Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
SOROT HILIRISASI

Merawat Sumber Air Kawasi di Pulau Obi demi Keberlanjutan Generasi Mendatang

Kompas.com, 24 Maret 2026, 12:53 WIB
Yakob Arfin T Sasongko,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

Di area tambang, risiko seperti longsor dan lumpur dikendalikan melalui sistem drainase khusus, kolam pengendapan, serta pemantauan kualitas air permukaan secara rutin, termasuk sumber air masyarakat.

Pengelolaan air limpasan dilakukan dengan teknologi pengolahan seperti koagulan dan flokulan, sehingga air yang dilepas ke lingkungan memenuhi standar baku mutu. Lumpur hasil pengolahan dimanfaatkan kembali, antara lain sebagai media tanam dalam kegiatan reklamasi.

Selain itu, konsep pemanfaatan ulang material juga diterapkan melalui penggunaan slag sebagai bahan konstruksi, seperti paving block dan campuran media tanam.

Upaya reklamasi dilakukan secara bertahap dengan menanam vegetasi lokal seperti johar dan jabon, dengan proporsi spesies lokal dilaporkan mencapai lebih dari 60 persen, guna mempercepat pemulihan ekosistem. Perusahaan juga mengembangkan fasilitas pembibitan untuk mendukung kegiatan tersebut.

Baca juga: Ketika Mata Air Dikeramatkan demi Menjaga Konservasi Air di Salatiga..

Kondisi perairan dan aspek sosial

Observasi yang dilakukan oleh tim Universitas Khairun juga menilai kondisi perairan laut di sekitar Desa Kawasi dan Desa Soligi. Hasilnya menunjukkan bahwa parameter kualitas air, seperti pH, kekeruhan, total padatan tersuspensi (TSS), dan BOD masih berada dalam batas baku mutu.

Ekosistem pesisir, termasuk terumbu karang alami, terpantau dalam kondisi baik. Bahkan, ditemukan pula terumbu karang buatan yang dikembangkan dari material slag untuk mendukung keanekaragaman hayati.

Dari sisi sosial-ekonomi, aktivitas pertambangan turut membawa perubahan pada masyarakat, termasuk peningkatan peluang kerja dan pembangunan infrastruktur. Program pemberdayaan seperti kawasan edukasi “Salam Kawasi” juga dikembangkan untuk mendukung pertanian dan perikanan air tawar masyarakat.

Selain itu, laporan juga mencatat pentingnya komunikasi yang lebih terbuka kepada masyarakat. Hasil pemantauan kualitas lingkungan, baik air, udara, maupun reklamasi, dinilai perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. 

Edukasi lingkungan, termasuk melalui program sekolah, juga direkomendasikan untuk memperkuat kesadaran masyarakat.

Baca juga: Perkuat Ketahanan Lingkungan dan Ekonomi Warga, Bakti BCA Restorasi Mata Air dan Tanam 21.000 Pohon

Meski berbagai upaya telah dilakukan, pengelolaan sumber air di kawasan tambang tetap memerlukan kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah daerah.

Berdasarkan data BPS 2024, Halmahera Selatan masih memiliki tingkat akses air minum layak sebesar 84,3 persen, terendah di Maluku Utara. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan dan inklusif.

“Kita harus menjaga sumber air karena ini untuk kepentingan bersama,” lanjut Budhi.

Ke depan, konsistensi pengawasan kualitas air, penguatan kapasitas infrastruktur pengelolaan, serta keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting untuk memastikan keberlanjutan sumber daya air di kawasan tambang tetap terjaga.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau