KOMPAS.com - Ilmuwan perempuan sekaligus ahli primata dan konservasionis orangutan asal Kanada, Birute Mary Galdikas meninggal dunia di Los Angeles, Amerika Serikat.
Kabar duka ini turut disampaikan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, melalui unggahan di akun Instagramnya, Rabu (25/3/2026). Ia mengaku mendapatkan kabar tersebut dari anak Birute, Fred melalui pesan singkat.
Baca juga:
“Indonesia kehilangan salah seorang putra terbaik yang bekerja keras dalam senyap selama puluhan tahun di pedalaman hutan Kalimantan Tengah untuk habitat orangutan," kata Raja Juli dalam unggahannya di akun @Rajaantoni.
Fred sebelumnya sempat menceritakan sang ibu mengidap kanker paru yang membuatnya tidak bisa melakukan perjalanan jauh ke Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, meski kerinduan akan hutan Kalimantan sangat besar.
Dia juga menyinggung adanya wasiat khusus dari Birute terkait tempat peristirahatan terakhirnya.
Birute ingin dimakamkan di tanah Dayak, Kalimantan Tengah, berdekatan dengan pusara suaminya yang telah lebih dulu berpulang.
"Saya kembali mengonfirmasi kepada Fred apakah jenazah akan dibawa ke Indonesia. Fred membenarkan dan akan mengurus administrasi penerbangan jenazah dari LA (Los Angeles) ke Jakarta di KJRI AS," tutur Raja Juli.
Pemerintah melalui KBRI di Washington DC dan KJRI Los Angeles kini tengah berkoordinasi untuk memfasilitasi pemulangan jenazah Birute ke Indonesia sesuai dengan permintaan terakhirnya.
Keindahan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, yang menjadi habitat orangutan, lanjut dia, merupakan hasil kerja keras Birute.
Raja Juli menggambarkan sosok konservasionis berusia 70 tahun itu sebagai perempuan berhati keras dengan komitmen yang tinggi.
"Selamat jalan Bu Birute. Terima kasih atas jasa dan kerja kerasmu selama ini. Requiescat in pace!," tulisnya.
Baca juga:
KLHK melepasliarkan empat individu orangutan Kalimantan pada Kamis (13/6/2024). Birute Mary Galdikas, konservasionis orangutan Kalimantan meninggal dunia dalam usia 70 tahun. Simak profilnya berikut ini.Birute merupakan pendiri Orangutan Foundation International (OFI). Sedari muda, ia bermimpi pergi ke hutan-hutan Asia Tenggara dan mempelajari spesies kera besar yang paling kurang dikenal yaitu orangutan Asia.
Sebagai mahasiswa pascasarjana di UCLA, Birute bertemu paleoantropolog dan arkeolog Louis Leakey yang berjanji untuk membantunya.
Setelah hampir tiga tahun menunggu, akhirnya pada September 1971, Birute berangkat ke Indonesia lalu memulai studi panjang terhadap populasi orangutan liar mana pun dalam sejarah ilmu pengetahuan.
Selama perjalanan awal ke Kalimantan Indonesia pada tahun itu, Birute mengunjungi Jane Goodall, ahli primata di lokasi penelitian simpanse Taman Nasional Gombe, Afrika.
Jane Goodall, Diane Fossey, dan Birute memiliki mentor yang sama, yaitu Louis Leakey. Mereka kemudian disebut sebagai Trimates.
Pada 6 November 1971, usai bertemu Louis, Birute dan suaminya saat itu, Rod Brindamour, akhirnya tiba di tempat yang kini menjadi Taman Nasional Tanjung Puting.
"Birute Mary Galdikas dan Rod Brindamour tiba di tempat yang kemudian menjadi Camp Leakey setelah perjalanan perahu seharian penuh menyusuri Sungai Sekonyer. Mereka didampingi oleh tiga pejabat pemerintah Indonesia dan seorang juru masak setempat," dikutip dari laman resmi OFI.
Sekitar tiga minggu setelah tiba di Borneo, Birute bertemu dengan orangutan liar bernama Akmad yang baru saja ditangkap penebang kayu ilegal di daerah setempat. Akhmad dibawa ke Camp Leakey untuk rehabilitasi dan pelepasan kembali ke alam liar dengan aman.
"Saya dilahirkan untuk mempelajari orangutan karena mereka, seperti saya, adalah bagian dari hutan yang luas," ucap Birute.
Baca juga:
Birute juga mendapatkan sejumlah penghargaan antara lain
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya