Pemanfaatan sumber air pun dipisahkan. Mata air Kawasi digunakan khusus untuk kebutuhan warga, sementara operasional industri memanfaatkan air permukaan dari Danau Karo. Perusahaan juga tidak menggunakan air tanah untuk kegiatan operasionalnya.
Baca juga: Hari Air Sedunia: Tujuan, Sejarah, dan Temanya
Danau Karo menjadi sumber utama air bagi kegiatan industri. Dengan luas hampir 1.000 ha, danau ini memiliki kapasitas debit sekitar 70.000 meter kubik per hari atau 2,1 juta meter kubik per bulan, yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional.
Dalam laporan keberlanjutan perusahaan, penarikan air permukaan untuk kebutuhan domestik dan pengelolaan nikel selama 2024 tercatat 41.169 megaliter (ML), atau sekitar 5 persen dari total penarikan air sebesar 867.835 ML.
Sebagian besar kebutuhan air operasional dipenuhi dari air laut, sehingga tekanan terhadap sumber air tawar dapat diminimalkan.
Selain itu, penggunaan kembali air di area operasional pada 2024 mencapai 10 juta meter kubik, menunjukkan adanya upaya efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya air.
Meski memiliki kapasitas besar, Danau Karo tetap memerlukan pengelolaan kualitas yang ketat. Budhi mengingatkan potensi eutrofikasi atau penurunan kualitas air yang dapat terjadi jika tidak diawasi dengan baik.
Pemantauan kualitas dilakukan melalui pengukuran parameter seperti logam berat (nikel, kromium, mangan), pH, kejernihan air, hingga kondisi biota perairan.
Baca juga: Ketinggian Banjir Rob Terus Naik dalam 4 Hari, Air Masuk Rumah Warga
“Jika terjadi penurunan populasi atau keanekaragaman hayati akuatik, hal itu dapat menjadi sinyal awal adanya akumulasi bahan berbahaya,” tulis Budhi dalam laporannya.
Untuk mencegah pencemaran akibat limpasan air hujan dari area tambang, perusahaan membangun sedikitnya 50 kolam penampung sedimen. Salah satu kolam terbesar, Tuguraci 2, memiliki luas 43 hektar dan kapasitas hingga 924.000 meter kubik.
Air yang tertampung di kolam tersebut diolah melalui instalasi pengolahan air limbah sebelum dialirkan kembali ke lingkungan. Sementara itu, material sedimen yang mengendap diangkat secara berkala dan dimanfaatkan untuk reklamasi lahan bekas tambang.
“Kolam ini sangat efektif menangkap aliran air di area perusahaan,” ujar Dickson Aritonang dari Tim Observasi Perkumpulan Telapak.
Namun demikian, ia menyarankan agar kapasitas kolam terus diperluas untuk mengantisipasi peningkatan volume limpasan, terutama saat musim hujan.
“Di sekeliling kolam juga perlu ditanami pohon yang berakar kuat. Ini berfungsi sebagai daya tahan kolam dan filterisasi alami,” ungkapnya.
Baca juga: Menjaga Mata Air dengan Tari Ledhekan dan Jatilan Jelang Akhir Bulan Rajab
Selain kolam sedimentasi, perusahaan juga menerapkan zona penyangga di sekitar badan air serta teknologi aerasi untuk menjaga kadar oksigen dan sirkulasi air.
Laporan hasil observasi Perkumpulan Telapak bersama tim peneliti dari UI dan Universitas Khairun (Unkhair) pada Juni 2025 mencatat bahwa pengelolaan lingkungan di kawasan tambang dilakukan secara terintegrasi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya