Penelitian menunjukkan, setidaknya 10 hingga 40 juta metrik ton partikel mikroplastik dilepaskan ke lingkungan setiap tahunnya.
Apabila terus terjadi, angka tersebut akan berlipat ganda pada tahun 2040 mendatang.
"Plastik tidak pernah hilang, plastik hanya terurai menjadi partikel yang semakin halus," ucap dokter penyakit menular anak di Stanford Medicine, Desiree LaBeaud.
Partikel-partikel tersebut telah ditemukan di berbagai organ dan jaringan, termasuk otak, testis, jantung, lambung, kelenjar getah bening, dan plasenta manusia.
Selain itu, terdeteksi dalam urin, ASI (air susu ibu), air mani, dan mekonium atau feses pertama bayi yang baru lahir.
Studi lain mengungkapkan mikroplastik membuat ikan dan burung lebih rentan terhadap infeksi. Mikroplastik juga dikaitkan dengan perubahan biologis, termasuk peradangan, gangguan sistem kekebalan tubuh, kerusakan jaringan, perubahan fungsi metabolisme, perkembangan organ abnormal, dan kerusakan sel.
Tinjauan tahun 2025 terhadap penelitian Universitas California menyimpulkan, paparan mikroplastik diduga membahayakan kesehatan reproduksi, pencernaan, dan pernapasan serta menunjukkan adanya hubungan dengan kanker usus besar serta paru-paru.
Anak-anak, yang organ tubuhnya masih berkembang, justru berisiko lebih tinggi mengalami bahaya akibat paparan partikel plastik.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya