Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waspada Bias Gender dalam Interaksi Manusia dan AI

Kompas.com, 26 Maret 2026, 11:17 WIB
Add on Google
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Saat ini, marak agen AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) yang diberi identitas layaknya manusia. Selain nama dan suara, inovasi tersebut juga menggunakan label gender.

Namun, ada hal yang harus diperhatikan dari perkembangan tersebut. Menurut penelitian dalam jurnal iScience, manusia cenderung lebih mudah memanfaatkan atau mengeksploitasi algoritma AI berlabel "perempuan" dibanding "laki-laki".

Baca juga:

"Peserta lebih sering memanfaatkan agen AI yang diberi label perempuan dan tidak mempercayai agen AI yang diberi label laki-laki, dibandingkan dengan rekan manusia yang memiliki label gender yang sama, yang mencerminkan bias gender serupa dengan yang terjadi dalam interaksi antar-manusia," tulis penelitian tersebut, dikutip dari iScience, Rabu (25/3/2026).

"Temuan-temuan ini menegaskan pentingnya memperhitungkan bias gender dalam desain, kebijakan, dan regulasi kecerdasan buatan," tambah penelitian tersebut.

Bias gender dalam interaksi manusia dan AI

Eksperimen Prisoner's Dilemma

Para peneliti menggunakan eksperimen bernama Prisoner’s Dilemma, dengan melibatkan 402 peserta serta mitra agen AI, di antaranya berlabel perempuan dan laki-laki.

Dalam eksperimen ini, dua pemain harus memilih untuk bekerja sama atau bekerja sendiri, dikutip dari Live Science. Jika keduanya bekerja sama, hasil yang didapat adalah yang terbaik.

Namun, ada insentif untuk berbuat curang. Jika ada pemain yang bekerja sendiri, sedangkan pasanganmu ingin bekerja sama, kamu akan mendapat skor lebih tinggi.

Tindakan inilah yang para peneliti sebut sebagai eksploitasi, alias mengambil keuntungan di atas kerugian orang lain.

Studi tersebut menunjukkan, orang-orang cenderung 10 persen lebih mungkin untuk memanfaatkan mitra AI daripada mitra manusia. 

Namun, yang lebih menarik adalah pengaruh label gender di dalamnya.

Baca juga:

Mengapa AI "perempuan" lebih sering dimanfaatkan?

Studi terbaru menunjukkan, manusia cenderung mengeksploitasi AI berlabel perempuan. Bias gender ini bisa membahayakan teknologi masa depan.freepik Studi terbaru menunjukkan, manusia cenderung mengeksploitasi AI berlabel perempuan. Bias gender ini bisa membahayakan teknologi masa depan.

Peserta penelitian cenderung lebih mau bekerja sama dengan mitra AI perempuan. Alasannya karena mereka berharap agen AI tersebut juga akan bekerja sama.

Sebaliknya, peserta kurang percaya pada mitra AI laki-laki. Mereka ragu apakah mitra laki-laki mau diajak bekerja sama.

Ketidakpercayaan ini menciptakan efek unik. Mitra AI perempuan dianggap lebih kooperatif sehingga peserta justru merasa lebih "aman" untuk mengeksploitasi mereka.

Peserta merasa risiko mereka mendapat skor rendah jadi lebih kecil jika mengkhianati mitra AI yang "baik".

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Swasta
Lestari Forum 2026: 'Sustainability' Bagian dari Inti Bisnis
Lestari Forum 2026: "Sustainability" Bagian dari Inti Bisnis
Swasta
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
BUMN
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Pemerintah
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
LSM/Figur
Pemerintah Siapkan Kilang Avtur Ramah Lingkungan dari Jelantah
Pemerintah Siapkan Kilang Avtur Ramah Lingkungan dari Jelantah
Pemerintah
Panas dari Lalu Lintas Berdampak pada Kenaikan Suhu Kota
Panas dari Lalu Lintas Berdampak pada Kenaikan Suhu Kota
Pemerintah
Investor Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Pusat Data
Investor Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Pusat Data
Pemerintah
PBB Pilih 20 Kota Terbaik dalam Upaya Pengelolaan Nol Sampah
PBB Pilih 20 Kota Terbaik dalam Upaya Pengelolaan Nol Sampah
LSM/Figur
SmartBioBin, Tong Sampah yang Bisa Pisahkan Limbah dengan Sensor
SmartBioBin, Tong Sampah yang Bisa Pisahkan Limbah dengan Sensor
LSM/Figur
Harga Naik, Momentum Ubah Kebiasaan Pakai Plastik Sekali Pakai
Harga Naik, Momentum Ubah Kebiasaan Pakai Plastik Sekali Pakai
LSM/Figur
Pelaku Industri Dukung Program Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati
Pelaku Industri Dukung Program Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati
Swasta
AI di Kantor, Berpotensi Menumpulkan Kemampuan Berpikir Kritis Karyawan
AI di Kantor, Berpotensi Menumpulkan Kemampuan Berpikir Kritis Karyawan
LSM/Figur
Studi WWF-CSF: Pendanaan Sektor Perusak Hutan 14 Kali Lebih Besar dari Konservasi
Studi WWF-CSF: Pendanaan Sektor Perusak Hutan 14 Kali Lebih Besar dari Konservasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau