Editor
KOMPAS.com - China berupaya memperkuat posisinya sebagai mitra strategis bagi negara berkembang, termasuk di Asia Tenggara, di tengah ketidakpastian pasar energi global,.
Salah satu yang dilakukan China adalah pengembangan energi terbarukan sebagai solusi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan energi kawasan Asia Tenggara.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan bahwa konflik yang terus meluas di Timur Tengah telah memberikan dampak langsung terhadap sektor energi, keuangan, perdagangan, dan transportasi global.
Baca juga: Punya Potensi EBT Besar, NTT Percepat Transisi Energi
“Perang yang terus meluas di Timur Tengah berdampak langsung pada energi internasional, keuangan, perdagangan, dan pelayaran, serta merugikan kepentingan bersama semua negara,” ujar Wang Yi pekan lalu, sebagaimana dikutip dari Reuters, Kamis (26/3/2026).
Ia menekankan bahwa sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, China bersama negara lain memiliki tanggung jawab menjaga stabilitas global, termasuk dalam sektor energi.
Di tengah kondisi tersebut, peluang kerja sama energi antara China dan Asia Tenggara dinilai semakin terbuka, baik dalam jangka pendek untuk menjaga pasokan, maupun jangka panjang melalui transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.
Secara umum, China menyatakan kesiapan untuk memperkuat kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara dalam menghadapi tantangan ketahanan energi di tengah gejolak pasar global akibat konflik di Timur Tengah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam kesempatan tersebut mengatakan situasi geopolitik saat ini telah mengganggu stabilitas energi global dan berpotensi berdampak pada pertumbuhan ekonomi dunia.
“Situasi di Timur Tengah telah mengganggu keamanan energi global,” ujar Lin..
Ia menegaskan pentingnya menjaga stabilitas kawasan, termasuk keamanan jalur pelayaran internasional yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia.
Baca juga: Targetkan Bauran EBT 2026 Capai 21 Persen, Pemerintah Kebut PLTS 100 GW hingga BBN
“Negara-negara terkait harus segera menghentikan operasi militer untuk mencegah ketidakstabilan regional berdampak lebih besar terhadap perekonomian global,” kata Lin.
Dalam konteks tersebut, China menyatakan komitmennya untuk bekerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara dalam mengatasi tantangan energi, termasuk melalui koordinasi kebijakan dan penguatan pasokan energi.
“China bersedia memperkuat koordinasi dan kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara untuk bersama-sama mengatasi masalah keamanan energi,” ujarnya.
Kerja sama tersebut dinilai penting mengingat kawasan Asia Tenggara dengan populasi sekitar 700 juta jiwa sangat bergantung pada impor energi, khususnya minyak. Kondisi ini membuat kawasan tersebut rentan terhadap gangguan pasokan dan lonjakan harga global.
Di sisi lain, langkah China membatasi ekspor bahan bakar seperti diesel, bensin, dan bahan bakar jet, serta pupuk berbasis energi, turut memengaruhi dinamika pasokan energi global. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas pasokan domestik.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya