Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ada 273 Juta Anak Tidak Sekolah pada 2024 Menurut UNESCO

Kompas.com, 28 Maret 2026, 19:17 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tercatat ada 273 juta anak-anak dan remaja yang tidak bersekolah pada tahun 2024, menurut laporan terbaru UNESCO.

Angka ini bahkan belum termasuk sekitar 13 juta anak lainnya yang berada di 10 negara yang paling parah terkena dampak konflik atau perang.

Baca juga: 

Ratusan juta anak dan remaja tidak bersekolah

Laporan UNESCO tahun 2026 yang berjudul Access and equity: Countdown to 2030 menyoroti, satu dari enam anak usia sekolah di seluruh dunia tidak mendapatkan pendidikan.

Selain itu, hanya dua dari tiga siswa yang berhasil menyelesaikan sekolah menengah mereka.

Dilansir dari Down to Earth, Jumat (27/3/2026), kenyataan ini terasa sangat mendesak di Asia Barat saat ini. Sebab, ketegangan wilayah yang terus berlangsung memaksa banyak sekolah untuk tutup.

Akibatnya, jutaan anak tidak bisa belajar di kelas dan menghadapi risiko besar tertinggal jauh dalam pendidikan mereka.

Analisis ini pun memberikan penilaian tepat waktu mengenai sejauh mana kemajuan dunia dalam mewujudkan pendidikan yang adil dan merata bagi semua orang pada tahun 2030.

Baca juga:

Kekhawatiran utama dunia pendidikan

Tercatat ada 273 juta anak-anak dan remaja yang tidak sekolah tahun 2024, menurut laporan terbaru UNESCO. Apa saja hambatan lainnya?UNSPLASH/MChe Lee Tercatat ada 273 juta anak-anak dan remaja yang tidak sekolah tahun 2024, menurut laporan terbaru UNESCO. Apa saja hambatan lainnya?

Lebih lanjut, salah satu kekhawatiran utama dalam penilaian ini adalah bahwa sekadar bisa masuk sekolah saja tidak menjamin anak benar-benar belajar.

Meskipun jumlah pendaftaran SD sudah membaik di banyak negara, jutaan anak tetap tidak sekolah, terutama di wilayah miskin dan daerah konflik.

Anak perempuan, anak penyandang disabilitas, penduduk desa, dan pengungsi masih menghadapi hambatan besar yang membatasi mereka untuk sekolah maupun ikut belajar dengan baik.

Bahkan, bagi mereka yang sudah sekolah, banyak yang harus belajar dalam kondisi yang tidak layak seperti kelas yang terlalu penuh sesak, guru yang kurang terlatih, serta kurangnya buku dan alat belajar.

Hambatan-hambatan ini menyebabkan hasil belajar siswa menjadi buruk. Kesenjangan pendidikan ini mengancam pembangunan sosial dan ekonomi dalam jangka panjang, serta memperparah lingkaran kemiskinan dan ketidakadilan.

Kesenjangan digital

Tercatat ada 273 juta anak-anak dan remaja yang tidak sekolah tahun 2024, menurut laporan terbaru UNESCO. Apa saja hambatan lainnya?Dok. Freepik/jcomp Tercatat ada 273 juta anak-anak dan remaja yang tidak sekolah tahun 2024, menurut laporan terbaru UNESCO. Apa saja hambatan lainnya?

Laporan UNESCO turut menyoroti kesenjangan digital yang semakin nyata setelah berbagai guncangan global baru-baru ini.

Meskipun teknologi berpotensi memperluas akses dan meningkatkan kualitas belajar, jutaan pelajar masih belum memiliki perangkat, seperti laptop atau ponsel, koneksi internet, dan keterampilan digital.

Tanpa tindakan nyata yang terarah, pendidikan berbasis digital justru berisiko memperlebar jurang ketimpangan, bukannya menjembataninya.

Namun, terlepas dari segala tantangan tersebut, Laporan mencatat adanya pencapaian-pencapaian signifikan dalam pendidikan global selama beberapa tahun terakhir.

Beberapa negara berhasil memangkas angka putus sekolah hingga setidaknya 80 persen sejak tahun 2000. Beberapa negara tersebut, misalnya Madagaskar dan Togo untuk kategori anak-anak, Maroko dan Vietnam untuk kategori remaja, serta Georgia dan Turkiye untuk kategori pemuda.

Pada periode yang sama, Pantai Gading berhasil memotong separuh angka putus sekolahnya di ketiga kelompok umur tersebut.

Laporan ini juga menyertakan 35 studi kasus negara yang menceritakan faktor apa saja yang membuat kemajuan di beberapa negara lebih cepat dibanding negara lain yang kondisinya senada, serta apa yang menghambat negara lainnya.

Menjelang tenggat waktu tahun 2030, laporan pun menekankan perlunya tindakan yang lebih cepat. Pemerintah, organisasi internasional, dan masyarakat harus bekerja sama untuk mengatasi hambatan mendalam serta memprioritaskan kelompok yang paling rentan.

Kebijakan yang dibuat tidak boleh hanya fokus pada cara memasukkan anak ke sekolah, tetapi juga memastikan mereka tetap bersekolah, benar-benar belajar, dan berkembang.

Baca juga: 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Pemerintah
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya 'Windfall Tax' Diterapkan
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya "Windfall Tax" Diterapkan
LSM/Figur
Pengamat: Lingkungan Kerja 'Toxic' karena Supervisor jadi 'Raja Kecil'
Pengamat: Lingkungan Kerja "Toxic" karena Supervisor jadi "Raja Kecil"
Swasta
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau