Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ruang Kerja Terbuka Bikin Otak Karyawan Bekerja Lebih Keras

Kompas.com, 27 Maret 2026, 15:25 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Otak karyawan di perusahaan dengan open-plan office (ruang kerja terbuka tanpa sekat) disebut bekerja lebih keras dibanding di perusahaan dengan private office (ruang kerja pribadi atau bersekat), menurut sebuah studi. 

Adapun pandemi Covid-19 mengubah dinamika dunia kerja, salah satunya dari kebutuhan ruangan, meja, dan kursi yang tidak terlalu banyak karena penerapan hybrid working, alias bisa bekerja di kantor dan di mana saja. 

Baca juga:

"Open-plan office merupakan tata letak yang umum ditemui di lingkungan kerja modern, tapi sifatnya yang terbuka dapat meningkatkan beban kognitif. Pod kerja dan ruang kecil tertutup lainnya telah diusulkan sebagai alternatif," ucap para peneliti, dilansir dari laman MDPI, Jumat (27/3/2026).

"Namun, bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa ruang-ruang terisolasi ini secara efektif mengurangi beban kognitif masih sangat terbatas," tambah para peneliti.

Otak karyawan bekerja lebih keras di ruang kerja tanpa sekat

Tak cuma kebisingan, tapi juga ada gangguan visual

Bekerja di kantor tanpa sekat dan terbuka ternyata meningkatkan beban kognitif otak. Simak penelitiannya berikut ini.PEXELS/PAVEL DANILYUK Bekerja di kantor tanpa sekat dan terbuka ternyata meningkatkan beban kognitif otak. Simak penelitiannya berikut ini.

Bekerja di kantor tak bersekat bisa berdampak pada otak karyawan. Salah satunya akibat kebisingan. 

Menurut penelitian tersebut, meski sudah berupaya mengabaikan gangguan, otak karyawan tetap harus mengerahkan upaya mental untuk menyaringnya.

Sebaliknya, otak karyawan akan bekerja lebih efisien ketika sebagian besar kebisingan dan gangguan visual dihilangkan.

Dilansir dari The Conversation, studi tersebut juga menemukan variabilitas yang jauh lebih luas di ruang kerja tak bersekat. Aktivitas otak beberapa orang meningkat secara dramatis, sedangkan yang lain menunjukkan perubahan moderat. 

Hal itu menunjukkan adanya perbedaan individu dalam menanggapi seberapa mengganggu ruang kerja tak bersekat. 

Temuan itu diperoleh dari riset dengan memasangkan alat elektroensefalogram (EEG) nirkabel pada 26 orang berusia antara pertengahan 20-an hingga pertengahan 60-an.

Pengujian EEG mengukur seberapa keras otak bekerja dengan melacak aktivitas listrik melalui sensor di kulit kepala.

Para peserta menyelesaikan tugas-tugas perkantoran simulasi, seperti memantau notifikasi, membaca dan membalas e-mail, serta menghafal daftar kata.

Setiap peserta dipantau saat menyelesaikan tugas di dua lingkungan berbeda yaitu ruang kerja terbuka dengan rekan kerja di dekatnya, serta ruang kerja kecil tertutup dengan panel kaca transparan di satu sisi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perhutanan Sosial di Sikka Hasilkan Produk Kopi Unggulan
Perhutanan Sosial di Sikka Hasilkan Produk Kopi Unggulan
Pemerintah
243 Perusahaan Raih Proper Hijau, Ini Daftarnya
243 Perusahaan Raih Proper Hijau, Ini Daftarnya
Pemerintah
 Prabowo: Krisis Global Buka Peluang Percepat Pengembangan EBT Nasional
Prabowo: Krisis Global Buka Peluang Percepat Pengembangan EBT Nasional
Pemerintah
Pertamina Raih 14 PROPER Emas dan 108 Hijau, KLH Soroti Peran Inovasi Lingkungan
Pertamina Raih 14 PROPER Emas dan 108 Hijau, KLH Soroti Peran Inovasi Lingkungan
BUMN
Estonia Tawarkan Kolaborasi untuk Transisi Hijau dengan Indonesia
Estonia Tawarkan Kolaborasi untuk Transisi Hijau dengan Indonesia
Pemerintah
Prabowo Bahas Percepatan Energi Terbarukan di Tengah Gejolak Timur Tengah
Prabowo Bahas Percepatan Energi Terbarukan di Tengah Gejolak Timur Tengah
Pemerintah
Belajar dari Rwanda, Konservasi Gorila Kini Jadi Sumber Devisa
Belajar dari Rwanda, Konservasi Gorila Kini Jadi Sumber Devisa
Pemerintah
WWF Usulkan Transformasi Pembiayaan Hutan Indonesia untuk Keberlanjutan
WWF Usulkan Transformasi Pembiayaan Hutan Indonesia untuk Keberlanjutan
Pemerintah
Tekanan Rantai Pasok Global Belum Mereda, Industri Didorong Bangun Ketahanan Sistem
Tekanan Rantai Pasok Global Belum Mereda, Industri Didorong Bangun Ketahanan Sistem
Swasta
Biofoam Bonggol Jagung, Cara Siswa SMAN 1 Blora Atasi Dominasi Styrofoam
Biofoam Bonggol Jagung, Cara Siswa SMAN 1 Blora Atasi Dominasi Styrofoam
Swasta
Kesenjangan Gaji Berdasarkan Gender Makin Lebar pada Tahun 2026
Kesenjangan Gaji Berdasarkan Gender Makin Lebar pada Tahun 2026
LSM/Figur
Rekor Global 2025, Kapasitas Energi Terbarukan Tumbuh 692 GW
Rekor Global 2025, Kapasitas Energi Terbarukan Tumbuh 692 GW
Pemerintah
Kompetisi Climate Impact Innovations Challenge Dibuka, Hadiahnya Capai Rp 15 miliar
Kompetisi Climate Impact Innovations Challenge Dibuka, Hadiahnya Capai Rp 15 miliar
Swasta
Awasi Perusahaan Tambang di 14 Provinsi, KLH Tak Segan Bekukan Izin Lingkungan
Awasi Perusahaan Tambang di 14 Provinsi, KLH Tak Segan Bekukan Izin Lingkungan
Pemerintah
Fellowship Tanoto Foundation Dibuka, Bisa Dapat Pelatihan hingga Uang Saku
Fellowship Tanoto Foundation Dibuka, Bisa Dapat Pelatihan hingga Uang Saku
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau