oksigen yang masih sesuai standar.

“Berbagai upaya pengelolaan air oleh perusahaan itu, menurut saya, sudah memadai,” ucap Budhi.

Ia juga menilai jalur mata air Kawasi tidak beririsan dengan sistem pengelolaan sedimentasi tambang, sehingga sumber air masyarakat relatif terlindungi dari dampak operasional.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
Pemerintah
GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
LSM/Figur
Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Pemerintah
Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Swasta
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang
Pemerintah
Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
Pemerintah
Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
Pemerintah
Mengenal 'Micromanagement', Gaya Kepemimpinan 'Tirani' yang Bisa Rusak Sistem Kerja Perusahaan
Mengenal "Micromanagement", Gaya Kepemimpinan "Tirani" yang Bisa Rusak Sistem Kerja Perusahaan
LSM/Figur
Titik Panas Karhutla Kalbar Melonjak di Tengah Ancaman Godzilla El Nino
Titik Panas Karhutla Kalbar Melonjak di Tengah Ancaman Godzilla El Nino
Pemerintah
Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Swasta
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau