Penulis
KOMPAS.com - Saat ini, marak agen AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) yang diberi identitas layaknya manusia. Selain nama dan suara, inovasi tersebut juga menggunakan label gender.
Namun, ada hal yang harus diperhatikan dari perkembangan tersebut. Menurut penelitian dalam jurnal iScience, manusia cenderung lebih mudah memanfaatkan atau mengeksploitasi algoritma AI berlabel "perempuan" dibanding "laki-laki".
Baca juga:
"Peserta lebih sering memanfaatkan agen AI yang diberi label perempuan dan tidak mempercayai agen AI yang diberi label laki-laki, dibandingkan dengan rekan manusia yang memiliki label gender yang sama, yang mencerminkan bias gender serupa dengan yang terjadi dalam interaksi antar-manusia," tulis penelitian tersebut, dikutip dari iScience, Rabu (25/3/2026).
"Temuan-temuan ini menegaskan pentingnya memperhitungkan bias gender dalam desain, kebijakan, dan regulasi kecerdasan buatan," tambah penelitian tersebut.
Para peneliti menggunakan eksperimen bernama Prisoner’s Dilemma, dengan melibatkan 402 peserta serta mitra agen AI, di antaranya berlabel perempuan dan laki-laki.
Dalam eksperimen ini, dua pemain harus memilih untuk bekerja sama atau bekerja sendiri, dikutip dari Live Science. Jika keduanya bekerja sama, hasil yang didapat adalah yang terbaik.
Namun, ada insentif untuk berbuat curang. Jika ada pemain yang bekerja sendiri, sedangkan pasanganmu ingin bekerja sama, kamu akan mendapat skor lebih tinggi.
Tindakan inilah yang para peneliti sebut sebagai eksploitasi, alias mengambil keuntungan di atas kerugian orang lain.
Studi tersebut menunjukkan, orang-orang cenderung 10 persen lebih mungkin untuk memanfaatkan mitra AI daripada mitra manusia.
Namun, yang lebih menarik adalah pengaruh label gender di dalamnya.
Baca juga:
Studi terbaru menunjukkan, manusia cenderung mengeksploitasi AI berlabel perempuan. Bias gender ini bisa membahayakan teknologi masa depan.Peserta penelitian cenderung lebih mau bekerja sama dengan mitra AI perempuan. Alasannya karena mereka berharap agen AI tersebut juga akan bekerja sama.
Sebaliknya, peserta kurang percaya pada mitra AI laki-laki. Mereka ragu apakah mitra laki-laki mau diajak bekerja sama.
Ketidakpercayaan ini menciptakan efek unik. Mitra AI perempuan dianggap lebih kooperatif sehingga peserta justru merasa lebih "aman" untuk mengeksploitasi mereka.
Peserta merasa risiko mereka mendapat skor rendah jadi lebih kecil jika mengkhianati mitra AI yang "baik".
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya