Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Polusi Plastik Mulai Cemari Hutan Dunia

Kompas.com, 25 Maret 2026, 18:19 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Partikel mikroplastik dan nanoplastik disebut bisa menumpuk di hutan, menurut penelitian terbaru.

Para ilmuwan kebumian di TU Darmstadt di Jerman melaporkan temuan ini dalam studi yang diterbitkan di jurnal Nature Communications Earth & Environment, yang mana menyoroti bentuk polusi lingkungan yang selama ini luput dari perhatian.

Baca juga:

Studi ini menunjukkan, hutan tidak hanya terkena dampak dari sumber polusi lokal, tapi juga dari luar. Sebagian besar mikroplastik datang melalui udara dan secara bertahap menumpuk di tanah di hutan.

Menurut para peneliti, partikel plastik kecil ini pertama-tama hinggap di dedaunan di tajuk pohon bagian atas.

"Mikroplastik dari udara awalnya menempel di pucuk-pucuk pohon. Para ahli menyebut proses penyaringan alami ini sebagai 'efek sisir'. Setelah itu, partikel plastik ini akan jatuh ke tanah bersama air hujan atau saat dedaunan gugur," jelas Dr. Collin J. Weber dari TU Darmstadt, dikutip dari Science Daily, Rabu (25/3/2026).

Polusi plastik bisa menumpuk di hutan

Plastik bisa ditemukan di tumpukan daun dan dalam tanah

Partikel mikroplastik dan nanoplastik disebut bisa menumpuk di hutan, menurut penelitian terbaru.freepik Partikel mikroplastik dan nanoplastik disebut bisa menumpuk di hutan, menurut penelitian terbaru.

Setelah partikel mikroplastik dan nanoplastik sampai di dasar hutan, proses alami pun dimulai.

Pembusukan daun-daun yang gugur berperan penting dalam menjebak dan menyimpan mikroplastik di dalam tanah.

Para peneliti menemukan penumpukan plastik tertinggi ada di lapisan atas serasah atau tumpukan daun, tempat proses pembusukan baru saja dimulai.

Namun, plastik dalam jumlah banyak juga ditemukan jauh di dalam tanah.

Pergerakan plastik ke lapisan tanah yang lebih dalam ini tidak hanya disebabkan oleh pembusukan daun, tapi juga oleh aktivitas makhluk hidup, seperti organisme tanah yang membantu mengurai daun dan memindahkan partikel-partikel tersebut.

Untuk lebih memahami bagaimana mikroplastik terakumulasi, tim peneliti mengumpulkan sampel dari empat lokasi hutan di sebelah timur Darmstadt di Jerman.

Para peneliti kemudian meneliti tanah, dedaunan yang gugur, dan endapan atmosfer menggunakan metode baru yang dikombinasikan dengan teknik pemindaian cahaya (spektroskopi).

Selain itu, mereka membuat sebuah model untuk memperkirakan seberapa banyak mikroplastik yang masuk ke hutan dari udara sejak tahun 1950-an.

Hal ini membantu mereka menilai seberapa besar total polusi di dalam tanah hutan yang sebenarnya berasal dari sumber-sumber di atmosfer.

Baca juga:

Partikel mikroplastik dan nanoplastik disebut bisa menumpuk di hutan, menurut penelitian terbaru.Dok. Freepik/freestockcenter Partikel mikroplastik dan nanoplastik disebut bisa menumpuk di hutan, menurut penelitian terbaru.

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa mikroplastik di tanah hutan utamanya berasal dari udara dan guguran daun. Sumber polusi lainnya justru hanya memberikan pengaruh kecil," jelas Weber.

"Kami menyimpulkan bahwa hutan adalah indikator yang baik untuk melihat tingkat polusi plastik di udara. Konsentrasi plastik yang tinggi di tanah hutan menunjukkan banyaknya partikel yang menyebar luas melalui udara ke dalam ekosistem ini, berbeda dengan polusi langsung seperti penggunaan pupuk di lahan pertanian," imbuh dia.

Penelitian ini diklaim sebagai yang pertama yang secara jelas menunjukkan bagaimana hutan tercemar oleh mikroplastik dan menghubungkan pencemaran tersebut langsung dengan partikel yang terbawa melalui udara.

Sebelumnya, jalur penyebaran ini belum pernah dipelajari secara mendalam.

Temuan ini menjadi landasan penting untuk menilai bahaya mikroplastik bagi lingkungan, baik di udara maupun di tanah.

"Hutan sudah terancam oleh perubahan iklim, dan temuan kami menunjukkan bahwa mikroplastik kini bisa menjadi ancaman tambahan bagi ekosistem hutan," kata Weber.

Hasil penelitian ini juga berdampak bagi kesehatan manusia karena mempertegas bagaimana mikroplastik menyebar ke seluruh dunia melalui udara yang dihirup.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau