Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konservasionis Orangutan Birute Galdikas Meninggal, Ingin Dimakamkan di Kalteng

Kompas.com, 26 Maret 2026, 08:28 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ilmuwan perempuan sekaligus ahli primata dan konservasionis orangutan asal Kanada, Birute Mary Galdikas meninggal dunia di Los Angeles, Amerika Serikat.

Kabar duka ini turut disampaikan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, melalui unggahan di akun Instagramnya, Rabu (25/3/2026). Ia mengaku mendapatkan kabar tersebut dari anak Birute, Fred melalui pesan singkat.

Baca juga: 

“Indonesia kehilangan salah seorang putra terbaik yang bekerja keras dalam senyap selama puluhan tahun di pedalaman hutan Kalimantan Tengah untuk habitat orangutan," kata Raja Juli dalam unggahannya di akun @Rajaantoni.

Konservasionis orangutan Birute Galdikas meninggal

Ingin dimakamkan di Kalimantan Tengah

Fred sebelumnya sempat menceritakan sang ibu mengidap kanker paru yang membuatnya tidak bisa melakukan perjalanan jauh ke Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, meski kerinduan akan hutan Kalimantan sangat besar.

Dia juga menyinggung adanya wasiat khusus dari Birute terkait tempat peristirahatan terakhirnya.

Birute ingin dimakamkan di tanah Dayak, Kalimantan Tengah, berdekatan dengan pusara suaminya yang telah lebih dulu berpulang.

"Saya kembali mengonfirmasi kepada Fred apakah jenazah akan dibawa ke Indonesia. Fred membenarkan dan akan mengurus administrasi penerbangan jenazah dari LA (Los Angeles) ke Jakarta di KJRI AS," tutur Raja Juli.

Pemerintah melalui KBRI di Washington DC dan KJRI Los Angeles kini tengah berkoordinasi untuk memfasilitasi pemulangan jenazah Birute ke Indonesia sesuai dengan permintaan terakhirnya.

Keindahan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, yang menjadi habitat orangutan, lanjut dia, merupakan hasil kerja keras Birute.

Raja Juli menggambarkan sosok konservasionis berusia 70 tahun itu sebagai perempuan berhati keras dengan komitmen yang tinggi.

"Selamat jalan Bu Birute. Terima kasih atas jasa dan kerja kerasmu selama ini. Requiescat in pace!," tulisnya.

Baca juga:

Bermimpi mempelajari orangutan sejak muda

KLHK melepasliarkan empat individu orangutan Kalimantan pada Kamis (13/6/2024). Birute Mary Galdikas, konservasionis orangutan Kalimantan meninggal dunia dalam usia 70 tahun. Simak profilnya berikut ini.Dok. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK melepasliarkan empat individu orangutan Kalimantan pada Kamis (13/6/2024). Birute Mary Galdikas, konservasionis orangutan Kalimantan meninggal dunia dalam usia 70 tahun. Simak profilnya berikut ini.

Birute merupakan pendiri Orangutan Foundation International (OFI). Sedari muda, ia bermimpi pergi ke hutan-hutan Asia Tenggara dan mempelajari spesies kera besar yang paling kurang dikenal yaitu orangutan Asia.

Sebagai mahasiswa pascasarjana di UCLA, Birute bertemu paleoantropolog dan arkeolog Louis Leakey yang berjanji untuk membantunya.

Setelah hampir tiga tahun menunggu, akhirnya pada September 1971, Birute berangkat ke Indonesia lalu memulai studi panjang terhadap populasi orangutan liar mana pun dalam sejarah ilmu pengetahuan.

Selama perjalanan awal ke Kalimantan Indonesia pada tahun itu, Birute mengunjungi Jane Goodall, ahli primata di lokasi penelitian simpanse Taman Nasional Gombe, Afrika.

Jane Goodall, Diane Fossey, dan Birute memiliki mentor yang sama, yaitu Louis Leakey. Mereka kemudian disebut sebagai Trimates.

Pada 6 November 1971, usai bertemu Louis, Birute dan suaminya saat itu, Rod Brindamour, akhirnya tiba di tempat yang kini menjadi Taman Nasional Tanjung Puting.

"Birute Mary Galdikas dan Rod Brindamour tiba di tempat yang kemudian menjadi Camp Leakey setelah perjalanan perahu seharian penuh menyusuri Sungai Sekonyer. Mereka didampingi oleh tiga pejabat pemerintah Indonesia dan seorang juru masak setempat," dikutip dari laman resmi OFI.

Sekitar tiga minggu setelah tiba di Borneo, Birute bertemu dengan orangutan liar bernama Akmad yang baru saja ditangkap penebang kayu ilegal di daerah setempat. Akhmad dibawa ke Camp Leakey untuk rehabilitasi dan pelepasan kembali ke alam liar dengan aman.

"Saya dilahirkan untuk mempelajari orangutan karena mereka, seperti saya, adalah bagian dari hutan yang luas," ucap Birute.

Baca juga:

Birute juga mendapatkan sejumlah penghargaan antara lain

  • Penghargaan Kemanusiaan dari PETA (1990)
  • Penghargaan Pahlawan Bumi, Eddie Bauer (1991)
  • Daftar 500 Perusahaan Terkemuka Dunia, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (1993)
  • Daftar 500 Perusahaan Terkemuka Dunia, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (1993)
  • Penghargaan Chico Mendes, Sierra Club (1993)
  • Medali Peringatan Ratu Elizabeth II, Kanada (1994)
  • Doktor Kehormatan, Universitas Waterloo, Ontario, Kanada (1995)
  • Perwira, Orde Kanada (1995)
  • Penghargaan Kalpataru, “Pahlawan Lingkungan Hidup,” dari pemerintah Indonesia (1997)
  • Penghargaan Tyler untuk Prestasi dan Kepemimpinan Ilmu Lingkungan Dunia (1997)
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau